Senyum yang terbit

1468 Kata

Hari ini adalah hari libur, Maisha seperti biasanya sudah bangun pagi untuk mempersiapkan sarapan. ia melirik suaminya masih terlelap tidur. Maisha tak lupa selalu membangunakan suaminya untuk shalat shubuh tapi suaminya tetap tak mau bangun. Ia pun pasrah saja. yang penting ia sudah berusaha untuk membangunkannya. Ia juga selalu berdoa agar suaminya mendapat hidayah. Usai shalat subuh Maisha ke dapur untuk memasak. Suasana rumah itu masih sunyi. Mama mertuanya sepertinya belum bangun. Mbok Ipah juga sudah tidak bekerja di rumah ini karena ia mengurus keluarganya di desa. Disanapun ternyata ia sudah mendapat pekerjaan yang lebih dekat jaraknya dengan rumah. Hal itu tak membuat bu Rahayu keberatan. Ditengah-tengah memasak, ia mendengar suara tangisan Zhafira, Maisha langsung berlari keat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN