"Mas sudah pulang?"
Senja meraih tangan Radit dan mengecupnya.
"Kebetulan saja cepat. Aku tiba-tiba kangen sama mereka."
Senja tersipu mendengarnya. Satu bulan bersama Radit, Senja baru tahu bahwa mantan tutornya itu sangatlah romantis.
"Masih kecil," jawab Senja seraya mengambil alih tas kerja Radit. "Mas mandi dulu ya biar Senja siapin makan siangnya."
Hal lain yang sangat Radit sukai adalah Senja yang menyebut dirinya dengan namanya sendiri, meski terdengar manja.
"Tapi aku pengen ngobrol sama mereka."
Radit mengekori langkah Senja menuju ruang makan. Begitu kedua langkahnya terhenti, dengan cepat Radit mengungkung tubuh mungil istrinya.
"Perut kamu sudah kelihatan buncit kok. Padahal baru tiga bulan."
"He'em, Senja juga bingung. Apa karena dua ya?"
"Yang penting aku kangen sama mereka; Raja dan Ratunya," kekeh Radit mengusapi perut Senja. "Papa gemas loh nak sama kalian. Cepat gede ya."
Bukan Raja dan Ratu yang Radit kecup, melainkan Senja.
"Modus!"
"Salahnya kamu wangi sih!" seru Radit. Aktivitas membaui Senja terus berlanjut.
"Jadi Mas mau ya Senja bau, gitu?!" Suara Senja sedikit meninggi.
"Nggak boleh sayang. Nggak boleh teriak. Mereka kaget nanti."
Radit terus menciumi leher Senja. Lidahnya sedikit terjulur dengan hidung yang mengendus layaknya kucing.
"Boleh minta?"
Senja tersenyum. Paham dengan arah ke mana permintaan suaminya. Biar bagaimana pun, Radit tetaplah laki-laki dewasa dengan segala bentuk kebutuhan biologisnya.
"Senja istri Mas Radit," jawaban Senja seperti sebuah pernyataan yang langsung di mengerti oleh Radit.
"Kita bisa konsultasi dulu ke dokter."
Senja mengangguk. Membalikkan badannya dan melebarkan senyumnya. Di tatapnya secara intens manik gelap suaminya. Ada rasa bersalah yang bercokol di sana membuat Senja cepat-cepat menundukkan kepalanya.
Hal itu segera Radit tangkap. Senja minder, merasa bersalah, itu artinya.
"Aku tau Senja nyalahin diri sendiri. Nggak pa-pa. Kita bisa mulai semuanya dari awal, dari hal terkecil buat ngarungin bareng-bareng. Kita keluarga, Senja istri aku dan aku suami Senja. Jadi apa pun kesalahan kita di masa lalu, jangan sampai membuat masa yang akan datang jadi memburuk."
Senja merasa harus bersyukur. Kedewasaan Radit mengajarkan segala keterbukaan untuk dirinya. Meski belum sepenuhnya, tapi Senja berusaha memperbaiki semuanya secara perlahan.
"Hidup itu nggak ada yang bener-bener lurus Senja. Sama kaya, em, Senja masih suka minum dawet?"
Senja mengerutkan keningnya. Merasa aneh dengan pertanyaan yang Radit ajukan.
"Senja suka minum dawet karena apa? Manis?" Senja mengangguki. Tertarik dengan filosofi sederhana yang akan Radit terangkan. Sejak dulu Senja tahu, Radit tidak hanya pintar, namun juga cerdas.
"Mungkin kalo kita gak memahami makna sebenarnya, dawet ya cuma dawet. Minuman khas Banjarnegara dan bebas di jual di tiap daerah. Tapi coba Senja ingat-ingat lagi sensasi rasanya ketika di minum?"
[]