Suasana makan yang tidak biasa terasa mencekam—bagi Senja. Pasalnya, yang mendominasi suara bunyi hanyalah dentingan sendok garpu. Sesekali saja Radit memberi perintah untuknya memakan beberapa sayuran guna memenuhi gizi kehamilannya. Suaranya juga tergolong keras, tidak peduli dan seakan-akan hanya mereka berdua saja yang makan. Barulah setelah kedatangan seorang perempuan muda yang Senja tafsir seumuran dengan Radit, suasana sedikit mencair. Perempuan itu pintar mencari obrolan terutama pada pria paruh baya yang merupakan Tuan Handoko. “Oh, Aterri sudah datang.” Begitu sapanya ramah. Tidak seperti sewaktu Senja datang dan hendak menyalami yang langsung diberi lengosan acuh. “Sudah makan?” Perhatian sekecil itu tidak luput dari Senja. “Mas Radit-mu sudah pulang. Sana.” Senja mengerutk

