Rindu terobati

1003 Kata
“Ayah? Kenapa Ayah kesini?”  Gumam Maisha sambil masih tertegun di tempatnya. Hatinya begitu sesak ketika mengucapkan nama itu. kenangan masalalu yang kelam kembali berputar di memorinya. “Kalau kamu belum siap bertemu dengannya, biar Mas saja Mai.” Ucap Hanan membuyarkan lamunan Maisha. Maisha pun mengangguk menyetujui. Kakaknya itu tau betul kalau Maisha masih sakit hati dengan kejadian itu. walaupun ia sudah ikhlas dengan apa yang menimpanya tetapi rasa sakit itu belum juga hilang dari hatinya. Ia merasa belum siap bertemu dengan Ayahnya untuk saat ini. Maisha hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia pun kembali duduk di tepi ranjangnya setelah Hanan dan Haura pergi dari kamarnya. Perempuan berparas cantik itu masih termenung dengan segala pertanyaan di benaknya. Kenapa Ayahnya kesini? Apa yang terjadi hingga membuat kaki Hans Harumanjaya sampai ke rumah keluarga yang telah dibuangnya itu? entahlah. Pertanyaan itu hanya sampai di benak Maisha tapi tak kunjung ada jawabnya. Maisha mondar-mandir bingung. Ia penasaran obrolan apa yang sedang mereka bicarakan. Ia pun memutuskan untuk mengintip dari tembok dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka. Dia keluar dari kamarnya dengan langkah megendap-endap layaknya seorang maling. Dia bisa melihat Laki-laki parubaya yang dulu menjadi pahlawannya kini terlihat duduk dan menatap angkuh kearah Hanan dan Haura. Mereka tampak sedsng berbincang tetapi entah apa yang di perbincangkan. Maisha ingin sekali mendengarkan obrolan mereka, tetapi letaknya terlalu jauh. Tiba-tiba Maisha merasakan pundaknya disentuh oleh seseorang. Ia pun spontan menoleh dengan wajah terkejut. Orang yang menepuk pundaknya pun tak kalah terkejut dari dirinya. “Ibu bikin kaget aja.” Protes Maisha kepada Ibunya yang membawa nampan berisi air dan camilannya. “Lagian kenapa kamu ngintip gitu. Kenapa gak kesana aja? Emangnya kamu gak kangen sama Ayahmu?” tanya Bu Sarah terlihat begitu santai ketika berbicara. Semudah itukah bu Sarah melupakan sakit hati pada suaminya itu. bahkan Maisha pun menatap tak percaya kearah Ibunya. “Mai. Kok malah ngelamun? Mau antar ini ke Ayahmu?” Tanya Bu Sarah sambil menyodorkan nampan berisi teh dan cemilan kepada putrinya. Maisha menatap nampan itu lama. Ia berpikir apakah ia bisa menemui Ayahnya saat ini. “Ya sudah, ibu saja yang antar.” Ucap bu Sarah sambil tersenyum lembut kepada putrinya. “Nak, jangan simpan sakit hatimu itu terlalu lama, nanti kamu yang akan sakit sendiri. Ikhlaskan dan maafkan Ayahmu nak. bagaimanapun dia tetap Ayahmu. Dia akan menjadi wali nikahmu. Kamu tak bisa menikah tanpa Ridha nya nak.” nasihat bu Sarah pada Maisha sebelum meninggalkan putrinya. Kata-kata bu Sarah begitu menohok Maisha. ia termenung dan meresapi kata-kata ibunya tadi Maisha masih setia bersembunyi dibalik tembok. Ia bisa melihat Ayahnya sudah hendak pergi. Ia melihat kakaknya memeluk Ayahnya erat.  Maisha pun ingin berada di dekapan hangat Ayahnya. Sudah bertahun-tahun ia tak merasakan pelukan hangat itu. Entah dorongan darimana, Maisha keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari megnejar Ayahnya yang sudah sampai di teras rumah. “Ayah!” Teriak Maisha sambil memandang seorang lelaki yang berdiri tak jauh di depannya. “Maisha.” Ayahnya tampak berkaca-kaca melihat putrinya mau bertemu dengan beliau. Tanpa aba-aba Maisha berlari memeluk Ayahnya erat. Pelukan hangat yang sudah lama hilang dari dirinya kini kembali. Ia bisa merasakaannya kembali. “Maisha kangen sama Ayah.” Ucap Maisha di dalam dekapan sang Ayah. “Ayah juga kangen sama kamu nak. Maafkan ayah ya?” Ucap Ayahnya lembut sambil mengecup puncak kepala putrinya berulang kali. “Iya yah. Mai juga minta maaf sama Ayah.” Ucap Maisha sembari mengeratkan pelukannya pada sang Ayah. Setelah beberapa lama berpelukan, pasangan Ayah dan anak itupun mengurai pelukannya. Pak Hans harus segera menghadiri rapat hari ini. jadi dengan berat hati ia pun meninggalkan putrinya yang sudah lama ia rindukan itu. Dengan berat hati pula Maisha melepas kepergian Ayah yang sudah lama ia rindukan. Ia rela menggadaikan egonya untuk menemui Ayahnya. Mendekap erat Ayahnya dan menikmati hangatnya pelukan sang Ayah. Hatinya sedikit merasa lega sekarang. hatinya akan sepenuhnya lega jika ia bertemu dengan saudara kembarnya, Shaffiya. Tapi ia tak yakin. Pertemuan terakhirnya saja masih membuat d**a Maisha sesak kalau diiingat. Tetapi bagaimanapun ia harus berusaha agar Shaffiya mau kembali dengan keluarga mereka. Maisha yakin ia pasti bisa membawa Shaffiya kembali. Ia bertekad kepada dirinya sendiri tentang hal itu. “Mai kenapa masih disini? ayo masuk.” Ajak Haura pada adik iparnya. Maisha pun mengangguk menyetujui. Di dalam Maisha melihat Ibunya tampak sedang mengobrol serius dengan kakaknya. Tetapi sepertinya Ibunya nampak sedih. Entah apa yang mereka bicarakan. Karena besarnya rasa penasaran Maisha, ia pun menanyakan pada Hanan apa yang terjadi sebenarnya. “Bu, Mas. sebenarnya ada apa ini? apa yang Ayah katakan tadi ketika kesini?” tanya Maisha penasaran. Ibu dan Hanan saling bertatapan. Ketika ibunya sudah mengangguk barulah Hanan menceritakan pada adiknya. “Hah, menikah?!” Pekik Maisha tak percaya. Mendengar penuturan dari Hanan bagaikan petir di siang bolong baginya. “Iya Mai. Ayah tadi kesini untuk memberitahu bahwa Shaffiya akan segera menikah.” Jelas Hanan lagi pada adiknya yang masih tak percaya itu. “Dengan siapa memangnya mas?” Tanya Maisha lagi “Mas juga kurang tau. Ayah tadi hanya mengatakan kalau calonnya itu putra rekan kerjanya.” Jelas Hanan yang dijawab anggukan oleh Maisha. Entah harus merasa senang atau sedih. Ia senang karena saudara kembarnya akan segera menikah tetapi ia juga sedih karena di hari bahagianya ia belum bisa berbaikan dengan Shaffiya. “Mai, kamu gak papa kan?” Tanya Hanan membuat lamunan Maisha buyar. “Eh, iya Gak papa kok Mas. alhamdulillah kalau kabar bahagia yang datang.” Ucap Maisha sambil memaksakan senyumnya. Tetapi tidak ketika ia melihat ibunya. “Kenapa ibu terlihat sedih? Ibu tidak senang dengan kabar ini?” Tanya Maisha sambil mendekat kearah ibunya. “Ibu sedih Mai. Sampai saat ini Ibu belum cukup memberikan kasih sayang pada Shaffiya. Ibu takut Shaffiya membenci ibu.” Ucap ibunya dengan penuh penyesalan. Maisha pun memeluk ibunya erat. “Ibu tenang aja. Sebelum pernikahan itu Mai pasti bakal bawa Shaffiya ketemu sama ibu.” Ucapnya menenangkan.  Dia berjanji akan menemui Shaffiya sesegera mungkin. Ya, ia tak mau membuat penyesalan itu selalu terukir di wajah cantik ibunya                                                                                                              ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN