Rajendra mengambil tempat di sudut rooftop yang tertutup, memesan dua gelas kopi dan makanan ringan, mengamati gadis itu sibuk dengan tim nya.
Rambutnya yang tadi tergerai sudah diikat sekedarnya, baju panjang pink mudanya berkibar ditiup angin malam. Tertawa sendiri menyadari dirinya menikmati menjadi penonton dan penunggu, mulai bisa dimengerti bagaimana rasanya merasa ditemani dan menemani. Tatapan sekilas dan senyum gadis itu disela sela kesibukannya membuat semuanya memiliki arti. Diraihnya ponsel ... mengabadikan kehadirannya dalam beberapa foto dan video pendek , menyesal tidak membawa kameranya tadi.
“ Dingin.”
Agastya tersenyum ketika merasakan jaket diselimutkan ke bahunya ,’ Thanks.” Diterimanya secangkir kopi, sedikit bergeser memberi tempat pada Rajendra diatas peti perlengkapan ,” Kalo capek tinggal aja.”
Rajendra menggeleng, “ Lancar ?”
“ Ya ... syukurlah.” Diedarkannya pandangan sambil menyesap kopi ... menikmati kehangatan yang lebih disebabkan kehadiran lelaki disampingnya ,” Mudah mudahan besok cuacanya sebagus ini.”
“ Kalau tidak ?”
“ Selalu ada payungnya.” Agastya menunjuk bentangan kanopi yang tengah coba dikembangkan oleh tim nya ,” Sebentar ya.”
Rajendra menatapnya menjauh dan memberi instruksi pada tim nya ,” Ya .... halo ma.” Diangkatnya ketika ponselnya berdering ,” Lagi nemenin Tya.”
“ Dimana ?”
“ Nyiapin venue buat acara Andra besok.” Digerakkannya ponsel sehingga mamanya bisa melihat ,” keren banget deh.”
Mamanya tertawa ,” Konsepnya atau konseptornya ? Itu jaketmu kegedean dipake dia.”
Rajendra tergelak dan mengiyakan ketika mamanya menyudahi video call singkat itu, tanpa menyadari mata mamanya terlihat basah melihat putra kesayangannya bahagia.
Dan hari menjelang pagi ketika Agastya membangunkan Rajendra yang tertidur di bangku panjang.
“ Ups, sorry aku ketiduran. Jam berapa ini ?” Rajendra menggeliat, mendapati selendang lebar gadis itu menyelimutinya.
“ Jam tiga. Kamu gak dimarahin pulang jam segini ?”
Rajendra tertawa ,” Gak laaaah. Lagian mama udah tau aku disini.” Diterimanya segelas air putih yang diulurkan Agastya ,” Udah selesai ?”
“ Hampir .... tinggal pasang yang kecil kecil besok siang. Pulang yok.”
“ Yok .... .” diraihnya bahu Agastya.
“ Aku balik dulu ya .... Ntar siang Rommy ama Nita yang handel, kalau mereka datang kalian pulang istirahat.” Dilambaikannya tangan dan berjalan disamping Rajendra.
“ Ntar pas acaranya Ken, kita begadang lagi ya ....” Rajendra mengeluarkan mobil dari halaman hotel dan menyusuri jalanan yang lengang.”
Agastya tertawa ,” Tapi kamu bisa tidur di salah satu pondok, gak dikursi kayak tadi.”
“ Gak masalah, kamu belum tidur ya ?”
Agastya menguap lebar sambil menggeleng.
“ Jadi, aku jemput jam berapa ?”
“ Jam lima an .... ? Aku harus final check ... atau ...”
“ Jam lima.” Potong Rajendra cepat.
Agastya tertawa ,” Semoga jam segitu belum ada wartawan.”
“ Aku berharap sebaliknya.” Tergelak ketika melihat Agastya meleletkan lidahnya. Tangannya terulur mengacak rambut lebat itu, dan berhenti dipipi yang sudah mulai memerah ,” Istirahat deh ... biar seger, dan bagus di kamera infotaiment.” Godanya.
Agastya menjauhkan kepalanya ,” Makasih ya ditemenin. Sampe nanti sore, hati hati.” Dibukanya pintu dan ditutupnya kembali.
Rajendra melambaikan tangan dan berlalu sambil bersenandung.