Dua Sembilan

627 Kata

Pagi harinya, setelah membantu dan menyalami Radit untuk pergi bertugas, suara bel rumahnya berbunyi. Alih-alih berpikir bahwa itu suaminya yang mungkin ketinggalan sesuatu, kening Senja berkerut. Mendapati seorang wanita paruh baya dengan senyum menawan sedang berdiri tepat di hadapannya. Pun dengan beberapa barang bawaan mewah ikut serta di belakang tubuh wanita itu. “Maaf. Cari siapa, ya?” Pertanyaan Senja justru di sambut dengan pelukan hangat diiringi bisikan: “mantuku cantik sekali.” Senja melongo. Bibirnya terbuka tapi tidak bersuara. Maksudnya, siapa sih yang nggak kaget di peluk terus dibilang mantu? Senja masih waras, serius. Ia tidak sedang dalam tekanan lantaran hamil apalagi stres. Tidak! No way! Tapi tunggu. Kedua mata Senja mengerjap. Ada yang dirinya lupakan sejenak d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN