Balapan dan ciuman pertama

1530 Kata
Jayden memejamkan matanya, suara teman - temannya yang tengah main kartu itu terlihat heboh. Jayden membuka matanya, melirik kehebohan itu. Ternyata Bagas memenangkan taruhan dalam permainan itu, Jayden merogoh sakunya untuk mengambil 3 lembar uang seratus ribuan. "Nih, gue tambah uangnya, main lagi." Jayden senang mendengar keceriaan dan kehebohan para teman - temannya itu. Megan duduk di samping Jayden."Tumben lo di sini? Si manja mana?" singgungnya dengan sinis saat menyebut si manja. Jayden kembali memejamkan matanya, malas meladeni Megan yang Jayden tahu kalau gadis itu menyukainya. Sampai kapanpun hanya ada Zela di hidupnya. "Paling bentar lagi telepon terus ngerengek 'takut sendirian' hih!" sindirnya dengan mencebikkan bibirnya sebal. Jayden membuka matanya."Zela lucu kalau lagi ngerengek, gue suka rengekannya, kalau lo yang ngerengek baru gue muntah." setelah itu Jayden beranjak, mengabaikan u*****n dan gerutuan Megan. "Gue pamit ya bro, soal siapa yang menang kasih tahu gue di grup chat ya." Jayden bertos ria dengan semuanya kecuali Megan. "Zela pasti yang bikin lo pulang." kata Hasan dengan senyuman Usil. Teman - temannya itu tahu kalau Jayden cinta berat pada Zela tapi karena gengsi, Jayden seolah cuek pada Zela bahkan berlo - gue di depan mereka walau sekarang beraku-kamu. Padahal mereka sudah jelas tahu kalau keduanya tidak hanya sekedar saling menjaga sesama teman atau tetangga. Tapi, terlibat Cinta. Zela yang lugu tidak tahu apa cinta dan Jayden yang lebih dewasa pandai menutupi rasa cintanya. *** "Gue akan bantu lo buka mata soal cinta." kata Naura dengan bertekad dan serius. Zela mengangguk ragu namun juga penasaran, mengabaikan kamarnya yang berantakan karena Naura mengacak lemarinya untuk meminjam pakaian pesta. "Cinta, lo tahu apa?" Naura menatap Zela dengan penasaran dan fokus. Zela diam dengan mengembungkan pipinya, tanda kalau dia sedang berpikir. Naura mengerjap pelan, Zela terlihat menggemaskan. Pantas saja seorang Jayden begitu setia di samping Zela. "Kayak aku ke Jayden?" tanya Zela ragu. "Emang kamu ke Jay gimana?" pancing Naura. "Engga mau pisah, pengennya liat terus Jayden, tapi Jayden sekarang berubah bikin Zela sedih." akunya pelan di akhir. Naura yang tengah menganalisa pandangan cinta menurut Zela malah lupa, dia ikut sedih melihat wajah lucu Zela sedih. "Eum, cup - cup, sahabat terbaik kok sedih." "Jayden udah cape kayaknya sama sikap Zela yang mau terus bareng, banyak minta sama ga dewasa." lirihnya. "Kamu tahu dewasa apa?" Zela menunduk."Walau nilai aku jelek, selalu di akhir juga rangkingnya, aku tahu kok dewasa itu apa, ga gampang nangiskan?" tatapan sedih itu berbinar polos. Naura menahan tawanya, mungkin karena Jayden selalu melarang Zela mengenal dunia luar jadi Zela begitu lugu begini. Atau juga karena kekurangan Zela yang memiliki penyakit lupa setelah kecelakaan waktu sekolah dasar? Zela yang terkena benturan di kepala membuatnya mengalami, entahlah apa bahasa kedokterannya yang jelas semenjak itu, nilai menurun, daya ingat berkurang, membuat Zela selugu ini. Zela hanya bisa ingat semua tentang dunianya, Jayden. Jayden yang sedari tadi menguping, mengulum senyum. Ini alasannya kenapa Jayden sangat tergila - gila pada Zela. Dia begitu murni, di zaman sekarang dia begitu spesial. "Dewasa itu—" "Mau ngapain bini gue?" suara Jayden muncul di susul melebarnya pintu kamar Zela. Sedihnya Zela berubah menjadi bahagia."Jayden, kamu dari mana aja?" katanya setelah di depan Jayden, bahkan dia tidak fokus dengan panggilan Jayden saking senangnya melihat Jayden. Jayden meraih kepala Zela lalu memeluknya di ketiaknya yang wangi, Zela hanya diam. Naura mendengus."Ucapan lo ngawur! Au ah gue mau pulang!" ketusnya seraya meraih paper bag. "Kok pulang, tadi bukannya kita lagi bahas—" "Nanti deh, aku males sama dia!" tunjuk Naura dengan dagunya pada Jayden. Zela mengangguk."Aku anter." namun Jayden memeluk leher Zela agar tidak usah mengantarnya. Naura mendelik pada Jayden. Kalau orang lain melihat pasti akan salah paham. Kesannya seperti Naura suka pada lawan jenis dan merebutkan Zela dengan Jayden. *** "Di bilang jangan pake itu!" bentak Jayden dengan memasang wajah tidak suka. Zela meremas roknya. Padahal tidak pendek, tingginya di pertengahan lutut. Zela bahkan sampai tersentak pelan mendengar bentakan Jayden. Zela mencoba menahannya, mencoba sabar. Zela tidak punya siapa - siapa selain Jayden. Di rumahnya yang megah ini dia hanya akan bersama satpam yang jaga, kalau tidak ada Jayden. Jayden beranjak dari duduknya, berbungkuk agar bisa menatap Zela yang menunduk. "Ganti sayang, celana panjang ya, ini di pake buat di rumah aja." suara Jayden terdengar lembut. Zela mendongkak, perlahan melempar senyum dan mengangguk. Jayden melihat kepergian Zela, memejamkan matanya sekilas. Padahal Zela tidak perlu di bentak atau di marahi, Zela bukan pembangkang. Tapi sialnya, Jayden selalu emosian. Lihat perubahannya tadi, saat di bentak, Zela begitu sedih dan menunduk. Saat di lembuti, senyumnya begitu secerah mentari. Tidak lama Zela turun dengan pakaian lebih tertutup."Udah, gimana Jayden?" tanyanya riang. Jayden mengusap kepala Zela sekilas seraya kembali menatap ponselnya."Kamu cantik." jawabnya dengan fokus pada ponsel. "Kok Zelanya engga di liat, bohong berarti, ya? Jawab dong? Hm?" manjanya. Jayden berdecak marah."Jangan berisik! Ga liat aku lagi balas pesan!" amuknya tanpa sadar. 'Kan, Jayden memang bunglon' batin Zela murung. *** Megan mengamati Zela dengan tidak santai, Megan merasa konyol. Zela penampilannya yang bocah dan keluguannya yang menyebalkan membuat Megan ingin melenyapkannya. "Ngapain bawa si manja ke sini? Lo main engga akan fokus Jay." Megan bersuara dengan melirik Zela tak santai. Jayden membiarkan Megan, dia hanya akan menunggu Bagas dan temannya yang lain. Jayden tidak bisa meninggalkan balapan hari ini, makanya Zela dia bawa agar pikirannya tidak bercabang. Sekali tidak apa - apakan, semoga saja pikir Jayden mencoba meyakinkan diri bahwa keputusannya benar. Jayden melirik Zela yang tampak risih dan tidak betah, kepalanya menunduk seperti melakukan kesalahan. Jayden mengalihkan fokusnya pada Megan yang mengamati Zela dengan tidak suka. Sepertinya menitipkan Zela pada Megan pilihan salah, Jayden mengamati sekitarnya dengan serius. Banyak orang dari SMA lain datang, Jayden jadi bimbang harus menitipkannya pada siapa. Jayden meraih tangan Zela seraya berdiri dari duduknya."Kita ke tempat lain dulu." ajak Jayden tanpa pamit pada Megan. Megan lagi - lagi menggeram, harapan memiliki Jayden begitu tipis. "Kemana?" tanya Bagas saat berpapasan di pintu masuk yang kian ramai itu. "Gue mau cari tempat dulu buat Zela." acuhnya dengan mengayunkan langkahnya namun Bagas menahannya. "Bawa aja di mobil lo, jangan titip ke siapapun, sama gue juga jangan." Jayden diam, tadinya dia akan menitipkan Zela pada teman perempuannya yang kini berkumpul di sebrang sana. "Zela takut masuk ke mobil Jayden yang ngebut." aku Zela gelisah. "Lo diem!" tegas Jayden lalu kembali pada Bagas, mengabaikan Zela yang memberengut sedih. "Gue bawa kalau gitu, mulainya jam berapa sih? Udah mau jam 10 malem ini." jengkelnya. Bagas merangkul Jayden seraya menuntunnya ke tempat biasa mereka kumpul. Zela hanya mengikuti mereka karena tangannya tidak pernah di lepaskan Jayden. Zela begitu gelisah, dia takut dan tidak mau ikut balapan. Jayden dan Bagas terlihat serius berbincang, membicarakan para lawan yang cukup bagus malam ini. Jayden dan Bagas duduk, melihat tidak ada lagi kursi Jayden pun menarik pinggang Zela dan mendudukannya di sebelah kiri pahanya. Zela merasakan panas di wajahnya, padahal dia bukan lagi anak kecil walaupun tubuhnya kecil pikirnya tak suka. Jayden mengeratkan jaket tebal yang di pakai Zela dengan sesekali menyahuti obrolan Bagas. Bagas melirik Zela lalu mengulum senyum, Zela benar - benar tidak tumbuh. Gadis itu masih sama seperti yang di temuinya saat masih SMP, sedangkan Jayden begitu tumbuh pesat, tingginya dan lebar bahunya sudah sanggup melindungi Zela. "Zela mau minum?" Bagas mengalihkan topiknya, dia ingin melihat reaksi Jayden apakah masih sama. Jayden berdecak."Jangan tanya, jangan ajak Zela ngobrol!" geramnya. Ternyata masih sama, posesif. Padahal tidak ada maksud lain pikir Bagas. "Ah iyah, gue lupa." bohong Bagas dengan terkekeh pelan. "Kalian di sini ternyata." Bagas, Zela dan Jayden menoleh ke arah asal suara. Hasan dan Arif berjalan lalu duduk di kursi yang mereka bawa dari tenda lain mungkin. "Jayden, itu ada kursi." tunjuk Zela yang membuat Bagas, Hasan, Arif menatap ke arahnya dengan senyum dan terpesona. Jayden menarik ikat rambut Zela, rasanya Jayden gerah sendiri melihat leher putihnya ada di depan mata dan di pandang orang lain. Zela hanya menyentuh rambutnya tidak mengerti, sedangkan Jayden menatap Hasan, Arif. "Kapan di mulai?" tanya Jayden mengalihkan topik. Megan datang dengan berdecak tidak suka."Duduk di pangkuan cowok, cewek lugu apanya." cemoohnya. Hasan menarik tangan Megan agar berhenti. Arif menggeleng pelan, Megan sepertinya tidak kapok kena marah Jayden. Jayden hanya menyorot tajam Megan yang semakin berani itu, kalau saja bukan sahabatnya dari lama mungkin akan Jayden tumbalkan pada laki - laki nakal di ujung sana. Zela menunduk dengan tangan sedikit gemetar, ingin beranjak namun Jayden menahannya begitu kuat. *** Jayden mengikat lagi rambut Zela, gadis itu tengah menangis karena tidak mau dan takut. Jayden terlihat serius memasangkan sabuk pengaman Zela, memastikan sudah aman. Jayden kini fokus menatap Zela yang begitu cengeng itu. "Zela! Pegangan! Jangan nangis! Kalau kamu nangis mau aku engga fokus?" jengkelnya, dia tidak bisa lembut. Sekarang akan segera di mulai. Jayden mengecup kening, meraih wajah Zela agar mendongkak lalu di kecupnya sekilas bibir Zela. Bisa di bilang ciuman pertama bagi Zela. Bahkan di luar arena yang melihat adegan itu kini bersorak, banyak suara - suara iri mulai terdengar. Zela mengerjap polos, jantungnya berdebar tak karuan. Jayden mulai fokus. Keadaan kini berubah semakin tegang, bendera mulai di kibarkan, Jayden melirik sampingnya di mana lawannya berada. Bendera terlihat mulai tinggi, hitungan satu sampai tiga pun sebentar lagi akan sampai di angka tiga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN