Sepenggal nasihat menuliskan: di ujung jalan sana, seseorang yang peduli denganmu sedang menunggu.
Pernah membaca kutipan itu?
Jika ya, coba sisihkan waktu untuk memanjakan diri. Kenapa? Karena kita tidak bisa melulu berharap pada apa yang menjadi ekspektasi. Terkadang angan juga membohongi. Terkadang keinginan jika tidak di sinkronkan dengan kondisi, juga akan melampaui batas. Tidak beraturan, keluar jalur, berbenturan dan terberai.
Senja, pada dasarnya hanya seorang gadis polos. Bungsu dari lima bersaudara di Keluarga Atmojo itu sangatlah manja meski mandiri. Belum banyak ‘kerasnya hidup’ yang sesungguhnya untuk dirinya pelajari. Tapi kenyataan lain justru menguatkan hatinya untuk memijaki hasil pada apa yang pernah dirinya perbuat.
Ngomong-ngomong soal penyesalan, sejauh kakinya melangkah perasaan itu tidak pernah bercokol.
Tidak banyak yang tahu, doa syukur yang dirinya panjatkan pada Tuhan ialah hadirnya bayi-bayinya. Seperti ini; jika dulu ia tidak melakukan hal senonoh itu, apakah kekangan Bapaknya masih berlaku? Jika Senja tidak hamil, urusan sebuah pilihan saja, apakah Bapaknya masih turut serta mencampuri? Dan jika bukan Radit orangnya, apakah Senja akan baik-baik saja?
Tapi semuanya tercerai berai ketika satu cerita membayangi dirinya. Semuanya ia alihkan untuk rasa sakit yang bahkan mengatasinya saja harus melalui jalan pintas.
Senja pasti sangat bodoh dengan tindakannya. Namun lagi-lagi siapa yang peduli?
Hidupnya hanya miliknya. Dirinya hanya untuknya. Kesalahannya hanya untuk dirinya pun masa lalunya.
Mungkin Senja hanyalah gadis putus sekolah yang tengah mengandung. Di peristri oleh laki-laki yang memang benar sejak awal. Laki-laki yang mau menerimanya dengan terbuka. Laki-laki yang tidak pernah Senja bayangkan sejak awal. Laki-laki yang Senja pikir 'tidak bisa dirinya miliki' kini justru berada dalam lingkupan pelukannya.
"Kenapa belum tidur?"
Suara Radit menginterupsi. Mengalihkan lamunan Senja yang mendadak jadi seorang pemikir berat belakangan ini.
"Senja ganggu Mas, ya?"
Radit menggeleng, merasa tidak heran dengan pertanyaan yang selalu di balik pertanyaan oleh istrinya.
"Senja aneh akhir-akhir ini. Mau cerita?"
Hening sejenak. Lidah Senja mendadak kelu. Lehernya terasa kaku sekedar untuk menggeleng maupun mengangguk. Rasanya ini tidak perlu diperpanjang lagi. Sejak semalam, ada saja yang membebani pikiran Senja hanya karena satu keraguan, menurutnya.
"Senja, sayang." Panggilan Radit kembali terdengar.
"Oh, eh, enggak, Mas."
Jawaban Senja tidak benar-benar membuat Radit puas. Ada sisi ego lain di dirinya yang merasa tidak di hargai. Sebagai suami, Radit ingin mengetahui apa-apa saja yang menjadi beban dan pikiran istrinya. Lucu rasanya ketika Senja justru memendam perasaan dan memikulnya sendiri. Terlalu aneh jika pasangan, apalagi suami istri, tidak ada keterbukaan di dalamnya.
"Senja mau Mas tidur di kamar lain?"
Ekspresi wajah Senja memucat. Wajahnya terdongak dengan mata membulat penuh tanya; kenapa begitu lagi?
Ada perasaan asing yang menelusup ketika kalimat tawaran itu meluncur dari bibir Radit.
"Mas kasih waktu kalau Senja mau." Radit mengimbuhi begitu melihat raut lain di wajah Senja.
"Senja pikir ini udah selesai," jedanya. Gerakan Senja menjauh secara perlahan. "Nggak pa-pa kalau Mas Radit mau tidur pisah."
Yang Senja rasakan hanyalah murni keraguannya sendiri. Ini murni tentang penyesalan yang tiba-tiba merundung hatinya. Senja kira sejauh ini semuanya akan membaik. Walau tidak baik-baik saja, Senja berharap tidak ada ketamakan dalam hatinya. Tapi Senja tetap tamak. Senja tetap egois dengan berada di samping Radit. Hal yang tidak semestinya dirinya lakukan. Senja berpikir, menoleh ke belakang bahwa seharusnya ia tidak bertemu dengan Radit.
"Senja mikirin apa?" Radit tidak benar-benar serius dengan ucapannya. Sekarang ia tahu cara apa untuk memancing Senja. "Semalam kita baik-baik aja, kan? Atau Mas yang kasar sama Senja?"
Senja menggeleng. Wajahnya tertutup selimut tapi jelas terdengar redaman tangis yang membuat Radit meringis. Ia persis seperti om-om yang sedang menenangkan simpanannya.
"Katanya mau pindah kamar?"
Radit menghela napas. Melingkarkan tangannya di perut Senja seraya mengelusnya.
"Bilang sama Mama, Papa nggak serius," bisiknya, "Papa bercanda."
Senja hendak memberontak. Ada sensasi geli dan aneh setiap kali Radit mengobrol dengan bayi-bayinya.
"Bilang sama Mama, Papa nggak bisa tidur sendiri."
[]