BAB 46 LELAH POV CACA "Oma harus tahu soal ini, Ca." Suara Om Angga membuatku berpaling dari suara roda empat Om Danar yang semakin mengecil. Sejak kapan pemuda ini di situ? Apa dia melihat derasnya air mataku yang seketika tumpah melihat Om Danar berlalu? Huf .... Di balik kata ikhlas itu, selalu saja ada genangan yang menyelingnya. "Belum saatnya, Om. Kalau waktu dan tempat memungkinkan, aku akan cerita, kok," ujarku memohon pengertian. Dari ekspresi Om Angga yang serius, aku yakin ia mengetahui jelas persoalanku. Berarti sejak tadi ia mengawasi di situ. Tak salah lagi. "Bagaimana jika Oma tahu dari orang lain? Yang pasti, cerita akan mengalami penambahan dan kekurangan?" desaknya mengikutiku. "Aku belum siap bercerita sekarang, Om," kataku menunjuk bagasi mobil. Oma selalu membaw

