Jayden meraih wajah Zela, mengangkatnya untuk bisa menatap ayahnya yang kini terisak di sebrangnya. Zela pun tak kalah berderai air mata. "Ada aku, ayo Zela.." bisik Jayden lalu mengusap punggung dan merangkulnya. Zela mengangkat tatapannya, melirik sang ayah dibalik bulu matanya yang basah. Hanya beberapa detik, karena Zela masih merasa takut. "Zela.." panggil Wandi lirih. Zela terhenyak diduduknya, panggilan yang biasa penuh cacian dan amarah kini terdengar lemah tak berdaya. Zela kembali terisak, merasa kenapa kebenaran begitu terlambat. Zela terlanjur sakit. Masa pertumbuhannya begitu cacat. "Maafin ayah Zela, ayah tahu, ayah sudah sangat keterlaluan dan tidak bisa dimaafkan, tapi ayah tetap mau minta maaf.." suaranya terdengar gemetar. Tatapan Wandi menyorot Zela penuh dengan ra

