Tiga Enam

447 Kata

Yogyakarta tidak akan pernah berubah—terutama pada tatanan letak kota yang sangat di junjung tinggi—kecuali pada kesibukan tertentu. Lalu lintas macet di jam-jam yang sudah secara nalar di hapal. Pukul tujuh pagi di mana semua orang akan berangkat ke kantor dan lima sore sekembalinya semua orang dari penatnya aktivitas. Untuk sementara Radit mengenang beberapa momen di mana hidupnya pernah tumbuh di sini. Mengelilingi kota ini tanpa lelah, tanpa mengenal waktu seolah esok akan tiada. Menyapa semilir angin pengap di jam macet yang dirinya tidak pernah perkirakan setelah lima tahun tidak pulang. Ya, menginjakan kaki di sini lagi, serasa semua kenangan berkumpul. Susah, senang, sedih bahkan tangis dan tawa ikut mengiringi. Semua terekam jejaknya di otak Radit. Lalu kini ada yang berbeda—ber

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN