Perbincangan sore itu usai.
Baik Senja mau pun Radit larut dalam kegiatan masing-masing. Jika Senja dengan edisi menunggu suaminya mengaji, maka Radit dengan anteng akan melantunkan lafadz-lafadz Alquran di depan istrinya. Sesekali tangan kiri Radit akan bergerilya mengelusi perut buncit Senja seolah menghantarkan kebaikan di tiap baitnya.
Sesaat kemudian Senja terdiam.
Laki-laki di depannya ini, yang sedang mengaji menuruti keinginannya, mungkinkah jawaban dari segala doa-doanya selama ini? Laki-laki yang menerima dirinya meski kekurangan kentara terlihat. Laki-laki yang menerimanya tanpa sedikit pun meminta balasan. Laki-laki yang memberi warna baru di hidupnya, pada sesuatu yang belum pernah Senja terima di masa lalu.
Senja sadar, membahas, mengenang masa lalu tidak akan ada habisnya. Percuma juga berkubang pada rasa sakit yang tidak bertuan. Senja pernah merasakannya. Contohnya saja saat ia jatuh cinta pada Radit sebelum laki-laki itu mencurahkan segala keluh kesah cintanya yang tidak berbalas. Senja merasakan kesakitan itu. Lalu pada kesakitan lain yang membawanya pada sebuah keajaiban; hamil.
Awalnya, Senja tidak ingin percaya. Namun bergulirnya waktu Senja menerimanya. Seperti katanya tadi, berkubang dengan rasa sakit di masa lalu tiada habisnya.
"Mikirin apa?"
Sentuhan pada surai kelamnya menyeret Senja pada kesadaran. Kedua matanya terpaku pada senyum segaris yang menampilkan lesung pipi manis di wajah Radit.
"Lesung pipi Mas manis banget. Boleh Senja cium?"
Radit mengangguki tanpa berpikir panjang. Ia tahu hormon perempuan hamil yang sering berubah-ubah.
"Kulit Mas halus banget, sih?"
Entah sadar atau tidak, tangan Senja mengelusi rahangnya. Awalnya Radit menahan, tapi ia juga laki-laki normal yang membutuhkan pelepasan.
"Senja udah minum s**u?"
Pengalihan yang Radit ajukan jelas tidak berarti. Nyatanya Senja kian mendekat dan mengalungkan satu tangannya di leher Radit.
"Akhir-akhir ini Senja mau muntah tiap minum s**u," ujarnya, "tapi kalau di deket Mas enggak rasain eneg."
"Tunggu bentar, ya."
Radit mengecup kening Senja. Seri-seri merah dapat di tangkapnya. Melihat itu, degup jantung Radit kian meletup. Rasanya ada yang berdesir hebat di dadanya hanya karena semu di wajah Senja.
Dengan cepat, Radit bergerak memasuki dapur. Menuang s**u bubuk secukupnya dengan takaran air panas dan dingin yang pas. Lalu berderap melangkah ke ruang tengah di mana Senja menunggu.
"Ini, di minum, ya. Terus rebahan."
Senja menerima sodoran gelas yang Radit berikan. Menutup hidungnya setelah memandangnya lama.
"Kenapa gitu?"
"Baunya... aneh."
Radit terkekeh membuat Senja mengerucutkan bibirnya.
"Aneh gimana sayang?"
"Ya an... Mas ngomong apa tadi?"
"Aneh," ulang Radit.
"Setelahnya."
"Sayang?" Radit mengerutkan keningnya.
"Sekarang panggil Senja gitu boleh?"
Radit tersenyum. Agaknya merasa aneh dengan permintaan istrinya.
"Kita sudah nikah loh sayang." Radit mendekatkan gelas pada mulut Senja yang langsung di tolaknya. "Kenapa?"
"Ini nggak enak. Baunya aneh."
Radit mengalah. Memang tidak ada jalan lagi selain memaksa.
Di teguknya perlahan s**u putih itu. Dengan gerakan tangan, Radit menyuruh Senja membuka mulutnya. Membungkam bibir mungil Senja dan menyalurkan s**u itu.
"Ah, mereka manis-manis banget. Anak Papa bisa aja mintanya."
Senja tertegun. Jadi, harus ya begini?
[]