Tujuh Belas

563 Kata
Senja mengalah. Ia tidak ingin menjadi lebih tamak lagi dengan membiarkan Radit sendiri. Bergegas bangun dari atas ranjangnya, Senja merapikan tampilannya. Melepas bra yang melingkupi dadanya, Senja sedikit memoles bibirnya dengan liptint warna natural yang selalu di sukai Radit. Kedua kakinya segera melangkah. Deburan dadanya bergemuruh seiring kedua kakinya melangkah. 'Huh! Kenapa sih kaya gini?! Padahal tiap hari juga ketemu sama si Mas.' Senja menggerutu dalam hati. Mencoba mengalihkan deburan yang menggemuruh di dadanya. Namun nyatanya, hingga tubuhnya berada tepat di ruang kerja suaminya, deburan itu tidak juga mereda. 'Nggak asik banget ini jantung.' Sekali lagi Senja menggerutu. Kali ini dengan mengeritingkan bibirnya berharap tangisnya tidak pecah. Tangan Senja bergerak mengetuk pintu hingga tiga kali. Tak mendapat jawaban, Senja melongokkan kepalanya dan mendapati tatapan Radit yang kebingungan. "Kok belum tidur?" Kepala Senja masih melongok ke dalam dengan badan di luar. Giginya menggigiti bibir dalamnya meredam gugup yang kian menjadi. "Senja, sayang k..." "Senja boleh masuk?" Radit mengangguk tanpa curiga. Kedua matanya menelisik setiap langkah dalam gerakan Senja. Lucu. Entah kenapa Radit menemukan kata itu untuk mesdeskripsikan tingkah Senja. "Senja minta maaf." Senja memulai. Tubuhnya sudah berada tepat di samping kursi kerja Radit. "Senja mau... maaf kalo agak telat ngurusin Mas." Radit tidak paham dengan ucapan Senja. Terlebih kalimat 'agak telat mengurusi' mendadak sangat ambigu di pendengaran Radit. Bukankah selama ini Senja selalu mengurusinya dengan baik dan telaten? "Mas masih pengen? Ayo kita lakuin." Senja dengan berani mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan Radit. Tanpa menunggu ijin dari suaminya itu, Senja bergerak memulai lebih dulu. "Mas nggak ngerti sayang." Itu benar adanya jika Radit tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Senja tidak menjawab. Perlahan sekali Senja memagut bibir Radit. Ia ingin memberi jawaban lewat gerakan bahwa dirinya siap. Meski terasa kaku, awalnya, namun berselang detik Senja bisa lebih rileks mencecap rasa manis bibir suaminya. Kecanggungan yang kentara juga tersalurkan ke Radit. Tubuhnya mendadak kaku. Meski ia tahu jawaban dari pertanyaan yang di layangkannya, rasanya Radit bersikap egois dengan bersikap seperti ini. Ia merasa kekanakan, padahal umurnya sudah melampaui batas mumpuni untuk membina rumah tangga. Lalu mendadak dadanya terasa panas dengan perbuatan Senja. Bukankah ini haknya? Bukankah Senja miliknya? Bukankah Radit juga berhak mendapatkan apa yang sudah dirinya miliki? "Itu maksud Senja." Pagutan Senja terlepas. Memberi efek kosong sesaat bagi Radit yang mulai mencandui bibir Senja. "Ini pasti telat banget buat Mas, kan?" Radit tersenyum sebagai respon jika penuturan Senja bukanlah asumsi yang benar. Juga senyumannya terlihat menggelitik lantaran Senja yang menyebutkan dirinya sendiri. Radit menyukai panggilan itu. Terasa menggemaskan di saat yang bersamaan. "Kita pelan-pelan aja. Semuanya nggak bisa instan sayang. Wajar kalau Mas keceplosan ngomong gitu. Mas normal. Butuh pelepasan juga. Tapi nggak semuanya bisa Mas dapat gitu aja. Ada perasaan Senja yang mesti Mas jaga." "Senja nggak kepaksa," jawab Senja cepat, lebih kepada memotong secara spontan. "Ini murni kemauan Senja sendiri. Atau Mas yang mulai ragu?" Artinya Senja di tolak, kan? Oh, jadi seperti ini rasanya—yang suaminya rasakan ketika Senja memeberi sebuah penolakan. Pasti hancurnya tidak kaleng-kaleng karena satu kali jawaban Radit nyatanya mampu membuat Senja kian kerdil. Tangan Radit bergegas menyentil dahi Senja. Hingga bunyi 'tuk' pertanda kerasnya sentilan, Senja meringis. Berselang menit kemudian Radit terdiam. Perasaannya tersentuh dengan kalimat tanya yang Senja ajukan. Ragu? Radit, hingga saat ini, belum sepenuhnya menemukan jawaban yang pas untuk hatinya. Apakah Radit benar-benar menempatkan Senja di hatinya? Apakah Senja benar-benar cinta yang selama ini dirinya kejar? Apakah Senja bisa menjadi ekspektasinya yang sama seperti dirinya mencintai Aina dulu? Yang pasti, ungkapan perasaan ini terlampau sulit bagi Radit yang terlalu nyaman memendam rasa. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN