Lorong

1029 Kata
Saka terus menuntun mamahnya menuruni tangga, sampai tiba di sofa, Saka mendudukkan mamahnya di sofa dengan hati-hati "Mah, tunggu di sini ya? Saka mau bersihkan kamar buat Mamah tidur nanti," mendengar ucapan itu, Ariska mamah Saka langsung memeluk anaknya itu dan terus menggeleng-geleng kan kepalanya, " Jangan ! Ada dia!" ucap mamahnya, Saka tak mengerti apa yang di sebut oleh mamanya. 'Mamah gak bisa di tinggal sekarang, sepertinya malam ini biar tidur di sini saja, besok baru mulai berbenah rumah ini.' Monolog Saka dalam hati, Saka melihat jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan malam. " Gak kerasa udah jam sembilan malam, tapi kok sepi banget ya, kayak udah jam dua belas malam," "Yaelah bodoh banget sih lo Saka, ya sepilah ini kan di desa," sambungnya bermonolog. Tiba-tiba suara keras sperti suara pintu di banting dengan kuat membuat Saka terlonjak kaget. "Astaghfirullah!" Kaget Saka mendengar suara keras itu, "Mungkin angin." Ucap Saka mencoba menenangkan dirinya sendiri. Saka menatap mamahnya yang menguap ngantuk, " Mah, Mamah ngantuk ya? Makan malam dulu ya Mah, habis itu baru kita tidur," Saka mengeluarkan roti yang ia bawa di dalam tas ranselnya, Saka memang sengaja berbekal roti, untuk makan malamnya malam ini, karena tidak mungkin jika ia memasak sekarang. Saka menyuapi mamahnya roti dengan telaten, cukup banyak mamahnya makan, "Mah, maaf ya, malam ini Mamah makan malamnya cuma roti doang, tapi Saka janji, besok setelah Saka selesai berbenah Saka akan cari kerja di desa ini, buat beli makanan yang enak-enak untuk Mamah," ucap Saka dengan suara bergetar menahan tangis yang siap pecah kapan saja. Setelah selesai menyuapi mamahnya, Saka mengeluarkan selimut dan sarung dari koper, Saka membaringkan mamahnya di sofa lalu menyelimuti dengan selimut "Mah, malam ini tidur di sini dulu yah," setelah itu, Saka merentangkan sarung di bawah sofa mamahnya tidur, sebagai alas ia tidur malam ini. Saka berbaring di atas alas sarung yang ia gelar tadi dengan berbantalkan lengan ia mulai memejamkan matanya, namun baru beberapa menit ia terpejam suara gaduh di lantai atas membuatnya membuka mata lagi, "Untung Mamah gak terbangun," ucapnya seraya melirik mamahnya yang masih terpejam. 'Suara apa sih? Ribut banget,' Saka hendak naik ke atas melihat suara apa tadi yang ia dengar, namun ia urungkan, ia tak tega meninggalkan mamahnya sendiri di ruang tamu, Saka pun mencoba bodo amat denga suara-suara yang ia dengar, dan mulai kembali memejamkan matanya menyusul sang mamah yang lebih dulu berlayar ke alam mimpi. * * * Pagi telah tiba, malam yang mencekam penuh dengan bebunyian mengerikan berganti dengan suara burung-burung yang berkicauan merdu, secelah cahaya masuk kedalam rumah besar yang di tempati oleh Saka, hingga mampu membuat Saka yang tertidur terbangun karena silau dari cahaya matahari yang menerobos masuk. "Hoaaam~" Saka menguap, "Alhamdulillah sudah pagi," monolognya, matanya menelusuri setiap inci rumah yang sedikit terang karena terkena bias cahaya matahari yang masuk. "Mamah masih tidur ternyata,"Monolog nya melihat sang Mamah yang masih setia terpejam, Saka bangkit dari tidurnya, ia berjalan menyusuri setiap inci rumah, dari ruang tamu ia terus menyusuri hingga menuju dapur, Saka membuka jendela-jendela agar cahaya matahari masuk , sesampainya di dapur Saka memperhatikan dapurnya yang cukup kotor itu, namun barang-barang nya masih lengkap, "Ini pintu kamar mandi kali ya " Tanya Saka pada dirinya sendiri melihat ada sebuah pintu di dapur. Saka membuka pintu itu dengan perlahan, "Loh? Kok lorong? Lorong menuju kemana? Kamar mandi? Masa jauh banget pake acara nyusuri lorong, sempet kebelet kalau gini." Bingung Saka melihat ada lorong yang menuju ke suatu tempat. 'Coba masuk deh,' Saka mulai menyusuri lorong itu, ternyata lorong itu menuju bawah tanah, di ujung lorong ada tangga menuju bawah, Saka dengan rasa penasaran mulai menuruni tangga yang gelap kotor, suasana di dalam sana sangat mencekam, lembab dan sangat gelap, Sesampai nya di bawah ternyata ada sebuah ruangan setelah lorong tangga tadi, Saka mencoba membuka pintu ruangan itu, namun tidak bisa terbuka sepertinya di kunci dari dalam. "Di kunci? Tempat apa sih? Mungkin gudang. " Saka terkejut karena mendengar suara barang pecah di lorong yang ia lalu tadi, Saka buru-buru naik untuk melihat apa yang terjadi di lorong, sesampainya di lorong tidak ada apa-apa, "Perasaan tadi suaranya di sini," monolog Saka, "Apa aku salah dengar?" Saka pun keluar dari lorong itu, dan menutup kembali pintunya. Setelah keluar dari ruangan itu, Saka mulai membersihkan daerah dapur, ia mulai menyapu dengan sapu yang tergantung di dapur itu, dapurnya ini cukup luas, ada meja makan, serta lemari beserta isinya barang-barang pecah belah seperti piring, gelas,sendok,dan lain-lain bersih karena berada di dalam lemari, untung saja lemari itu tertutup rapat jadi piring-piring di dalamnya tidak kotor, hanya lemari luarnya saja yang kotor. Usai menyapu Saka mengelap semua barang-barang yang ada di dapur, "Gak ada kompor?" Monolog Saka yang dari tadi tak melihat ada kompor di dapur itu, matanya menangkap sebuah tungku api, "Oh mungkin masaknya di sini, kan di sini terpencil , listrik aja ngga ada." Ucap Saka bermonolog sendiri. Kemudian melanjutkan bersih-bersih dapur, kini dapur sudah terlihat bersih. "Astaga Mamah pasti laper mau sarapan, Saka masakin mie aja deh, " Saka berjalan ke arah ruang tamu di mana sang mamah masih terlelap, "Mamah pules banget tidurnya pasti karena kecapekan jalan kemarin, kasian Mamah." Perasaan sedih muncul melihat sang Mamah yang masih setia terpejam, Saka buru-buru mengambil mie yang ia bawa di dalam tas ranselnya, lalu kembali menuju dapur untuk menyiapkan sarapan buat sang mamah dan dirinya sendiri. "Untung masih ada kayu bakar," ucap Saka bersyukur, karena masih ada tersisa kayu bakar beberapa potong, untuk ia memasak mie. Di sela-sela ia sedang memasak, ia mendengar suara langkah kaki mendekat, "Mamah, udah bangun mah?" Tanya Saka yang masih asik dengan kegiatan memasaknya, "Mah," Saka menoleh ke belakang, namun ia tak melihat keberadaan sang Mamah, 'Kok gak ada? tadi yang jalan siapa?' Saka mengedarkan pandangannya namun ia tak kunjung menemukan keberadaan sang Mamah, 'Mungkin aku salah dengar.' Batin Saka. Ia pun melanjutkan kegiatan masaknya, hingga telinganya kembali mendengar suara kursi yang di tarik, Saka langsung kembali menoleh kebelakang namun sama, tak ada apa-apa, 'Ini telinga ku bermasalah apa gimana sih?' Saka kembali melanjutkan masaknya Selesai memasak Saka menaruh makanannya di meja makan, kemudian ia berjalan menuju ruang tamu untuk membangun kan mamahnya yang masih setia terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN