Bab 7 Pasien Misterius

1065 Kata
Zefa tersentak dari kenangan masa lalunya ketika mendengar derit pintu yang terbuka. Ia sudah tahu siapa pemilik derap langkah kaki yang tegas itu. Dialah Reinhart Prajakusuma, pria yang datang sebagai karma dalam hidupnya. Ketukan di pintu membuat Zefa buru-buru menyambar bathrobe untuk menutupi tubuhnya. Saat keluar dari kamar mandi, Reinhart sudah berdiri di ambang pintu. Seolah sangat menantikan masa kehancurannya yang akan segera tiba. "Bagaimana, sudah mengambil keputusan?" tanya Reinhart dengan suara sedingin es. Tatapan matanya seolah ingin mengoyak habis wanita yang sudah tidak berdaya di hadapannya. "Aku...akan menikah denganmu," jawab Zefa dengan suara tertahan. Ia sudah pasrah menghadapi kenyataan yang ada. Sia-sia saja melawan Reinhart, karena cepat atau lambat ia harus membayar semua kesalahannya kepada Moreno. Mungkin lebih baik baginya menjalani penebusan dosa selama beberapa tahun sebelum memulai hidup yang baru. Hidup yang benar-benar terbebas dari rasa bersalah. Lagipula Zefa yakin pernikahannya dengan Reinhart tidak akan berlangsung lama. Seringai menyeramkan tercetak di bibir Reinhart. Kali ini ia sudah menjelma sebagai iblis berwajah malaikat. "Aku senang kamu menjadi wanita yang penurut. Kamu sama seperti penjahat yang dengan rela menyerahkan diri kepada polisi. Dengan begitu kamu bisa mendapat sedikit keringanan hukuman," tandas Reinhart berputar mengelilingi Zefa. "Aku sudah memanggil perias pengantin dan memesankan kebaya untukmu. Satu jam lagi mereka akan datang. Setelah itu kita akan ke rumahku untuk melakukan akad nikah." Rumah? Apa ini artinya ia akan bertemu dengan Rosana, ibunda Moreno. Ya, ibu Moreno pasti juga ibu kandungnya Reinhart karena mereka saudara kembar. Namun sanggupkah ia bertemu muka dengan wanita yang telah mengutuknya itu? Mengetahui kebungkaman Zefa, Reinhart menggiring wanita itu ke depan kursi rias. Ia mendudukkan Zefa dengan kasar lalu mengambil sisir. Dengan jari jemarinya, ia mulai menggerakkan sisir itu di setiap helaian rambut Zefa yang basah. "Sedang mencemaskan apa, Ze? Pernikahan kita nanti akan berlangsung sangat cepat." "Siapa...yang akan hadir di pernikahan kita?" tanya Zefa memberanikan diri. "Penghulu, asisten dan supirku sebagai saksi pernikahan. Kita berdua sama-sama tidak memiliki orang tua. Jadi pernikahan ini akan berjalan lebih mudah." Perkataan Reinhart membuat Zefa terperanjat. Selama sesi terapi, Zefa tahu bahwa ayah Reinhart sudah tiada akibat penyakit jantung yang dideritanya. Tapi Reinhart tidak pernah menyinggung soal ibu kandungnya. Lalu kemana perginya Rosana? Mustahil bila Rosana juga telah meninggal dunia. "Tante Rosana?" lirih Zefa tanpa sengaja menyebutkan nama wanita itu. Wanita yang telah memaksanya membuat kesepakatan paling jahat. Reinhart mengangkat kedua alisnya seolah menikmati kegelisahan Zefa. "Takut akan bertemu Mama?" ejeknya. Reinhart mengambil pengering rambut di sudut meja lalu kembali menyentuh rambut Zefa. "Mama tidak akan datang karena ia menghilang empat tahun yang lalu. Mama dan Papaku sudah bercerai sejak aku berumur sepuluh tahun. Aku di bawah pengasuhan Papa dan ibu tiriku, sedangkan Moreno dibawa oleh Mama. Aku dan Moreno hidup terpisah. Setelah kematian Moreno, Mama seperti orang gila. Dia sering mabuk-mabukan. Aku berusaha merawatnya tapi dia pergi tanpa jejak. Itulah sebabnya dosamu menjadi berlipat ganda! Kamu menyebabkan hilangnya nyawa Moreno sekaligus merusak kehidupan mamaku!" Ucapan Reinhart bagaikan belati tajam yang menikam jantung Zefa. Penyesalannya kian bertambah pasca mengetahui kondisi Rosana. Tak disangka hidup wanita itu menjadi hancur berantakan karena kepergian putranya. Lagi-lagi dialah yang patut dipersalahkan atas tragedi yang menimpa ibu dan anak itu. Pantas saja Reinhart begitu membencinya. "Bagaimana perasaanmu sekarang, Ze? Senang atau sedih?" tanya Reinhart sembari menarik keras ujung rambut Zefa hingga menengadah ke atas. "Aku akan mengeringkan rambutmu. Calon pengantin wanita tidak bisa menikah dengan rambut yang basah." Reinhart menyalakan alat tersebut sementara Zefa tidak bergeming. Terkadang Reinhart menyentuh rambutnya dengan kasar, namun tiba-tiba berubah menjadi lembut. Apakah ini pertanda Reinhart belum sembuh dari depresinya? Atau sikapnya ini hanya sekedar bentuk dari permainan balas dendam? Namun anehnya setiap kali memandang Reinhart, ia seperti melihat sosok Moreno yang sangat dirindukannya. Tidak, ini pasti hanya halusinasi sesaat. Reinhart dan Moreno bagaikan bumi dan langit, terang dan malam. Meskipun wajah mereka mirip, keduanya sangat berbeda dari segi perangai maupun karakter. Zefa tahu benar perbedaan ini saat mendampingi terapi Reinhart. Karenanya ia tidak pernah menduga bila Reinhart dan Moreno adalah saudara kembar. "Sudah selesai. Diam disini, aku akan mempersiapkan pernikahan kita." Reinhart kembali meninggalkan Zefa di kamar dalam kondisi pintu yang terkunci. Zefa beranjak ke tempat tidur. Ia menyandarkan setengah tubuhnya di kepala ranjang sambil memejamkan mata. Seandainya ia boleh memohon pada Sang Pencipta, maka ia akan meminta dikirim kembali ke masa lalu. Dengan begitu, ia bisa mencegah dirinya sendiri mengambil keputusan yang bodoh. Dahulu ia mengira beban yang ditanggungnya akan berkurang setelah menjadi seorang terapis. Berharap dengan menolong sebanyak mungkin orang maka ia akan merasakan kedamaian dan ketenangan batin. Nyatanya tidak. Hukuman itu justru datang padanya lewat seorang pasien bernama Reinhart Prajakusuma. *** Masih terekam dengan jelas di ingatan Zefa, bagaimana awal pertemuannya dengan Reinhart. Kala itu Coach Edo, pimpinan klinik, menyerahkan seorang pasien baru kepadanya untuk ditangani. "Bacalah biodata dan keluhan awal klien secara detail, Zefa. Jika ada yang ingin kamu tanyakan, saya akan berusaha menjawabnya semampu saya," ucap Coach Edo seraya menyerahkan map berwarna biru ke tangan Zefa. Zefa membuka map itu dan menelusuri isi dokumen di dalamnya. Pertama kali, netranya langsung tertuju pada foto profil kepunyaan pasien. Bagian foto pasien kosong, tidak tertera foto siapapun. Melihat ekspresi kebingungan di wajah Zefa, Coach Edo memberikan penjelasan. "Klien kita tidak menginginkan fotonya terekspos, sekalipun itu untuk keperluan data pemeriksaan. Makanya bagian foto sengaja dikosongkan." Ucapan Coach Edo semakin menegaskan bahwa calon kliennya adalah orang yang penting sekaligus misterius. Zefa beralih pada nama, usia, jenis kelamin dan pekerjaan kliennya. Seketika matanya membelalak ketika membaca nama pria itu. "Reinhart Prajakusuma, pekerjaan CEO Diamond Land." Darah Zefa berdesir cepat setelah mengetahui identitas pria yang akan diterapi olehnya. Jika Reinhart seorang CEO perusahaan properti, artinya ia adalah orang yang terhormat dan kaya raya. Lalu apa masalah pria ini hingga ia membutuhkan jasa hipnoterapis? Zefa membaca halaman kedua yang berisi ringkasan seputar masalah pasien. "Anxiety, insomnia, dan fobia," baca Zefa dengan suara lirih. "Kamu sudah mengetahui profil klien kita. Dia bukan orang sembarangan. Saya minta jaga kode etik profesi kita, Zefa. Hindari membocorkan rahasia klien kepada orang luar. Saat kita membahasnya, saya akan menyebutnya sebagai Tuan R." "Persiapkan dirimu dengan baik. Besok Tuan R akan datang sekitar pukul sepuluh pagi," sambung Coach Edo. "Iya, Coach. Saya akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Zefa menyanggupi. Ia masih bertanya-tanya mengapa Coach Edo tidak langsung menangani Tuan R. Sebaliknya guru sekaligus atasannya itu malah menyuruh dirinya untuk menangani pasien penting. Mungkinkah ada alasan khusus di balik terpilihnya dirinya sebagai terapis Tuan R?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN