Manusia memang rakus, lemah, enggan bersyukur dan selalu merasa kurang. Gambaran tentang manusia yang begitu rendah di banding iblis tidak bisa di sepelekan begitu saja.
Buktinya Senja juga tipe manusia yang seperti itu. Ia kurang bersyukur meski sudah memiliki Radit. Walau sah secara agama dan hukum tapi Senja menginginkan hal lain dari Radit.
Senja menginginkan Radit yang memberinya waktu untuk hal-hal yang seharusnya bisa dirinya penuhi. Senja ingin Radit lebih lama menunggu meski hati kecilnya terus memberontak. Senja ingin ini, Senja ingin itu dan semua hal yang bersangkutan dengan kurangnya rasa syukur.
Tapi Senja juga tahu ada tenggang waktu di mana dirinya harus melangkah maju. Seperti katanya beberapa waktu lalu; berkubang dengan masa lalu bukanlah suatu kewajaran.
Yang pada awalnya Senja pikir akan baik-baik saja dengan tenggang waktu, kini justru dirinya yang kelimpungan sendiri mencari keberadaan Radit. Agaknya memang benar ucapan suaminya jika dia tidak bisa tidur tanpa Senja. Lalu berganti dirinya yang sepenuhnya mencari letak candunya.
Lagi, untuk kedua kalinya Senja bergegas keluar kamar. Keputusan yang Senja ambil adalah mengalah. Setelah malam sebelumnya kejadian yang sama juga menimpa dan Senja pikir semuanya telah membaik. Namun tidak dengan keinginan Radit yang memberinya waktu untuk sendiri. Kenapa Senja merasa sangat gelisah?
Bukan karena kegiatan panas di malam yang lalu telah Senja jadikan awal dari percobaan untuk memulai segalanya dari awal. Bukan juga karena sikap Radit yang mendadak menjauh memberinya waktu. Radit, bisa Senja katakan sangat baik. Suaminya itu benar-benar membuat dirinya utuh dengan perlakuan lembut yang penuh memuja dan di cintai. Tapi Senja gelisah dengan satu pemikiran; bagaimana jika Radit berpaling? Apa Senja siap menerimanya? Apa Senja sanggup bertahan sendiri?
Sumber masalah itu sendiri sebenarnya ada pada Senja. Jika Senja mau sedikit saja membuka diri tidaklah mungkin kejadian seperti ini kembali terulang. Sejatinya Senja bisa mencurahkan perasaannya kepada Radit dan sepenuhnya percaya bahwa suaminya itu tidak akan pernah menjudgenya buruk.
Senja menghela napas beratnya. Di bukanya perlahan ruang tidur kamar lain yang Senja ketahui keberadaan Radit di dalamnya. Kedua tangannya saling meremas meredam gugup yang selalu melanda. Kedua matanya berpendar mendapati lelapnya Radit yang Senja tebak tidaklah nyaman. Biasanya, suaminya itu akan tertidur dengan memeluk dirinya.
Langkah Senja kian mendekat. Satu tangannya terulur menyibak poni rambut yang menutupi wajah Radit. Wajah itu masih sama seperti pertama kali perjumpaan mereka satu tahun yang lalu. Dan Senja di buat jatuh cinta dengan wajah malaikat itu. Tubuh Senja sudah bergelung masuk ke dalam selimut yang sama dengan Radit.
"Maaf," bisikan Senja terlampau parau. Ia baru menyadari ini jika pelukan Radit selalu menjadi tempat ternyaman.
"Hm." Radit menggumam. Ia tahu, Senja akan menyusulnya. Ia juga tahu Senja tipikal perempuan penurut. Buktinya, tawaran yang Radit ajukan menjadi bahan acuan untuk Senja cerna. " Tidur sayang." Radit baru mengetahui bahwa Senja selalu kesulitan untuk tidur jika tidak ada pelukan terlebih elusan di perutnya.
"Senja minta maaf." Sekali lagi Senja berucap. Menggigit kedua bibirnya kuat-kuat. "Senja gak pe-"
"Udah?" sergah Radit cepat. "Senja mau bilang apalagi? Nggak baik buat Mas? Nggak cocok buat Mas? Merasa buruk?" Radit menggeram. Sebisa mungkin menahan desakan emosi yang bergumul di dadanya. Bagaimana pun Senja adalah perempuan yang harus ia lindungi. Terlebih soal pilihannya yang telah mantap melangkah bersama.
"Kalau Senja berpikir begitu, gimana dengan Mas?" Radit tidak merubah posisinya. Masih dengan tangan yang mengelusi perutnya, Radit berganti melarikan bibirnya ke pelipis Senja. "Mas juga sama Senja. Kita sama. Kita sama-sama cacat di awal kebersamaan ini. Kita juga nggak cocok sejak awal. Tapi Mas mencoba membangunnya sekali pun sulit... Mas mencoba Senja."
Senja terisak mendengarnya. Ia begitu egois sampai lupa jika Radit juga manusia biasa yang memiliki perasaan. Ia terlampau jauh menyiksa Radit yang tanpa sadar menyalahkan dirinya sendiri.
"Mereka juga anak-anak Mas. Mereka nggak cuma butuh Senja tapi juga Mas."
"Maaf."
"Senja yang dengerin. Jangan kaya gini lagi, paham?"
[]