“Sabar ya, Yang…” Darrel mengusap punggung Calandra yang kini tengah menempelkan kepala ke dadanya. Istrinya itu kini mencengkeram lengannya dengan kuat sambil meringis menahan sakit. Saat ini sudah pukul delapan malam, tapi Calandra belum bisa dibawa ke ruang bersalin karena bukaan bersalin istrinya masih belum genap mencapai sepuluh menurut dokter kandungannya tadi. Jadi hingga saat ini Calandra masih harus melawan rasa sakit dari kontraksi yang membuat Darrel juga seolah bisa merasakan sakitnya. Sejak tadi ia tidak beranjak sedikit pun dari sisi Calandra. Ayahnya kini sedang keluar untuk makan malam, sementara Darrel sendiri tadi lebih memilih untuk makan di kamar rawat inap Calandra bersama istrinya itu. Darrel tahu ayahnya sengaja menyingkir karena beliau juga tidak tega melihat Cal

