Dua Delapan

492 Kata

Senja mondar mandir bak setrikaan panas. Kedua kakinya—padahal sudah sangat bengkak—bergerak lincah seolah-olah bukan beban. Sesekali decakan kasar terdengar. Tangannya terus membongkar barang di sekitar ruang tengah. Melihat hal itu, Radit hanya diam. Merasa kesal sekaligus bingung dengan sikap istrinya. Menjelang hari persalinan, Radit akui jika Senja kian aktif bergerak. Perasaan was-wasnya meningkat berkali-kali lipat. “Duhhhh ke mana, sih?!” gerutuan Senja membuat kepala Radit tertoleh. Melepas kaca mata bacanya, Radit berjalan mendekat. “Senja nyari apa?” “Huh!” Begitu balasnya yang membuat Radit mengerutkan keningnya. Emangnya salah nanya? “Ini tuh gara-gara Mas, ya!” Loh kok aku? Radit hendak menjawab, namun terhenti. “Mas tuh kalau ngajak main, bra aku jangan di buang sembar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN