Tiga Belas

550 Kata
Dalam kehidupan, lika likunya tidak pernah ada yang tahu. Garis Takdir Tuhan yang di torehkan di dalamnya bagaikan misteri membuat satu manusia pun tidak ada yang tahu, kecuali menjalaninya. Kenapa demikian? Karena dalam setiap perjalanan, yang membedakan hanyalah prosesnya lalu diiringi dengan berbagai masalah. Namanya juga diiringi, sudah jelas tertera sedih, bahagia, menjadi satu. Membuka dan menutup segala kemungkinan. Tinggal bagaimana kita ingin mengemasnya. Ingin menjadi sosok yang lebih dewasa dengan terpaan berbagai masalah atau terus berdiam diri tanpa perubahan. Semuanya tergantung kita yang menjalani. Sejatinya Tuhan sudah sangat adil pun melimpahkan segala kemudahan bagi kita yang mau berusaha. Hal itu juga yang menyapa Senja. Berawal dari sebuah kesalahan, nyatanya Senja bangkit dari kubangan masa lalunya. Meski tidak sepenuhnya menghapus jejak rekam dosa di masa lalu, namun hal itu bagaikan cambuk pelajaran untuk hari-hari Senja. Dan seiring berjalannya waktu, Senja memahami makna kehidupan yang sesungguhnya. Tidak mudah seperti yang di bayangkan tapi juga tidak sulit jika lapang dalam menjalaninya. Filosofinya seperti ini: Beda manusia, beda pula problemnya. Pun beda pula cara menyelesaikan masalahnya. Setiap perkara ada jalan keluarnya. Dari proses itu, karakter kedewasaan seseorang semakin terbentuk. Dengan berbedanya setiap masalah dan bentuk penyelesaiannya yang berbeda, tentu beda pula dengan hasil akhir yang menjadi keinginannya. Awalnya Senja memahami kalimat itu secara perlahan. Namun memahaminya saja tidaklah cukup tanpa terjun langsung untuk sebuah praktek. Menjalaninya secara langsung jelas berbeda dengan angan yang menjadi bayangannya. Jadi yang saat ini sedang Senja jalani adalah sebuah proses menuju penyelesaian. "Eh Raja dan Ratunya Papa." Suara Radit membuyarkan lamunan yang terlampau jauh Senja bangun. Kehadiran suaminya itu benar-benar sebuah keajaiban jika Senja boleh menyebutnya. Bagaimana tidak jika di usia kandungannya yang memasuki bulan kelima, Radit kian gencar menyebutkan panggilan 'Raja dan Ratu' untuk si jabang bayi. Memang, doa baik akan selalu menghasilkan yang baik pula. Senja paham betul artinya itu. Sejak mengetahui lewat foto buram yang Senja cetak di usia tiga bulan, dan dua buah biji seperti alpokat yang berdempetan, Radit begitu antusias memanggil mereka Raja dan Ratu. Lalu rencana Tuhan yang lainnya, seolah tahu harapan yang Radit panjatkan, hasil USG yang tercetak dengan jelas menampilkan dua jenis kelamin berbeda. Telak tak bisa di pungkiri seperti apa kebahagiaan Radit. "Mama sudah makan?" Maka berbeda pula panggilan untuk Senja. "Belum." Senja menunduk malu. Beberapa pasang mata yang menangkap keromantisan Radit, memancing para mahasiswa untuk kepo. Terlebih sebagian dari mereka pasti ada yang menjadi mahasiswa suaminya. "Biasaan!" celetuk Radit. Senja mengangkat wajahnya dan mengerucutkan bibirnya. "Malu ih Mas." "Kenapa?!" "Di lihat sama mahasiswa kamu." "Biarin! Toh Senja istri Mas. Ini kedai juga punya Senja. Suka-suka Senja dong mau ngapain juga." Selalu begitu. Radit tak bisa di patahkan setiap argumennya yang berdasar. Maksudnya, ucapannya itu benar. Ini kedai dawet pasta milik Senja. Dan Senja pemiliknya. "Senja makan, ya." Radit membujuk. Laki-laki berkemeja biru muda itu paham akan naik turunnya hormon kehamilan yang begitu memengaruhi. Juga tingkat sensitifitas Senja tiada duanya jika menyangkut pandangan orang. Terkadang Radit heran sendiri. Sebagian besar orang, khususnya perempuan, apa untungnya bagi mereka mendengar pendangan orang lain? Apa bagusnya dengan menerima pandangan orang terhadap kita jika jelas itu tidak seperti yang kita lakukan? "Tapi Mas..." Senja terdiam. Menundukkan kepalanya kian dalam. "Senja maunya di suapin Mas. Ini maunya dedek, bukan Senja sendiri." Alasan klise Senja langsung Radit sanggupi. Setelah merapikan mejanya yang berserakan kertas latihan Senja selama home schooling dan menjelang Ujian Nasional, Radit menggiring langkah istrinya ke ruang kerjanya. "Senja masuk. Mas ambilin makan dulu. Ada yang mau di cemil?" Senja menggeleng lantas melenggang masuk. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN