"Main cepat?"
Alis Senja berkerut. Ia paham betul apa yang di maksud oleh Radit. Bukan tidak mungkin jika ucapan itu menjorok ke sana. Berpelukan setiap malam, saling menyentuh walau dengan batas yang masih wajar, jelas membuat dorongan lain di diri suaminya itu mencuat. Senja bukan tidak mengerti. Ia sangat mengerti dengan kebutuhan suaminya itu. Hanya saja...
"Senja... sayang, masih ragu, ya?" tanya Radit hati-hati. Dialihkannya gelas ke sembarang arah dan mengusap surai Senja. "Nggak pa-pa kalau belum siap. Mas nggak maksa."
Kepala Senja kian menunduk. Berbagai spekulasi mulai menghampiri. Dan satu di antaranya yaitu; ketidakbecusan dirinya memuaskan suaminya.
Suaminya yang jelas-jelas sudah sah dan memiliki hak untuk dirinya, tapi Senja meragu untuk itu. Bukan pada hal lain namun pada kepercayaan dirinya yang telah luruh sebelum ini.
"Senja nggak pantes. Senja ngerasa berdosa banget sama Mas."
Jawaban itu sudah kesekian kalinya Radit dengar. Entah benar-benar jawaban atau hanya alasan untuk Senja menghindar dari sesi penyatuan yang sebenarnya. Radit ingin kecewa, sekali saja, malam ini.
"Mas bisa nunggu sampai Senja siap. Tidur, ya? Mas mesti ngecek lembar jawaban anak-anak les sore tadi."
Layaknya malam-malam sebelumnya. Radit juga akan menyingkir dari sesi yang seharusnya dan berkutat dengan kertas-kertas lembar jawaban di ruang kerjanya. Itu bohong karena Radit tidak serius mengecek lembar jawaban. Hanya tangannya saja yang mencoret kertas kosong sedang pikirannya berkeliaran ke mana-mana. Jika sudah puas, Radit akan merapikan dan kembali masuk ke dalam kamar. Bergabung bersama Senja, mengusap perut besarnya dan terlelap dengan damai.
[]
Di dalam Ilmu Sosiologi, manusia memiliki pengertian sebagai makhluk sosial. Yang seyogyanya membutuhkan pertolongan orang lain juga menggantungkan hidupnya pada orang lain. Bukan tidak mungkin hal itu menjadikan manusia untuk lebih tamak dan lupa rasa bersyukur. Dan dalam beberapa prakteknya manusia memang semacam itu; lemah, rakus, dan tamak.
Sifat itu juga yang kini bersemayam dalam diri Senja.
Sedikit pun, Senja lupa untuk bersyukur atas semua yang telah di milikinya. Senja tidak pernah mensyukuri nikmat apa yang telah Tuhan limpahkan. Senja tidak pernah bersyukur memiliki suami yang begitu sabar menghadapi dirinya yang egois dan tamak.
Dua bulan berjalan, usia kandungannya sudah memasuki bulan kelima dan Radit, suaminya, belum mendapatkan apa yang menjadi hak seharusnya.
Senja merasa bersalah, baru sebatas itu. Namun malam ini ada satu perasaan yang berkecamuk di pikirannya. Entah dari mana munculnya tapi keinginan berhenti dan menyerah tiba-tiba menggelayuti sudut hatinya.
Menghela napas, Senja teringat pada satu ucapan Radit di awal pertemuan bahwasannya ikatan pernikahan ini tidak bisa di gagalkan begitu saja. Apa pun yang terjadi, sejak awal Radit sudah mengikatnya. Sudah bersumpah tidak akan menyerah apalagi pada perceraian.
Senja gamang.
[]