Warning 18+ “Jadi aku bukan yang pertama buat kamu, ya?” tanya Fania dengan kernyitan samar di kening saat Dito berhasil menembus pertahanannya. Dito mengelus kening Fania dengan lembut. Ia mengabaikam pertanyaan Fania itu dan berkata, “Bilang kalau nggak nyaman ya.” Fania menggeleng. Ia memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. Menahan desakan untuk mendesah. “Rasanya ... aneh.” Dito memandangi wajah Fania yang memerah dan mulai muncul titik-titik keringat. “Mau berhenti?” “No, keep going. Slowly,” lirih Fania. Tangannya mencengkeram belakang kepala Dito saat laki-laki itu menyurukkan kepala di lekukan leher Fania. “God, you smell so good, Fania,” erang Dito. Sementara bibirnya mengecupi ceruk leher Fania, tangannya tak berhenti menyentuh dan meremas setiap jengkal tubuh Fania

