Bab 4 Harus Meninggalkan Dia

1270 Kata
Reno bangkit berdiri. Wajah tampannya nampak sangat bahagia mendengar ucapan Zefa. Ia memeluk Zefa dengan erat sambil membuat gerakan berputar. "Terima kasih, Sayang. Aku berjanji akan selalu setia padamu. Mitha tidak akan mengganggu hubungan kita." Reno membelai lembut rambut hitam Zefa. "Bagaimana kalau kita candle light dinner berdua? Aku ingin merayakan bersatunya kembali cinta kita." "Apa itu perlu?" "Iya, Sayang. Kamu mau, kan?" Zefa mengangguk setuju. Inilah sifat yang disukainya dari Reno, romantis dan penuh perhatian. *** Dengan mengenakan dress berwarna pink lembut, Zefa berangkat bersama Reno ke sebuah kafe bernuansa vintage. Suasana makan malam mereka begitu hangat. Apalagi di kafe itu ada iringan band yang menyanyikan lagu-lagu romantis. "Ren, seharusnya kamu tidak perlu mengajakku ke kafe semahal ini. Bukankah kamu harus menghemat uang bulanan dari mamamu?" tanya Zefa tidak enak hati. "Tidak apa-apa, Sayang. Sesekali aku harus memanjakanmu sebagai bentuk permintaan maafku." Reno menyuapkan ice cream ke mulut Zefa. Selanjutnya ia mengambil tissue dan menyeka bibir kekasihnya itu. Tindakan manis Reno membuat pipi Zefa merona seperti buah apel. "Tidak usah malu. Kita adalah sepasang kekasih," ucap Reno tersenyum penuh arti. "Mamaku akan datang ke Bandung dua hari lagi. Untuk membuktikan keseriusanku, aku akan mengajakmu berkenalan dengannya. Bila perlu kita bertunangan." Pipi Zefa memerah mendengar janji yang diucapkan Moreno. Ia bertambah yakin bila pemuda ini benar-benar mencintainya. "Aku bingung harus bersikap bagaimana untuk menghadapi mamamu nanti." "Bersikap seperti ini saja, tidak perlu tegang. Mamaku itu wanita yang lembut. Dia pasti akan menyukaimu karena kamu gadis yang manis," puji Moreno. "Lalu baju apa yang harus aku pakai?" tanya Zefa masih merasa khawatir. "Aku akan membelikanmu gaun. Aku ingin kamu tampil secantik mungkin di depan Mama." "Tidak usah, Ren. Aku tidak mau memboroskan uang bulananmu," ujar Zefa. "Siapa bilang? Aku tidak semiskin yang kamu bayangkan, Sayang," ucap Moreno tersenyum. *** Hari yang dinantikan Zefa akhirnya tiba. Moreno mengajaknya pergi ke restoran ternama untuk bertemu dengan ibunya yang datang dari Bandung. Tak disangka ibu kandung Moreno berparas sangat cantik. Pantas saja ia memiliki anak setampan Moreno. Jika dilihat dari penampilannya yang seperti artis papan atas, bisa dipastikan wanita ini berasal dari keluarga terpandang. Apalagi ia menggunakan mobil mewah untuk datang ke restoran. Hal ini membuat Zefa curiga. Mungkinkah selama ini Reno berpura-pura menjadi orang biasa padahal sesungguhnya dia putra dari keluarga kaya raya? "Ze, ini mamaku, Rosana," ucap Moreno memperkenalkan mamanya. Zefa mengulurkan tangannya yang hanya dibalas dengan sentuhan ringan oleh Rosana. Wanita berusia empat puluh tahunan itu memperhatikan penampilan Zefa dari atas hingga bawah. Gambaran yang diberikan Moreno tempo hari ternyata sangat berbeda dari kenyataan. Mamanya bukan wanita yang lembut, melainkan lebih cocok menjadi tokoh mertua penindas dalam serial televisi. Ditambah lagi tatapan matanya yang setajam elang membuat Zefa gugup. Moreno yang mengetahui hal itu segera menggenggam tangan kekasihnya. "Ma, Ze adalah mahasiswi jurusan psikologi. Selain cantik, dia juga sangat pintar," puji Moreno. Rosana mengerutkan alisnya. "Siapa nama orang tuamu dan apa pekerjaan mereka?" tanya Rosana enggan berbasa-basi. "Papa saya sudah meninggal dunia. Ibu saya bekerja sebagai guru SD di sebuah sekolah swasta. Tapi sekarang sedang istirahat karena sakit," terang Zefa dengan jujur. "Sakit apa?" tanya Rosana ingin tahu. "Ginjalnya bermasalah, Tante." Air muka Rosana berubah seketika. "Jadi kamu ini anak yatim dan ibumu sakit ginjal. Pantas penampilanmu sangat sederhana." "Mama sudahlah, jangan menanyakan hal-hal yang tidak penting. Ayo kita pesan makanan," tutur Moreno mencairkan suasana. Acara makan malam pun berlangsung dengan kaku. Moreno lebih banyak bicara untuk mencairkan suasana. Ia juga melontarkan beberapa lelucon untuk menghibur Zefa. Terlihat bahwa malam ini dia bertindak semaksimal mungkin untuk menjadi penyambung komunikasi antara Zefa dan mamanya. "Yakin kamu akan pulang sendiri naik taksi, Sayang?" tanya Moreno mengantarkan Zefa sampai di depan pintu restoran. "Iya, temani saja mamamu. Kasihan kalau Tante Rosana pulang sendirian." "Kamu calon menantu yang sangat baik, Sayang. Tidak salah aku memilihmu sebagai pacarku. Besok aku akan mengantarmu ke kampus," ucap Moreno membukakan pintu taksi untuk Zefa. Sambil memaksakan diri untuk tersenyum, Zefa masuk ke dalam taksi. Sepanjang perjalanan dia memikirkan sikap ibunya Moreno yang tidak bersahabat. Entah apa salahnya sehingga wanita itu tidak menyukainya. Apabila tebakannya terbukti benar, kecil kemungkinan hubungannya dengan Moreno akan direstui oleh Rosana. "Bagaimana makan malammu, Zefa? Apa mamanya Reno bersikap baik padamu?" tanya Dinda kepada putri semata wayangnya. "Mamanya Reno sangat ramah. Aku ke kamar dulu ya, Ma." Zefa buru-buru mengunci pintu kamarnya. Dia tidak ingin membuat mamanya cemas dengan apa yang terjadi. Terlebih selama setahun terakhir mamanya sedang berjuang untuk mengatasi penyakit ginjal yang dideritanya. Zefa merebahkan diri di tempat tidur sambil meletakkan ponselnya. Namun ponsel miliknya tiba-tiba bergetar. Sambil memicingkan mata, Zefa menerima telpon masuk dari nomer yang tak dikenalnya. "Selamat malam, maaf ini dengan siapa?" tanya Zefa menyapa si penelpon. Terdengar suara tegas seorang wanita menjawab pertanyaannya. "Ini benar kamu Zefanya? Aku Rosana, mamanya Moreno." "Tante Rosana? Selamat malam, Tante," ucap Zefanya gugup. Dia terkejut sekaligus bingung karena Rosana menghubunginya pada jam sebelas malam. "Malam, Zefa. Besok temui aku di restoran Lettuce jam satu siang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan," tegas Rosana. "Iya, Tante, saya akan datang." "Bagus, aku menunggumu. Tolong rahasiakan pertemuan kita dari Reno. Jangan sampai dia tahu," ucap Rosana sebelum mengakhiri panggilannya. *** Dengan mengendarai motornya, Zefa sampai di restoran yang dimaksud oleh Rosana. Hari ini ia terpaksa berbohong kepada Moreno demi menepati janjinya kepada Rosana. Ketika memasuki restoran itu, Zefa melihat Rosana sudah duduk menantinya di meja paling belakang. "Selamat siang, Tante," sapa Zefa penuh hormat. "Duduk," titah Rosana dengan angkuh. Zefa bergegas mematuhi perintah Rosana. Telapak tangannya terasa dingin karena harus berhadapan muka dengan sang calon mertua. "Aku akan langsung bicara pada intinya, Zefa. Putuskan hubunganmu dengan Reno dan jangan kembali lagi padanya walaupun dia memohon." Zefa tersentak mendengar permintaan lugas dari Rosana. Sambil meremas kedua tangannya, ia mencoba menanyakan apa alasan Rosana menyuruhnya berpisah dari Moreno. "Kenapa saya harus putus dari Reno, Tante?" "Karena kamu tidak layak untuk putraku. Status sosial kalian berbeda jauh. Kamu berasal dari keluarga miskin dan ibumu sakit parah. Sedangkan Reno adalah putra seorang CEO dari perusahaan besar." "Ayahnya Reno seorang CEO?" gumam Zefa seakan berbicara pada dirinya sendiri. "Betul, tapi kamu tidak perlu tahu nama keluarga kami. Reno memang sengaja menyembunyikan identitas aslinya. Dia lebih suka hidup sederhana daripada memamerkan kekayaan orang tuanya. Reno juga akan dijodohkan dengan anak dari kolega papanya." Bibir Zefa bergetar. Kenyataan ini bagaikan sebuah belati tajam yang menikam pusat jantungnya. Penjelasan dari Rosana membuatnya sadar dimana posisinya dan apa saja kekurangannya. "Saya akan minta putus dari Reno. Tapi saya harus menjawab apa jika Reno menanyakan alasan saya?" tanya Zefa. "Ini persoalan mudah. Sewalah seorang pria untuk menjadi kekasihmu. Berpura-puralah berselingkuh dengannya di depan mata Reno. Aku yakin dia akan sakit hati dan segera memutuskan hubungan kalian." Rosana membuka tasnya lalu menyerahkan selembar cek ke tangan Zefa. "Ini uang seratus juta. Aku rasa jumlah ini cukup untuk membantu biaya pengobatan ibumu, membiayai kuliahmu dan juga membayar seorang pria." Zefa mengalami dilema. Tak bisa dipungkiri bahwa dia sedang membutuhkan uang dalam jumlah besar untuk membayar pengobatan ibunya di rumah sakit. Apalagi tabungan mereka sudah hampir habis. Cepat atau lambat hubungannya dengan Moreno juga akan kandas karena jurang perbedaan status sosial yang begitu lebar. Dengan tangan gemetar, Zefa menerima cek itu. "Saya akan melakukan apa yang Tante minta." Senyuman sinis tersungging di bibir Rosana. "Aku senang karena kamu bukan gadis yang keras kepala. Kamu bisa diajak bekerja sama dengan baik. Aku memberimu waktu tiga hari untuk mencari kekasih bayaran. Lakukan semuanya senatural mungkin. Yang paling penting jangan sampai Reno tahu bahwa itu perintah dariku. Jika kamu ingkar janji, aku akan membuatmu menyesal!" ancam Rosana. Zefa mengangguk lemah. Dia tidak berdaya sama sekali untuk melawan kekuasaan wanita kaya ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN