Dua Belas

430 Kata
Sesi pillowtalk selalu menjadi yang paling favorit bagi Radit. Dirinya bisa memeluk dan di peluk oleh Senja seraya mengelusi perutnya. Dengan posisi seperti ini pula Radit bisa bebas mengenang masa-masa awal mengenal Senja. Dan juga awal di pertemuan keduanya. Filosofi tentang bumi bulat itu benar adanya. Begitu pikir Radit. Radit mengalaminya sendiri. Awalnya ia berpikir, setelah terlepas dari Keluarga Atmojo, tidak akan ada lagi hubungan yang tertera di kemudian hari. Tapi Takdir Tuhan tidak pernah terlepas dari garisnya. Senja, istrinya, menjadi milik Radit yang sejak dulu begitu tabu untuk dirinya bayangkan. Walaupun kesiapan tentang siapa dan bagaimana kronologinya tidak Radit singgung, dirinya lebih dari tahu jika Senja membutuhkan perlindungan. Batin dan mentalnya jelas akan memengaruhi psikisnya. Terlebih dengan janin kembar yang terus berkembang setiap harinya. "Senja bisa home schooling." Mulai Radit. Membuka sesi obrolan menjelang terlelap menjadi satu-satunya cara agar Radit bisa leluasa mengenali jabang bayinya. Menurut beberapa artikel yang dirinya baca, bayi bisa mengenali kasih sayang Ayahnya bahkan ketika masih di dalam perut. Jadi Radit ingin menunjukkan sisi ini. "Mas udah siapin semuanya tinggal Senja kapan siapnya." Senja yang hendak terlelap kembali membuka matanya. Kepalanya terdongak menatap serius manik gelap Radit. "Mas Radit..." "Ya?" "Kenapa?" "Apanya sayang?” "Sebegitunya sama Senja." "Kita keluarga. Senja tanggung jawab Mas dan mereka anak-anak Mas." Senja bukan tipikal perempuan yang suka muluk-muluk. Bukan juga perempuan rewel yang selalu ingin mendengar ungkapan cinta. Baginya, menjadi sejarah dalam keseharian Radit sudah mampu membuatnya bersyukur. Melebihi apa pun, Radit adalah laki-laki terbaik yang di kirim Tuhan untuk menjadi suaminya. "Senja... ragu," jedanya. "Senja lebih mikir ke usaha." "Usaha apa?" "Dawet dan pasta, mungkin." "Kenapa itu?" "Minuman dan makanan kesukaan Senja. Senja bisa ngolah keduanya buat di jadiin kreasi." Respon Radit jelas lama. Kepalanya mundur sedikit dan menelisik keseriusan di wajah istrinya. Hembusan napasnya sedikit menggelitik wajah Senja membuat perempuan itu tersenyum sipu. "Mas nggak ngelarang," jawabnya, "tapi Mas juga mau Senja tamat sekolah. Gimana pun juga tantangan di masa depan lebih besar dari ini. Bukan Mas maksa kehendak sendiri atau bersikap egois. Mas percaya dengan kemampuan Senja. Tapi Mas pengen semua usaha Senja diiringi dengan pendidikan." Senja memajukan tubuhnya. Meringsek masuk ke dalam d**a nyaman yang selama satu bulan ini menjadi tempat kesukaannya. Penuturan Radit benar-benar dewasa. Terlihat tenang dan meyakinkan. "Mas tahu, Senja bakal jawab buat alasan kemandirian. Tapi sayang, kita keluarga. Apa pun itu coba buat konsultasi ke Mas." "Senja nggak mau ngerepotin Mas." "Ngerepotin apa?!" Radit melotot. Kesal dengan perkataan istrinya. "Uang buat buka usaha itu sudah ada. Tabungan Senja semasa ikut lomba di sekolah dulu." Radit mendengus. Menunjukan ekspresi kesalnya tanpa ditutup-tutupi. "Kita coba." Putus Radit pada akhirnya. "Dan Senja tetep home schooling sama Mas. Mas udah bilang sama pihak kantor kalo Senja murid Mas. Secara cuma-cuma.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN