BAB 23 HARI ITU TIBA Mudah-mudahan, dengan banyaknya tempat, orang, dan kondisi berbeda yang ditemuinya, kian mengokohkan jalan hidupnya menuju Sang Pencipta. ----------- “Jangan menangis, Sayang! Nanti Caca melihat kita, dan melemahkan lagi niat yang susah payah kita membujuknya," bisik Mas Reza. Meski lelaki pekerja keras itu terlihat tegar, suaranya yang terdengar parau, menunjukkan ia hanya berusaha kuat saja. Ibarat tali, anak itu pengikat aku dan Mas Reza. Andai bukan karena Caca, mungkin pernikahan tak normal ini, akan selamanya begitu. Atau bisa saja, terlerai sebelum sempat diperbaiki, dibangun, apalagi dikembangkan. Sungguh berat melepaskan Caca. Alangkah tak biasanya nanti rumah jika dia telah pergi. Alangkah sunyinya nanti rumah, bila .... "Ayah? Bunda? Kenapa pada nangi

