Tiga Puluh

705 Kata

Radit baru saja menapaki lantai parkir di mana tempatnya mengajar. Ketika beberapa orang berpakaian serba hitam menghampirinya, langkah Radit tetap tenang. Berpura-pura tidak melihat ‘lahapan’ mereka yang terasa menguliti, kedua kakinya berhenti lantaran terhalangi. Berjumlah empat orang—serius—Radit ingin tertawa sangat keras. Keluarga Handoko tidak pernah main-main dalam hal apapun. Entah menangani masalah anak-anaknya yang bermasalah, karyawan yang menyeleweng bahkan sampai tidak segan-segan untuk menghantarkan nyawa pada kematian. “Mas Radit harus pulang.” Tujuan mereka hanya untuk ini. Tunduk dan patuh pada perintah sang Tuan, Radit mendecih jijik. Mulutnya terkatup rapat belum ada keinginan untuk menjawab. Satu pertanyaan saja yang terus bercokol; mereka itu apa tidak bosan dijadik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN