Desa Tanjung sepuh

1608 Kata
"Gak tau ni Den, tiba-tiba mati mobilnya," ucap supir itu. Saka dan supir taxi itu keluar untuk mengecek, keadaan mobil. "Masih jauh ya Pak? " Tanya Saka. " Yah lumayan masih Den," jawab supir taxi itu. "Yaudah Pak sampai sini aja, biar kami lanjut jalan kaki saja." "Den, Aden serius ini jalannya sepi banget, serius mau jalan kaki?" Tanya supir memastikan, Saka mengangguk mengiyakan, " Iya Pak, kalau nunggu takut kemaleman, ini Pak ongkosnya." Saka menyerahkan ongkos taxi itu, lalu menuntun mamahnya turun dari mobil, supir itu pun membantu menurunkan koper yang di bawa oleh Saka. "Terima kasih Pak," ucap Saka. " Sama-sama Den, hati-hati ya," ucap supir itu. Saka pun mulai melangkah menjauh meninggalkan taxi itu. * * * Cukup jauh sudah Saka berjalan di jalan sepi. Mamahnya Saka terus meracau tak jelas semenjak berjalan kaki. "Mah, Mamah capek ya?" Tanya Saka. Mamah Saka hanya meracau tak jelas. "Mah sabar ya, semoga kita cepat sampai di Desa Tanjung Sepuh." Mamah Saka yang mendengar nama Desa itu langsung mengamuk. "Jangan Akhh! Jangan, jangan, jangan!" Teriak mamah Saka ia hendak kabur namun langsung di tahan oleh Saka. "Mah, tenang Mah, Mamah kenapa tiba-tiba ngamuk?" Tanya Saka yang heran dengan mamahnya. "Jangan! Jangan!" Hanya kata itu yang terus di ucapkan oleh mamahnya Saka. Saka berusaha menenangkan mamahnya dengan sedikit paksaan Saka menuntun mamahnya melanjutkan perjalanan, di perjalanan mamah Saka terus menerus memberontak, hingga membuat Saka kesulitan. "Mah tenang dong, Mamah kenapa Mah? " Tanya Saka frustasi. Saka beristirahat di pinggir jalan karena sudah cukup jauh mereka berjalan kaki. Sebuah mobil berwarna hitam Stop di hadapan Saka yang sedang beristirahat. Seorang lelaki paruh baya turun dari mobil itu, dan menghampiri Saka dan Mamahnya yang terus berkata jangan. "Mas Ibu nya kenapa?" Tanya lelaki paruh baya itu. Saka bangkit dari jongkoknya " Ibu saya memang seperti itu Pak, maklum kejiwaan Ibu saya sedikit terganggu." Jawab Saka ramah. Lelaki itu mengangguk-angguk paham "Oh begitu Mas, ngomong-ngomong Mas nya ini mau ke mana?" Tanya lelaki itu. "Begini Pak, saya mau ke desa Tanjung Sepuh, tapi tadi ada musibah sedikit taxi yang kami tumpangi mogok di tengah perjalanan tadi, terpaksa saya dan Ibu saya berjalan kaki." Jelas Saka. Lelaki itu sempat terkejut mendengar ucapan Saka menyebut nama desa Tanjung Sepuh. " Mas yakin mau ke Desa itu? Masih jauh Mas, kalau Mas mau, saya bisa mengantarkan Mas kesana, kebetulan saya akan melewati desa itu." Tawar lelaki itu, Saka tersenyum senang," Iya Pak, boleh kalau tidak merepotkan," "Nggak ngerepotin kok Mas, lagian sudah sore, bahaya Mas jika ke Desa itu waktu menjelang senja." Saka mengerutkan keningnya bingung, tak mengerti apa maksud lelaki itu. " Yasudah Mas, mari masuk, sini biar saya bantu masukan kopernya," sambung lelaki itu, Saka hanya tersenyum, dan membujuk mamahnya untuk masuk mobil, namun sang mamah terus memberontak sambil berkata jangan. Dengan sedikit memaksa akhirnya Saka berhasil membawa masuk mamahnya ke dalam mobil milik lelaki itu. Di perjalanan mamah Saka tertidur sehingga suasana menjadi tenang. " Mas nya dari mana? Mau ngapain ke desa itu?" Tanya sang pengemudi mobil yang tak lain adalah lelaki paruh baya yang menumpanginya. "Saya dari kota Pak, saya mau pindah ke desa asal kedua orang tua saya," jawab Saka seadanya, lelaki itu melirik Saka dari kaca, "Mas nya sudah tau belum rumor desa itu?" Tanya nya, Saka yang memang belum mengetahui hanya menggeleng, " Tidak Pak, sebenarnya saya pertama kalinya menginjakkan kaki kesini, saya tidak tau dan tidak pernah melihat desa Tanjung Sepuh itu, emangnya ada rumor apa Pak?" Tanya Saka yang penasaran. "Jadi di Desa itu beredar rumor tentang gadis menjelang senja, katanya jika menjelang senja akan ada sosok gadis berkeliaran di desa itu, dan siapa yang melihat nya akan mendapat musibah, jadi warga desa di situ tidak pernah berkeliaran jika sudah menjelang senja." Jelas lelaki itu, Saka yang mendengar cerita itu pun sedikit merasa takut, " Apa sosok gadis itu adalah hantu?" Tanya Saka, "Kami orang desa luar menjuluki desa itu dengan sebutan desa hantu, menjelang senja, rakyat desa itu dan rakyat desa-desa luar percaya jika sosok gadis yang sering muncul ketika menjelang senja adalah hantu," Saka melirik jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore, 'Aduh mana sudah mau senja, semoga keburu sampai.' Batin Saka. Mobil itu berhenti di depan gerbang bertulisan ' Selamat datang di desa Tanjung Sepuh' . "Mohon maaf Mas saya cuma bisa ngantar sampai sini, tapi ini sudah sampai di depan desanya, Mas tinggal masuk saja ke dalam sana." Ucap lelaki itu, Saka tersenyum, " Iya gak papa Pak, sampai sini saja saya sudah bersyukur banget, terima kasih banyak ya Pak." Ucap Saka, kemudian ia membangunkan mamahnya yang masih tidur, mamahnya yang baru bangun itu belum sadar sepenuhnya hanya menurut saja ketika di tuurnkan. "Mari Mas," pamit lelaki itu seraya menjalankan mobilnya. Saka menatap sebuah gerbang yang menjulang tinggi di hadapannya ini, Saka menuntun mamahnya memasuki jalan tanah masuk ke dalam desa, di awal dekat gerbang masih tidak ada rumah orang kiri dan kanan hanya ada pepohonan saja, setelah beberapa meter barulah ada rumah-rumah warga, mamah Saka yang sadar ia telah memasuki desa Tanjung Sepuh langsung meronta-ronta sambil memegangi kepalanya. " Jangan! Pulang! Pulang!" Racau mamah Saka, Saka mencoba menangkan mamahnya, di rasa Mamah sedikit lebih tenang Saka melanjutkan langkahnya menyusuri desa itu, dengan sedikit tertatih ia menyusuri desa yang sudah sepi, tak ada rumah yang berbuka, semua rumah pintunya tertutup, bahkan suara berisik pun tak ada, desa itu sangat sepi, seprti tidak ada penghuninya, Saka melihat jam tangannya. 'Pantas sudah setengah enam.' Batin Saka, Saka pun mempercepat langkahnya dan mencari keberadaan rumahnya berbekal foto rumah itu. Desa itu cukup panjang, dengan jalan yang berbelok-belok, rumah-rumah banyak di tengah-tengah, sedangkan di bagian depan hanya ada beberapa rumah saja yang lumayan berjauhan, desa itu masih sangat asri, ada kebun dan sawah di sekitarnya, namun desa itu tidak mempunyai listrik, terlihat dari rumah-rumah warga yang masing-masing memiliki lampu obor di depan rumah. Hari sudah mulai petang, Saka terus menyusuri desa yang sepi itu, tak ada suara manusia hanya terdengar suara koper dan suara bebunyian binatang seperti jangkrik saja. 'Di mana sih rumahnya? Capek banget udah ini, mau nanya, nanya siapa gak ada orang!' batin Saka. Saka pun melanjutkan langkahnya seraya menarik tangan mamahnya, kini ia sudah memasuki jalan yang sepi, rumah-rumah warga sudah jarang sekali, ia terus melewati jalan sepi yang tidak ada rumah warga satu pun. Saka memperhatikan sekitar tak sengaja matanya menangkap sosok gadis berbaju putih di hadapannya. "Permisi," sapa Saka, mamah Saka memberontak, Saka menoleh ke arah mamahnya untuk menenangkan, namun ketika menoleh lagi ke arah gadis tadi, ternyata gadis tadi sudah hilang. "Kemana dia?" Tanya Saka keheranan, tiba-tiba Saka teringat dengan ucapan lelaki yang memberinya tumpangan tadi, seketika bulu kuduknya berdiri, Saka pun mulai melangkah kan kakinya lagi. Saka berhenti di depan sebuah rumah besar berbahan kayu, rumah itu terlihat sangat mengerikan dari luar, banyak tumbuhan liar Bakan jalan menuju rumah itu tertup oleh rerumputan liar, dinding-dinding rumah itu pun di jalari oleh tumbuhan, samping kiri dan kanannya masih hutan, rumah itu terletak di ujung desa, cukup jauh dari rumah-rumah warga. "Iya bener ini rumahnya," ucap Saka bermonolog sambil melihat selembar foto di tangannya, sedangkan mamah Saka langsung histeris melihat rumahnya itu. "Mah, mamah kenapa? Mah." "Jangan!! Pulang! Jangan!" Hanya itu yang di ucapkan oleh mamah Saka. Saka berusaha menenangkan sang Mamah, di rasa tenang, Saka mulai membersihkan jalan menuju rumah itu dengan sebatang kayu, suasana makin mencekam, hari sudah mulai petang, dengan berbekal senter ia mu lai membuka rumah itu. "Bismilah." Ceklek. Pintu berhasil Saka buka menggunakan kunci rumah yang ia temukan di gudang rumahnya. "Untung ni bener kuncinya," monolog Saka, Saka membuka perlahan pintu. Gelap , tak ada penerangan, karena memang hari sudah gelap. Saka masuk dengan menuntun mamahnya yang seperti orang ketakutan, koper sengaja di tinggal oleh Saka di teras, nanti akan ia ambil setelah ia telah membawa mamahnya masuk. Saka mengambil sebuah lilin yang ia bawa di tas ranselnya, dan menyalakannya, Saka memperhatikan setiap sudut rumah itu, ternyata masih ada perabotan rumahnya lengakap seperti sofa, lemari, dan lain-lain, semua perabotan rumah di tutupi oleh kain putih, hanya saja keadaan rumah itu kotor karena sudah lama tidak di tempati. Saka menyalakan lilin di setiap sudut, kini terlihat sudah ruangan itu walau sedikit remang-remang. Set. "Perasaan kayak ada yang lewat." Ucap Saka menoleh mencari sekelebat bayangan putih yang di lihatnya. "Ah mungkin salah liat." Sambungnya. Saka menarik kain yang menutupi sofa dan membersihkannya. "Mah, Mamah duduk di sini dulu ya, jangan ke mana-mana, Saka mau ambil koper di luar dulu." Ucap Saka, mamahnya hanya menurut dengan ekspresi takut. Saka pun meninggalkan mamahnya untuk mengambil koper yang ia tinggal di depan tadi. "Aaaaaaaaaaaa." Suara teriakan sang mamah membuat Saka kaget dan langsung buru-buru balik dengan membawa koper di tangannya. Sesampainya Saka di ruang tamu, alangkah kagetnya ia tak melihat mamahnya di sana "Mah!, Mamah!" Teriak Saka yang tak melihat keberadaan mamahnya di sofa, Saka berkeliling dengan senter di tangannya. 'Huuuu hiks huwuuu hiks~' suara tangisan terdengar di telinga Saka, Saka mengikuti sumber suara tangisan itu, Saka terus menyusuri rumah itu sampai di depan tangga menuju lantai atas, suara tangisan semakin nyaring, Saka mulai menaiki anak tangga, tangga itu bentuknya berbelok, jadi tidak bisa melihat langsung ke atas dari anak tangga pertama. "Mamah!" Kaget saka melihat mamahnya duduk menangis di anak tangga paling atas, Saka langsung buru-buru menghampiri mamahnya. Greb. Mamah langsung memeluk Saka yang baru tiba, " Mamah gak papa? Ayok kita kebawah,"ajak Saka, mereka pun mulai menuruni tangga, namun baru beberapa langkah mereka di kaget kan dengan suara barang pecah di lantai atas. "Itu dia! Itu dia! " racau mamah di pelukan Saka. "Tenang Mah, paling itu hanya tikus, kita turun ya, " ucap Saka menenagkan sang mamah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN