Harapanmu Tidak Terkabul

409 Kata
Rajendra mengurangi kecepatan mobil, masuk ke antrian di lobby luar, menatap sejenak pada gadis yang dengan gelisah menatap kerumunan wartawan diujung sana ,” Tenang aja, gak perlu jawab apa apa kalau kamu gak mau. Senyum kecil udah cukup.” Diraihnya tangan yang terasa dingin itu. Agastya tersenyum tipis Aku sudah bersedia pergi bersamanya ... dan ini yang harus aku hadapi. Tak sadar tangannya membalas genggaman tangan Rajendra. “ Yok.” Rajendra keluar dan membiarkan mobilnya dibawa petugas ,” Harapanmu tidak terkabul, jam segini mereka sudah standby. Ini rejeki anak sholeh” Bisiknya saat meraih tangan Agastya dan membimbingnya menunju kerumunan wartawan. Agastya tertawa kecil, sedikit mengurangi ketegangannya, disodoknya Rajendra dengan ujung siku. Rajendra tertawa ,” Hai ....” sapanya ketika mendengar namanya dipanggil. “ Kenalin dong ...” “ Siapa tuh Jen ?” dan beberapa pertanyaan senada dilengkapi dengan kilatan lampu kamera reflek membuat Agastya menunduk, tubuhnya merapat ketika Rajendra menariknya lembut, sedikit bersembuyi dibalik sosok kokoh itu. “ Ada deeeeh .... Kita masuk dulu yaaa.” Sahut Rajendra ramah ,” Tuh kan ... yang ditanyain tentang kamu ... gak ada tentang aku atau andra.” “ Khan .... harusnya kamu dateng aja sendiri.” Gerutu Agastya “ Sialan ...” desisnya kesal melihat Raya dan Dude menatap meraka sambil tersenyum lebar ,” Kalian udah dari tadi ?” “ Lumayan .... bisa ngamati kalian sejak keluar dari mobil. Ngapain pake nyungsep ke ketek gitu, bau tau ....” ledek Dude disambut tawa Raya dan Rajendra. Agastya segera meninggalkan mereka dan masuk ke lift begitu pintu terbuka. “ Cieeeeee, ngambek nih ?” Raya memeluk lengan sahabatnya. Dude tertawa, menatap Rajendra yang bersandar dengan dua tangan di saku celana. Percaya diri, nyaman, melindungi dan posesif terlihat jelas dari gerakan dan tatapan mata lelaki itu pada Agastya yang terlihat bahagia sekaligus tertekan pada saat yang bersamaan. Rambut tergerai, sedikit make up dan gaun putih sederhana itu membuat gadis yang biasa terlihat tegar dan ceria menjadi lebih lembut dan ... rapuh. “ Wow .....” Rajendra mengedarkan pandangan ,” Its great.” Diraihnya bahu Agastya. “ Kamu belum melihat bagian terbaiknya.” Sahut Raya ,” Dan sebagian besar yang hadir nanti akan menunjukkan ekspresi yang sama begitu keluar dari pintu itu.” Agastya tersenyum, melepaskan diri dari pelukan yang membuatnya nyaman itu ,” Aku final check dulu ya ...” bergegas dihampirinya anggota tim yang sudah bersiap mendampinginya memeriksa setiap detail acara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN