Sepuluh

421 Kata
Satu bulan yang lalu... Sebenarnya ada yang salah. Sangat salah dan patut untuk di salahkan. Kenapa? Pertama, langkah Radit yang menarik kesimpulan bahwa penolakan Aina adalah bentuk keinginan wanita itu untuk rujuk dengan suaminya. Padahal ada hal lain yang harus Aina sembunyikan dari Radit. Kedua, kesempatan melamar Senja. Di mana perasaan masa lalu pernah tumbuh lalu kembali timbul dengan kondisi Senja yang hamil. Ketiga, kegamangan Radit. Ia mencoba meraba perasaannya sendiri. Dulu, memang ya, pernah ada nama Senja di sana. Dulu saat memasuki rumah Keluarga Atmojo untuk pertama kalinya Radit terkesima. Akan keanggunan, kecantikan dan kecerdasan Senja dalam mengikuti sesi bimbingannya. Pernah Radit bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang akan ia lakukan tanpa Senja. Apa ia akan menemui jalan tentang sesuatu yang dirinya cari selama ini? Mungkinkah ia akan baik-baik saja dengan tetap mencintai Aina? Sekali lagi Radit mencoba meraba hatinya. Tak terelakkan jika perasaannya masih sama nyamannya dengan apa yang dulu ia rasakan bersama Senja. Tapi mungkin ini sedikit berbeda arah karena adanya bayi yang Senja kandung. Radit hanya menarik garis bawah secara cepat jika anak-anak lain tidak boleh merasakan apa yang dirinya rasakan dulu. Yang Radit pikirkan bukanlah apakah rasa untuk Senja masih sama atau keinginan untuk bersama Aina juga masih sama besarnya? Jawabannya tentu tidak. Di atas itu semua, dari keputusan yang di ambilnya, Radit hanya ingin Senja dan bayi-bayinya merasa aman dan terlindungi. Radit tidak ingin, masa kelam kecilnya di timpakan ke anak-anak lain. Radit tidak ingin, anak-anak lain merasakan cacat mental seperti apa yang pernah dirinya alami. Karena baginya, hidup dalam satu lingkup keluarga tanpa adanya peran seorang Ayah, sama halnya dengan mematikan pertumbuhan karakter yang sedang terbentuk. Di awal pertemuan, di bawah rintik gerimis, rasanya Radit ingin tertawa mendengar penjelasan Senja. Pun demikian, Radit mencoba memahami. Yang tidak pernah Radit bayangkan hanyalah kenekatan Senja keluar dari Keluarga Atmojo dan memilih bungkam siapa pelaku di baliknya. Radit tidak ingin menghakimi. Itu keputusan pertama yang Radit ambil. Bukan menarik secara paksa kondisi yang Senja tanggung. Radit lebih ingin memantapkan hati dan pilihannya. Senja masih bercokol di dalam hatinya. Di relung yang terdalam meski cinta masa lalunya masih bernaung. Tapi Senja masa depannya dan Radit ingin merangkai hari tua terindah bersama Senja di sore yang kelam. Ada hal lain yang tidak pernah bisa Radit bagi dengan Senja. Entah hari ini, esok atau bahkan setelah kehidupannya membaik. Siapa dirinya, bagaimana asal-usulnya, bagi Radit itu hal tersembunyi yang harus ia jaga. Senja tidak perlu tahu, pikirnya. Jika pun nantinya tahu, itu bukan sebuah bumerang untuk dirinya atau Senja di masa depan. Karena Radit sudah membuangnya jauh-jauh hari. Radit sudah melepas status yang sebenarnya seusai mempersunting Senja. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN