Lima Belas

396 Kata
Kalimat 'belum tentu' dan 'tidak pernah' jelas berbeda makna. Dari segi mana pun kentara sekali perbedaannya. Sama halnya dengan angan setiap umat. Yang di rencanakan belum tentu bisa terjadi. begitu sebaliknya, yang tidak di rencanakan akan datang tiba waktunya untuk menyapa. Dalam kehidupan sehari-hari, hal semacam ini tentulah pernah terjadi. Seperti contohnya rejeki. Siapa yang bisa menolaknya? Siapa yang ingin membantah bahwa setiap garis kehidupan telah Tuhan tentukan? Ingin melawan? Ingin melangkahi? ingin menumpasnya saja? Barangkali kita lupa bahwa Sang Pencipta jelas di atas segalanya. Dia mampu membolak-balikan fakta, hati, kehidupan, perasaan dan segala perintilannya yang menyangkut dengan Takdir. Itu juga yang Senja renungkan. Mencoba mengingat apa-apa saja dan bagaimana perjalanan hidupnya, toh selama hampir dua bulan ini semuanya terlihat baik-baik saja. Baik-baik saja dalam artian yang sesungguhnya. Pertama, Senja mendapat dua bayi kembar sekaligus. Itu rejeki. Anak sejatinya titipan Tuhan. Jika Tuhan sudah menitipkan roh dalam bentuk janin dan membiarkannya tumbuh di dalam perutnya, artinya Tuhan percaya pada dirinya. Tinggal Senja saja yang memegang jawaban atas kepercayaan Tuhan. Kedua, menjadi istri Radit Anggoro bukanlah hal sulit. Suaminya itu amatlah sederhana, telaten, dan perhatian. Buktinya Senja diikut sertakan dalam bimbingan belajarnya walaupun harus home schooling. Dan Senja tidak mempermasalahkan itu. Baginya, mendapat kesempatan meneruskan belajarnya yang sempat tertunda, jelas jenis rejeki lain yang tidak bisa Senja lewatkan begitu saja. Tidak ada kesempatan kedua, begitu pikirnya. Kalau pun ada, arti dan rasanya akan lain dari kesempatan pertama. Ketiga, ini sedikit melenceng dari topik Takdir dan Kuasa Tuhan. Hanya saja, Senja sedikit was-was setelah beberapa hari ini ada orang yang berseliweran memantau rumahnya. Anehnya, itu dilakukan. ketika Radit benar-benar telah keluar dari rumah. Kemudian orang-orang itu akan berseliweran saja. Mengamati, memegang telinganya dengan bibir yang terus bergerak. Jika berniat ingin merampok, waktunya sangatlah tepat karena Senja berada di rumah sendiri dan komplek rumahnya terbilang sepi. Security akan mengecek beberapa jam sekali, itu pun di jam yang tidak tentu. Terkadang di jam sembilan pagi, lalu agak lama justru di sore hari. "Mikirin apa sayang?" Senja menoleh. Meninggalkan lamunannya yang sempat menguasai pikirannya. Di lihatnya Radit yang telaten mengaduk s**u hamilnya lantas meminumnya dan segera menyalurkannya ke mulut Senja. "Cepat gede anak Papa." Dan sesi terakhir mereka di malam hari berganti dengan Radit yang mengelusi perut Senja. Menciptakan interaksi hangat dengan 'calon' kedua buah hatinya. "Jangan banyak ngelamun sayang. Jangan juga banyak pikiran." Sejak dulu, Radit tahu jika Senja tipikal perempuan penurut. Maka mendapati anggukan istrinya yang begitu patuh mengantarkan letupan lain di hati Radit. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN