Empat Belas

350 Kata
Radit selalu mengajarkan pada Senja bahwa kebahagiaan tidak terbentuk juga tidak bertahan pada satu sisi. Artinya, kita tidak boleh terpatok pada satu kebahagiaan yang sedang di dapat. Tapi coba untuk melihat sekitar. Karena kebahagiaan yang terkadang terlihat begitu indah, belum tentu kebahagiaan yang sesungguhnya. "Jawaban Senja udah bener. Tapi coba pakai rumus yang lebih simpel lagi sayang." Radit menunjuk soal latihan Senja dengan telunjuknya. "Memangkas waktu." "Oke." Senja melempar senyum dan bergegas mencoret-coret rumus yang di maksud Radit. "Nah begitu. Lebih jelas, kan?" Senja menggangguk dan menatapi langkah Radit menuju dapur. Berselang lima menit, suaminya itu datang dan membawa segelas s**u hangat. "Masih mau di muntahin?" Senja mengangguk sekali lagi. Seperti tiap malamnya, Radit akan meminum sedikit demi sedikit s**u hamil itu dan menyalurkannya ke dalam mulut Senja. Hanya itu satu-satunya cara agar suplemen itu tidak keluar lagi. "Mas repot, ya?" Radit menggeleng dan mengulang adegan yang sama seperti tadi. "Nggak ada yang repot sayang. Kamu kenapa sih sungkan terus?" Jika sudah pertanyaan yang lebih tepatnya pernyataan Radit layangkan, Senja hanya bisa tersenyum. Merasa enggan, jelas. Pikirnya, itu membuang-buang waktu saja. Yang harusnya bisa ia minum langsung dan habis dalam satu kali teguk, kini lewat perantara. Beruntungnya Radit bukan tipe laki-laki yang mudah jijik. Walaupun sesekali Radit akan mencuri cium di sudut bibirnya, Senja tetap merasakan sungkan. Kehidupan pernikahan yang pernah Radit bayangkan dan dirinya alami jelas berbeda. Lain halnya ketika dirinya berada dalam satu ruangan dengan pasangan yang sudah menikah. Yang selalu ia lihat adalah kebutuhan saling mencukupi, melihat perkembangan anak-anaknya dan sudah. Seolah-olah ikrar dalam pernikahan terjalani dengan baik, maka tidak ada masalah. Toh wajar saja jika sebuah rumah tangga di terpa masalah. Di mana pun tempatnya, proses pendewasaan selalu di gembleng. Tapi Radit tidak ingin menciptakan pernikahan yang monoton semacam itu. Ia tidak ingin 'hanya' menjadi seorang kepala keluarga dan Ayah bagi putra-putrinya. Melebihi itu semua, ekspektasinya melalang dalam berbagai dimensi; bahwa dirinya harus menjadi Ayah yang bijaksana. Radit ingin belajar keras menjadi seorang suami sekaligus Ayah yang baik bagi anak-anaknya. Yang tegas tapi tidak galak. Yang memegang teguh pada setiap prinsip, tapi tidak otoriter. Lalu poin terakhir yang selalu Radit canangkan ialah tidak melepas apa yang sudah menurutnya baik. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN