“Kak Jenny, aku mohon… Tolong aku…” Calandra memohon-mohon sambil menangis. “Jangan lakukan ini.” Jenny menarik wajah Calandra, membuatnya berhadapan dengan wajahnya. “Ini semua salahmu. Lima tahun lalu kamu sudah pergi, tapi kenapa malah nekat kembali?” Mulut Calandra membuka, tapi tak ada satu suara pun yang keluar dari sana. Ia terlalu terkejut dengan ucapan Jenny barusan. Lima tahun lalu? Apa Jenny sudah berencana untuk menyingkirkannya selama itu? “Kaget?” tanya Jenny. “Kamu pikir dulu aku menyukaimu? Aku membencimu! AKU MEMBENCI KAMU BOCAH NORAK TAK TAHU MALU YANG SUDAH MEREBUT DARREL DARIKU!” Plakk! Satu tamparan kembali melayang ke pipi Calandra. Rasanya satu sisi wajahnya seketika mati rasa karena rasa nyeri tak tertahankan itu. Calandra menangkupkan tangan ke pip

