Dua Puluh

728 Kata

Tidak memilih dia, tidak juga memilih dirinya. Tapi untuk dirinya sendiri. Itu kalimat pertama yang Radit ingat. Terdengar percaya diri pada awalnya. Namun kini semua berubah. Layaknya busur panah yang siap melesat, cara kerja otak Radit terhenti. Tumpu pada satu kenyataan yang menggaung keras di pikirannya. Berbeda? Jika Radit pikir semuanya masih sama, itu jelas tidak. Karena setelah mendengar kesiapan Senja semuanya terasa lain. Hatinya, pikirannya dan terlebih soal pilihannya yang otomatis berganti haluan. Tidak ada Aina di sini. Tidak ada cinta masa lalunya yang bersisa. Semuanya berawal, bermula yang entah sejak kapan tidak pernah Radit sadari. Radit kembali berpikir. Tidak ada yang aneh karena sejak awal fakta telah bekerja, terlebih soal tindakannya yang memilih Senja dan menja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN