Sambil terisak-isak, Calandra berusaha mengulurkan tangan untuk menggapai Darrel yang terbaring di lantai. Darrel menatap Calandra yang berusaha mendekat ke arahnya. Sebelah tangan pria itu memegangi perutnya yang berdarah, sementara satu tangannya yang lain terulur ke arah Calandra. Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Calandra pun akhirnya berhasil tiba di dekat Darrel. “Maaf…” Calandra meraih tangan Darrel. Suaranya mulai tidak terdengar jelas karena terlalu banyak berteriak. “Aku yang minta maaf,” ujar pria itu. Wajahnya mulai tampak pucat karena menahan sakit dari luka bekas tembakan yang terus mengeluarkan darah. “Maaf karena sudah datang terlambat.” Calandra menggeleng. “Aku yang salah…” “Kamu sampai terluka begini,” ujar Darrel dengan suara lemah. Dipandanginya wajah Calandr

