Pagi-pagi sekali sebelum adzan subuh berkumandang, entah perasaan dan dorongan dari mana, Senja terbangun lebih cepat dari biasanya. Hanya ada perasaan berbeda yang melingkupi pikirannya. Keinginan aneh yang sejak beberapa hari lalu ia tahan, kini kembali hadir. Kepalanya menoleh ke samping dan melihat lelapnya sang suami. Keinginan itu berkali-kali lipat kian menjadi. Membuat rasa pahit di tenggorokannya ketika dirinya menelan ludah. Napasnya mulai memburu pun dengan pikirannya yang terus mendorong untuk segera dituntaskan. Akal Senja tidak sepenuhnya bekerja dengan baik meski pertahanannya untuk tidak mengganggu istirahat Radit terus menggaung keras. Tapi tidak bisa. Dorongan yang menggejolak lebih kuat untuknya melakukan hal itu. Berpikir menimang apakah harus melakukannya, dengan pe

