Empat Puluh

321 Kata

Senja heran. Melihat suaminya yang mendadak diam usai sekembalinya dari bekerja. Ini bahkan belum jam pulang mengingat pukul lima sore nanti isi pesan yang Radit kirimkan. “Mas kenapa?” Radit menggeleng. Menyurukan wajah di belahan leher istrinya, menelan aroma khas itu bulat-bulat, Radit menemukan ketenangan di sana. Di rumahnya. “Ada masalah?” Lagi Senja bertanya. Tangan kanannya menepuki punggung kokoh suaminya. “Cuma kangen Senja. Kangen juga sama Raja Ratu.” Senja blushing mendengarnya. Radit selalu tahu titik lemah dirinya dan tangan kekarnya merayap di perut bulatnya. “Mereka itu kenapa betah banget di dalam sini. Apa nggak mau ketemu papinya?” Aduh tambah merah saja pipi Senja. Detak jantungnya gila-gilaan jika Radit sudah memanggil dirinya dengan sebutan papa atau papi. Sejenak Se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN