Fania melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Dito. Ia melingkarkan lengan di leher Dito dengan erat. Tak berhenti sampai di situ, Fania menciumi wajah Dito dengan gemas saking bahagianya. “Thank you,” ucapnya dengan tulus. Matanya menyorot bahagia. “My pleasure. Tapi kita tetap harus break the news ke Ibu, Mama, sama Papa soal rencana ke Paris minggu-minggu ini. Biar mereka ada waktu buat mencerna berita ini.” Dito melarikan jemarinya di wajah Fania dengan sentuhan ringan. Kemudian memainkanujung rambut Fania yang tergerai. “Aku yakin mereka nggak akan terlalu senang soal berita ini. Karena kamu tahu sendiri kan, beberapa bulan belakangan mereka mulai nuntut kita berdua buat segera program hamil. Mwreka mau kita settle dan fokus sama keluarga.” Keantusiasan Fania soal Paris sedikit lenya

