Dua Tujuh

523 Kata

Hari Minggu selalu menjadi yang paling Radit tunggu. Meninggalkan sejenak aktivitas mengoreksi, merekap, menyusun laporan-laporan yang tiada habisnya, Radit mengembuskan napas kebebasan. Namun ada pengecualian di Minggu ini. Entah harus Radit tanggapi dengan perasaan senang dan bersyukur atau malah menahan dongkol. Tapi Senja mulai beraksi sejak beberapa hari yang lalu. Mungkin—sebaiknya—Radit bersyukur saja. Karena momen langka seperti ini tidak akan pernah terjadi dua kali—kecuali Senja mengandung lagi dalam waktu dekat. Dan sikap cemburunya melampaui batas. Radit masih sama tenangnya. Sedang Senja mulai menyenderkan kepalanya di bahu tegapnya dengan nyaman. Yang tiba-tiba Radit tangkap raut menahan tangis. Kali ini, apalagi salahnya? Radit menunduk. Menyematkan ciuman entah yang ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN