Is It to late to say sorry?

1424 Kata
Sudah berkali-kali Aldwin mencoba untuk memejamkan matanya tetapi tak kunjung juga tertidur. Ia merubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di sofa. Ia melihat mamanya sudah tertidur nyenyak di sofa seberangnya. Ia menatap wajah lelah milik mamanya itu. perlahan ia mendekat kearah mamanya dan menyelimutinya dengan selimut yang ia kenakan. Ia tau, pasti mamanya lah yang memberikan selimut itu padanya. sampai-sampai beliau rela kedinginan demi anaknya. Setelah menyelimuti mamanya Aldwin menatap wajah mamanya sejenak. Rasa bersalah tiba-tiba menyelusup ke relung dadanya. Betapa banyak dosanya selama ini terhadap orang yang paling sayang kepadanya. Pandangan Aldwin berpindah pada seorang lelaki yang terbaring lemah di brankar. Ia mendekat perlahan kearahnya. Dilihatnya wajah pias milik Papanya. Aldwin mengusap kening Papanya yang mulai banyak kerutan itu. Lelaki itu tersenyum masam. Pasti Papanya sudah bekerja sangat keras selama ini. dia bekerja begitu keras untuk membahagiakan keluarga kecilnya. Tanpa sadar Aldwin menggenggam tangan Papanya yang sedang dipasangi selang infus itu. Dia menggenggam lengan kokoh yang selalu melindunginya. Ia ingat sewaktu kecil Papanya selalu meluangkan waktu untuk bermain dengannya. Papanya selalu menyediakan pundaknya untuk tempatnya bermain. Papanya selalu bisa menjadi apapun yang ia minta. Aldwin senang sekali bisa bermain kuda-kudaan bersama Papanya. Walaupun sedang lelah bekerja tetapi Papanya tak pernah menolak permintaan Aldwin ketika memintanya menjadi kuda dan ia yang menumpanginya. Papa menyadari bahwa dirinya lelah tetapi ia menahan semua itu demi sebuah senyum di bibir putranya. Tak terasa airmata Aldwin kembali merebak keluar mengingat hal itu. dia bisa dengan mudah melupakan seribu kebaikan Papanya kepadanya hanya dengan satu kesalahan saja. padahal terlihat jelas Papanya begitu menyayangi dirinya. “Pa, maafin Aldwin. Aku tau aku salah, Tapi jangan hukum Aldwin terlalu lama. Sadarlah Pa. Aldwin janji akan menuruti apapun kemauan Papa.” Ucap Aldwin disela isak tangisnya. Dia menggenggam erat tangan Papanya, seakan tangan Papanya akan pergi jika ia lepas. “Jangan cengeng! Sejak kapan anak Papa jadi cengeng kayak gini.” Ucap seseorang dengan suara serak khas bangung tidurnya. Seketika Aldwin menghentikan tangisnya. Dia menatap lelaki di depannya yang sudah membuka kedua matanya. Aldwin menatap Papanya senang. “Papa sudah sadar?”tanya Aldwin spontan “Gimana Papa gak sadar kalau dengar tangisanmu yang berisik itu. Papa kira itu suara hantu tadi.”  canda Papanya. Aldwin tersenyum senang. Kemudian memeluk Papanya erat. “Maafin Aldwin Pa. Maaf.” Ucap Aldwin dengan suara seraknya. “Iya. Papa juga minta maaf sama kamu Win. Papa sudah kelewatan kemarin.” Ucap Papanya terdengar tulus. Aldwin mengangguk sembari menyunggingkan senyumnya. “Papa butuh sesuatu ? Biar Aldwin yang bantu.” Ucap Aldwin tulus. Pak Rahardian menggeleng pelan kemudian tersenyum pada putranya. “Istirahatlah. Kamu pasti lelah.” Tanpa membantah Aldwin mengangguk patuh kemudian kembali ke sofa untuk tidur. Kali ini Aldwin bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak. Hari-hari Aldwin kini ia habiskan di rumah sakit. Ia benar-benar telah berubah. Aldwin bukan lagi seorang lelaki berandalan yang tak mempunyai tanggung jawab. Semenjak kejadian yang menimpanya ia menjadi sadar dan mulai berubah sekarang. hidupnya mulai tertata kembali. Ia masih bekerja di tempat Shaka, walaupun hanya paruh waktu saja. ia sudah berdiskusi dengan Shaka kalau ia akan membagi waktunya untuk merawat Papanya di Rumah sakit. Untung saja Shaka orang yang baik jadi ia dengan senang hati mengizinkannuya. “Kamu masih bekerja di Kafe milik temanmu itu Win?” Tanya Papanya ketika mereka sedang berjalan-jalan di taman rumah sakit. “Iya Pa. Aldwin bekerja disana agar bisa mendapatkan uang dari keringat Aldwin sendiri.” Ucap Aldwin yang dijawab anggukan paham oleh pak Rahardian. “Memangnya kamu gak mau kerja di perusahaan Papa saja? apa tidak sayang gelar sarjana kamu di luar negeri itu.” Tawar Papanya setengah menyindir putranya. “Aku ingin merasakan dari bawah dulu Yah. Besok kalau sudah waktunya pasti Aldwin akan membantu perusahaan Papa.” Ucap Aldwin dengan mimik wajah serius. Aldwin memang sudah memutuskan untuk memilih jalan hidupnya seperti ini. ia ingin merasakan dulu susahnya mencari uang dari nol. Dia tidak mau sukses secara instan. Baginya yang paling berharga adalah sebuah proses dan hasil yang terbaik itu adalah reward untuk diri kita. Ia memang sudah berjanji akan membantu Papanya bekerja di perusahaan, tetapi bukan untuk saat ini. entah kapan Aldwin akan siap diberi tanggung jawab itu. “Baiklah. Papa tidak akan memaksa kamu.” Semenjak perdamaian mereka berdua malam itu, mereka jadi saling mengerti satu sama lain. Tidak ada lagi kata memaksakan kehendak sekarang yang ada hanyalah saling adanya pengertian. Mereka menurunkan ego mereka masing-masing dan berpikir positif akan segala kejadian yang menimpa mereka. Komunikasi juga merupakan hal penting bagi terjalinnya hubungan baik mereka. Jika ada sesuatu harus di  bicarakan dan juga di cari solusi bersama. Hal itu membuat orang-orang disekitar mereka terutama bu Rahayu sangat senang. Melihat suami dan Putranya kembali bersama sudah membuat dirinya terlampau bahagia. Bahagia itu sederhana. Bahagia bukan melulu soal materi tapi lebih utama masalah hati. Bahagia itu bukan ketika apa yang kita minta selalu terpenuhi tetapi bahagia itu ketika apa yang kita punya bisa mencukupi kebutuhan kita. Bahagia itu sederhana sampai tak ada satu katapun yang mampu menggambarkan kehadirannya. Bahagia itu mengobati lara menjadi tawa bukan hanya hura-hura belaka. Bahagia itu mahal harganya bahkan tak ada yang mampu membelinya sekalipun.                                                                                   *** Aldwin senang sekali karena Papanya sudah diperbolehkan pulang hari ini oleh dokter. Dokter awalnya tak percaya dengan perubahan kesehatan Papa yang cepat sekali membaik. Mungkin benar yang dikatakan mamanya bahwa Papanya sakit karena memikirkan dirinya. tanpa sadar hatinya menghangat mengingat hal itu. kebenciannya kepada Papanya menguap begitu saja. Selesai mengurus administrasinya Aldwin membawa barang-barang milik Papanya ke dalam mobil. Setelah selesai semuanya merekapun pulang menuju rumah mereka. Papanya sudah membaik sekarang bahkan sangat baik. Dia sudah bisa tersenyum dan tertawa lepas. “Duh yang udah bisa senyum sekarang senyum-senyum terus nih.” Sindir bu Rahayu pada suaminya. “Memangnya mama gak senang Papa sembuh?” Tanya Pak Rahardian menggoda istrinya. “Ya senang dong Pa. Apalagi Aldwin juga sudah kembali. Tambah senang deh.” Ucap Bu Rahayu dengan menampakkan wajah senangnya. Aldwin hanya tersenyum hambar mendengar perkataan mamanya barusan. Ia tak tega mengatakan apa rencananya setelah ini. ia takut merusak suasana saat ini. mungkin nanti setelah sampai rumah dia akan membicarakannya. Tak berapa lama mereka pun sampai di rumahnya. rumah itu tampak sepi semenjak penghuninnya tinggal di rumah sakit. Tapi rumah itu selalu dibersihkan oleh pembantu yang bekerja disana. mereka  menyambut majikannya dengan antusias. “Ma, Pa. Ada yang mau Aldwin bicarakan dahulu.” Ucap Aldwin kepada kedua orangtuanya yang hendak pergi ke kamar itu. mereka pun mengurungkan niatnya ke kamar dan duduk bersama di ruang tengah bersama Aldwin. “Ada apa nak? sepertinya serius sekali?” Tanya Bu Rahayu pada putranya. Aldwin sebenarnya ragu untuk mengatakannya tetapi ia mencoba meyakinkan dirinya. “Maaf Ma, Pa sebelumnya. Bukannya Aldwin mau merusak suasana kita saat ini. Aldwin berencana untuk tetap tinggal di kos an saja dan bekerja dengan Shaka.” Ucap Aldwin ragu-ragu. Wajah bu Rahayu tampak terkejut. “Kenapa Win? Kamu masih marah sama kami? Kenapa tidak tinggal disini saja?” Tanya mamanya dengan wajah cemas. “Bukan begitu Ma. Aldwin hanya ingin hidup mandiri. Aldwin sadar selama ini hidup Aldwin terlalu santai. Aku bahkan tak tau apa itu rasanya susah. Aldwin ingin belajar dari nol. Agar Aku bisa merasakan juga rasanya ada di bawah.” Mendengar penjelasan itu Bu Rahayu terpana. Ia tak menyangka putranya bisa berubah menjadi dewasa seperti itu. “Baiklah nak. Papa izinkan kamu. setelah kamu merasa cukup kapanpun kamu bisa datang kemari. Papa dukung apapun keputusan kamu.” Ucap Papanya setelah sekian lama berdiam diri. Senyum sumringah terbit di bibir Aldwin. Tetapi begitu menatap wajah sedih mamanya senyum itu perlahan pudar. Aldwin duduk di samping mamanya. Ia genggam tangan rapuh itu dengan erat kemudian menciumnya sekilas. “Aldwin akan baik-baik saja bu. Percaya denganku. Aku akan sering-sering kesini.” Ucapnya lembut pada mamanya.Air mata mamanya jatuh begitu saja. Aldwin mengusapnya dengan lembut. “Bu, Aldwin bukan anak kecil lagi. Aldwin bisa jaga diri. Mama gak usah khawatir ya.” Ucap Aldwin lembut di depan mamanya, Akhirnya mama Rahayu pun mengangguk setuju. Aldwin langsung merengkuh mamanya dan mengucapkan terimakasih pada mamanya yang telah memberinya izin. “Tapi kamu janji ya bakal sering tengokin mama sama Papa.” Peringat mama Rahayu pada putranya. Aldwin terkekeh pelan lalu mengangguk menyetujui. Memang ini keputusan yang berat bagi Aldwin. Tapi ia harus berjuang agar dirinya bisa menjadi orang yang mandiri. Ia tak mau terus-terusan menjadi anak yang mengandalkan harta orangtua. Sekarang waktunya untuk memualai semuanya. Ia akan membuktikan kepada kedua orangtuanya bahwa ia bisa menjadi anak yang bisa membanggakan bagi mereka. Ia tak akan mengecawakan kedua orangtuanya lagi.                                                                                            ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN