"Om Dedi?" Kaget Saka, melihat seketaris sekaligus sahabat papahnya itu.
"Om ke sini untuk mu Saka, Om tau di kantor kita adalah bos dan bawahan, tapi sekarang Om berdiri di sini sebagai orang tua mu, sebagai wali mu, congrats Son!" Saka berhambur memeluk Om Dedi.
"Terimakasih Om Ded, terima kasih banyak atas segalanya." Ucap Saka tulus tanpa terasa bulir air mata menuruni pipinya.
"Pi," panggil seseorang membuat kedua orang yang saling berpelukan melepaskan pelukannya dan menoleh ke sumber suara.
"Sye?" Bingung Saka mendengar Syelin menyebut om Dedi dengan sebutan papi. Syelin tersenyum kearah kedua pria itu.
"Papi kok gak bilang Sye sih? " Tanya Syelin pada Dedi ayah kandungnya.
"Sengaja sayang, Papi mau kasih suprise sekalian Papi mau ngewalikan Saka." Jawab Dedi.
"Papi juga gak bilang kalau Papi kenal Saka, Sye baru tau sekarang."
"Sama Sye, aku juga baru tau kalau kamu anak nya Om Dedi." Ucap Saka, Dedi terkekeh mendengar ucapan kedua remaja di hadapannya ini.
"Iya Om selama ini memang tidak pernah memberi tahu mu Saka, begitupun dengan Sye, jadi Saka, Om adalah Papi nya Syelin, kami memang tidak tinggal satu rumah, karena saya sama Mami nya Sye, sudah berpisah, dan Sye tinggal sama Maminya." Om Dedi menjelaskan pada Saka, Saka sempat kaget mendengarnya, pasalnya gadis bernama Syelin itu tidak sepeti anak yang orang tuanya berpisah. Tak pernah terlihat raut sedih di wajah imutnya.
*
*
*
Hari ini adalah hari perdana Saka pergi ke kantor sesuai jam operasional kerja, dengan semangat ia melangkah kan kaki memasuki gedung tinggi milik Papahnya itu.
Namun baru hendak melangkah masuk, satpam di perusahaan itu menghampiri Saka.
"Maaf Pak Saka, ada orang yang ingin bertemu Bapak." Saka sempat kaget mendengarnya, namun cepat-cepat ia menetralkan ekspresi wajahnya.
"Antar keruangan saya ya Pak, saya duluan."
*
*
*
Tok, tok, tok
"Masuk!" Dua orang masuk kedalam ruangan Saka,
"Maaf pak mengganggu, kedatangan kami kesini untuk menagih hutang Bapak, karena sudah jatuh tempo." Ucap lelaki yang berbadan besar, Saka mengerutkan keningnya mendengar kata hutang.
"Maaf Pak tapi saya tidak pernah berhutang pada Bapak." Jawab Saka. Orang itu menyerahkan sebuah map pada Saka, Saka mengambil map itu membukanya lalu membaca dengan seksama.
Mata Saka melotot ketika membacanya,
'Papa? Aku baru tau Papa pinjam uang sebanyak ini dan motor, dan mobil sebagai jaminannya.' Batin Saka tak menyangka, karena papanya tak pernah memberi tahu masalah ini pada Saka.
"Pak saya mohon, kasih saya waktu, untuk saat ini saya belum punya uang Pak." Mohon Saka.
"Maaf Pak, tidak bisa karena ini sudah jatuh tempo satu Minggu yang lalu, jika Bapak tidak bisa membayar maka dengan berat hati kami akan menarik mobil dan motor Bapak." Saka bingung karena ia tidak punya uang sebanyak itu saat ini, dengan terpaksa Saka melepaskan motor dan mobil yang telah di gadai oleh papanya.
*
*
*
Hari demi hari berlalu perusahaan yang awal mulai bangkit, kini harus kembali mengalami penurunan, uangnya habis untuk membayar hutang-hutang, setiap hari ada saja orang datang ke rumah atau pun kantor untuk menagih hutang, Saka dan Om Dedi sama-sama kaget, mereka tak menyangka jika papahnya banyak berhutang untuk modal perusahaan dan kebutuhan sehari-hari, bahkan om Dedi sendiri tak tahu menahu soal hutang-hutang papahnya Saka.
Saka memimijit kepalanya yang terasa pening.
Tok, tok, tok, suara ketukan di pintu menyadarkan Saka.
"Masuk!" Om Dedi masuk keruangan Saka, terlihat dari sorot matanya jika saat ini ia sedang resah.
"Ada apa Om Ded?" Tanya Saka.
"Perusahaan semakin turun Saka, kita sudah tidak bisa menggajih para karyawan,"
"Jual semua aset Om, untuk membayar semua gajih karyawan."
"Jika kita menjual Aset-aset, perusahaan ini akan lumpuh Saka."
"Mau bagaimana lagi Om? Saya sudah tidak punya pilihan, perusahaan ini sepertinya sudah tidak bisa di pertahankan." Ucap Saka pasrah, Dedi pun tak bisa berbuat apa-apa.
Satu Minggu setelahnya Saka tidak lagi pergi ke kantor karena perusahaan sudah tidak beroperasi lagi, gedung pun sudah di jual untuk membayar pesangon pekerja.
Ting tong, bel rumah berbunyi, bi Atik membuka pintu, tak berselang lama bi Atik kembali masuk dan menghampiri Saka yang sedang menyuapi mamahnya makan.
"Tuan muda, di depan ada orang yang mencari Tuan muda." Ucap bi Atik.
"Bibi tolong lanjutkan menyuapi Mamah ya, biar Saka kedepan dulu." Saka menyerahkan piring nasi ke bi Atik, setelahnya Saka berjalan ke depan menuju pintu utama rumah itu.
Ceklek.
"Selamat Siang Pak," ucap lelaki yang berdiri di hadapan Saka.
"Iya siang, cari siapa ya Pak?" Tanya Saka.
"Kami mencari pak Arsenal Wilson," ucap lelaki yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam.
"Maaf Pak ada keperluan apa ya?"
"Kami datang kesini untuk menyita rumah ini, karena Pak Arsenal meminjam uang pada kami dan rumah ini sebagai jaminannya, dan sekarang sudah jatuh tempo nya, jadi Bapak tolong di kosongkan rumah ini hari ini juga." Bagai di sambar petir di siang bolong, ternyata rumah yang di tinggalinya sekarang juga di gadai oleh papahnya.
"Pak saya mohon kasih saya waktu pak, saya bakal tebus kembali rumah ini tapi kasih saya waktu Pak~" mohon Saka.
"Maaf Pak tidak bisa, sesuai dengan perjanjian awal, jika Bapak tidak bisa menebus pada tanggal jatuh temponya maka rumah ini akan kami sita, lagi pula masa jatuh temponya ini sudah lewat satu minggu yang lalu, itu artinya hari ini Bapak dan keluarga harus angkat kaki dari rumah ini. Permisi." Kedua orang itu pergi setelah menempel sebuah kertas pertanda rumah itu telah di sita. Saka masuk kedalam rumah dengan raut wajah sedih.
'Oh Tuhan cobaan apa lagi ini? Sekarang kami harus tinggal di mana? Hanya ini yang kami punya,' lirih Saka dalam hati.
Saka menghampiri mamah dan bi Atik yang berada di dapur.
"Bi," panggil Saka. " Iya ada apa Tuan muda?" Tanya bi Atik.
"Rumah ini di sita, kita harus mengosongkannya hari ini juga, jadi Bibi bisa pulang ke kampung halaman Bibi, karena tidak mungkin saya tetap menahan Bibi sedangkan kondisi saya saat ini, seperti ini, rumah saja saya tidak punya, apalagi untuk membayar gaji Bibi," ucap Saka lesu.
"Terus Tuan dan Nyonya akan tinggal di mana?" Tanya bi Atik, Saka sempat terdiam sesaat, saat ini memang dia tidak tahu harus tinggal di mana, namun sedetik kemudian ia teringat sesuatu.
"Saya baru inget Bi, dulu Papah sama Mamah pernah cerita sama Saka, mereka mempunyai rumah di sebuah Desa, saya akan membawa Mamah ke sana Bi."
"Tapi apa Tuan muda tau alamatnya, jika Tuan mau, Tuan sama Nyonya ikut Bibi saja ke kampung halaman Bibi," ajak bibi, Saka tersenyum seraya menggelengkan kepala.
"Gak usah Bi, kami hanya akan menambah beban Bibi, Saka inget dulu Mamah pernah kasih liat foto rumahnya dan di belakang foto ada alamat lengkap rumah itu." Jawab Saka, Saka memang tak ingin merepotkan Bi Atik, sudah cukup Bi Atik membantu nya selama ini, ia tak ingin merepotkan wanita paruh baya itu.
"Yasudah jika itu keputusan Tuan muda, biar Bibi bantu berkemas ya Tuan," Tawar bi Atik, Saka mengangguk mengiyakan tawaran bi Atik.
"Bi Atik tolong bantu kemas barang Mamah aja, biar Saka kemas barang Saka sendiri," ucap Saka lembut.
"Siap Tuan muda."
*
*
Kini jam sudah menunjukan pukul dua siang, Saka dan bi Atik telah selesai berkemas, kini mereka berdiri di teras rumah dengan membawa barang masing-masing.
"Bi, terimakasih sudah banyak membantu keluarga saya, saya gak tau kalau gak ada Bibi, makasih ya Bi." Ucap Saka seraya memeluk wanita paruh baya yang telah di anggapnya sebagai ibu keduanya. Bi Atik pun membalas pelukan majikannya itu.
"Sama-sama Tuan muda," Saka menyerahkan amplop coklat berisi uang pada bi Atik.
"Apa ini Tuan?" Tanya bi Atik, "Ini gajih Bi Atik, terima ya Bi," ucap Saka.
"Gak usah Tuan, saya ikhlas Tuan, bukannya saya menolak rezeki, tapi Tuan lebih membutuhkan uang itu untuk saat ini, gajih Bibi bulan lalu masih ada kok Tuan, itu sudah sangat cukup." Ucap bi Atik menolak, Saka tersentuh mendengar ucapan dari pembantunya itu.
"Gak papa Bi, Saka masih punya untuk ongkos sisa penjualan gedung perusahaan tempo lalu, ini Bibi terima ya, tapi saya minta maaf Bi, ini hanya separuhnya saja, saya hanya bisa membayar setengahnya saja."
"Gak papa Tuan, terima kasih banyak, kalau gitu Bibi pamit ya," Saka menyalimi bi Atik, kemudian bi Atik pun melangkah meninggalkan Saka dan mamahnya di teras rumah besar itu.
Setelah Bi Atik pergi Saka mengambil selembar foto yang baru di ambilnya dari gudang tadi, saka membaca alamat yang tertulis di belakang foto itu.
"Mah ayok kita jalan, takut keburu malam," ajak Saka pada sang mamah yang planga plongo tak jelas, Saka pun menuntun mamahnya dan menarik satu buah koper di tangannya, Saka sengaja menggabungkan barang-barangnya agar mudah membawa.
*
*
*
Taxi online yang di tumpangi Saka dan Mamahnya mulai memasuki jalan yang sepi, di sekitarnya tak ada rumah warga satu pun.
Tiba-tiba mobil taxi itu berhenti . "Kenapa Pak?" Tanya Saka pada supir taxi itu,