Delapan

486 Kata
"Senja... menikah dengan saya?" Radit tertegun setelahnya. Mendapati dirinya berbicara seperti itu, terlihat bukan dirinya yang sesungguhnya. "Menikah dengan saya." Lagi. Radit hendak memukul mulutnya yang lancang berbicara tak sepatutnya. Bagaimana pun Senja adalah muridnya, dulu. Dan kini di pertemukan dalam keadaan dan kondisi Senja yang berbeda, Radit merasa trenyuh. Sisi kelakiannya menguar seiring berjalannya waktu. Melihat Senja yang benar-benar miris dengan kondisi hamil, Radit berpikir untuk mengambil langkah. "P-pak Radit?!" Senja tergagap. Ia sama terkejutnya seperti Radit. Ajakan Radit, entah apa yang pantas Senja sebut, dengan kondisi dirinya yang tidak layak, membuat aliran bening menetes dari sudut matanya. "Ya, saya serius." Radit meyakinkan. Tidak untuk dirinya saja namun juga pada Senja. "Mbak Aina..." "Dia memilih jalannya sendiri. Tapi bukan berarti kamu saya jadikan pelarian, bukan juga mau sok gantle. Saya hanya ingin bersikap jujur bahwa pernah mengukir namamu di hati saya." Senja terkejut. Tentu saja. Jadi selama ini tanpa Senja sadari, Radit memendam perasaan yang sama seperti dirinya. Lalu tiba-tiba Senja merasa sangat kotor. Adegan di mana malam dengan rinai hujan menghantarkan dirinya pada kondisi saat ini. Senja ingin menamai dirinya binal, murahan, dan kata-kata lain yang pantas. Tapi selayaknya sebuah ibarat, kalimat itu tidak membawa dampak pasti pada kondisinya. Faktanya, Senja menyerahkan keperawanannya hanya karena rasa frustasi. "Ini salah." Senja menggeleng. Air matanya kian deras membasahi pipi. Hidungnya memerah lantaran sakit menahan sesak. "Pak Radit ndak seharusnya kaya gini." "Aina memilih bersama mantan suaminya ketimbang bareng saya Senja. Coba bilang apa yang salah dengan saya sehingga Aina menolak saya?!" Radit meradang. Tanpa sadar suarnya naik satu oktaf. Kedua matanya memerah dengan d**a naik turun tak beraturan. "Harusnya Pak Radit berjuang sekali lagi." Radit berdecih. Merasa rendah dengan ucapan Senja. "Senja, saya mohon. Saya ingin memulai semuanya bersama kamu. Tolong." Ketika permohonan itu Radit layangkan, satu ingatannya terlempar jauh pada sebuah kutipan 'jangan memberi jika tidak ingin disakiti'. Sejatinya, manusia makhluk yang tidak sempurna. Berawal dari kata tolong, lalu akan muncul kalimat tolong pada permintaan kedua, ketiga, dan seterusnya. Selama ini, Radit selalu tercanang dengan kalimat itu. Tapi hari ini, sekali saja dalam hidupnya ia ingin egois dengan membuka diri pada Senja. Setelah keputusan mengecewakan yang Aina layangkan, rasanya Radit ingin berubah. Pada hatinya, pada hidupnya dan setiap keputusan yang akan di ambilnya. "Senja nggak baik buat Pak Radit. Senja..." "Kita bisa saling melengkapi Senja. Ketidakbaikan kamu bisa saya tutupi dan begitu juga sebaliknya." Radit menjeda. Sorot matanya menghujam penuh harap pada Senja. Meski kepalanya tertunduk, keremangan lampu yang menelisik masuk lewat celah-celah kedai bambu tidak menutupi kecantikan yang Senja pancarkan. "Kita bisa memulai semuanya dari awal. Semuanya Senja. tanpa embel-embel 'Pak' karena saya bukan lagi tutor kamu. Jangan juga berpikir saya mengutarakan ini karena kasihan dengan keadaan kamu. Tapi Senja, lebih dari apa pun saya tidak ingin anak ini kehilangan momen bersama Ayahnya. Saya tidak ingin anak ini cacat mental di olok-olok oleh temannya karena tidak memiliki Ayah." Senja tergugu di tempatnya. Mendengar penuturan Radit serta ajakannya menikah. "Saya juga butuh seseorang untuk mengurusi saya. Tapi bukan berarti kamu pembantu saya. Kamu istri saya." []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN