Bab 3 – Belajar Bersama

670 Kata
Hari itu, kelas XI dan XII mendapat jadwal belajar gabungan di perpustakaan. Guru matematika meminta beberapa siswa senior membantu adik kelas memahami materi integral. Nayla, dengan reputasinya sebagai juara kelas, sudah jelas jadi target utama. “Arindya, kamu bisa bantu anak-anak kelas XII nanti sore, ya,” kata Pak Arman sambil menumpuk buku di mejanya. Nayla mengangguk, meski dalam hati sedikit cemas. Ngajar kakak kelas? Apa mereka mau dengar omongan aku ya ? Sore itu, perpustakaan ramai. Meja besar di tengah dipenuhi buku-buku tebal, kertas catatan, dan beberapa wajah muram yang kebingungan. Di antara wajah-wajah itu, ada satu yang familiar — ya Raka, duduk santai dengan tangan bersedekap, seolah tak peduli. “Jadi… kita mulai dari soal nomor satu, ya,” ucap Nayla pelan sambil menulis di papan kecil. Beberapa siswa senior ada yang memperhatikan, dan beberapa lainnya sibuk sendiri. Raka? Dia malah bersandar di kursi, tersenyum miring. “Kalau susah, biasanya aku pakai cara cepat. Mau tahu, Kak?” tanya Nayla memberanikan diri. Raka mengangkat alis. “Cara cepat? Aku malah biasanya nggak ngerti cara lambatnya, Nay.” Beberapa teman sekelasnya tertawa. Nayla hanya bisa menarik napas panjang. --- Di pojok meja, Alya sudah menahan tawa. Ia memberi kode dengan mengangkat jempol. “Ayo Nay, jangan kalah sama Kak Raka tuh!” bisiknya. Sementara itu, Dimas yang duduk di samping Raka ikut nimbrung, “Eh, jangan-jangan Raka sengaja biar diajarin sama Nayla. Kan enak kalau ditemenin belajar.” Sontak wajah Nayla memerah, sementara Raka menendang kaki Dimas di bawah meja. “Diam lo,” bisik Raka, meski senyum jahilnya tak bisa ditutupi. --- Setelah sesi belajar berakhir, siswa-siswa lain beranjak pergi. Namun Raka masih duduk, pura-pura membuka buku. Nayla membereskan catatan, berusaha tidak menoleh. “Nay,” panggil Raka akhirnya. Nayla berhenti, menoleh sedikit. “Iya, Kak?” “Bisa temenin aku belajar lagi nggak? Jujur, aku nggak ngerti-ngerti kalau cuma sekali.” Nada suaranya terdengar tulus kali ini, tidak seperti biasanya yang suka menggoda. Nayla terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Boleh. Besok sore, di perpustakaan lagi?” “Besok sore aku ada latihan basket. Gimana kalau di UKS? Sekalian kalau capek bisa rebahan.” “UKS?” Nayla mengernyit, tapi akhirnya setuju. Malamnya, Alya menelpon Nayla. “Ya ampun Nay, Kak Raka ngajak belajar di UKS? Itu kode keras loh!” “Kode apaan, Al. Dia cuma nggak ngerti pelajaran aja .” “Cieee, besok jangan lupa pakai lip balm, biar nggak kelihatan pucat!” Nayla hanya bisa menutup wajah dengan bantal, merasa campuran antara malu dan deg-degan. --- 🌸 UKS, Awal Kedekatan Keesokan harinya, UKS sepi. Raka sudah datang duluan, duduk di tepi ranjang sambil menunggu. Nayla masuk dengan membawa buku-buku. “Serius kamu bawa semua ini?” Raka menunjuk setumpuk catatan. “Belajar tuh harus serius, Kak.” “Hmm, aku lebih suka kalau gurunya serius tapi orangnya manis.” Nayla melotot, “Kak Raka!” Raka hanya tertawa, menunduk ke bukunya. “Bercanda. Yuk, mulai.” Beberapa jam mereka belajar, Nayla menjelaskan dengan sabar, Raka berusaha mengerti meski kadang salah lagi. Di sela-sela itu, mereka berbincang tentang cita-cita. “Kamu mau jadi dokter?” tanya Raka sambil menatap langit-langit. “Iya. Dari kecil pengen nolongin orang sakit.” “Bagus. Kalau gitu, nanti kalau aku jadi tentara dan ketembak, kamu yang obatin aku ya.” “Jangan ngomong gitu!” Nayla refleks menutup bukunya, wajahnya cemas. Raka menatapnya serius untuk pertama kalinya. “Aku nggak bercanda. Aku yakin kamu bakal jadi dokter hebat, Nay.” Ucapan itu membuat Nayla terdiam. Ada sesuatu di hati yang bergetar, lebih kuat daripada semua angka integral yang baru saja mereka pelajari. Tak disangka, pintu UKS terbuka pelan. Alya dan Dimas mengintip dari celah. “Lho, beneran belajar, Dim. Kukira udah…” “Ssshh!” Dimas menutup mulut Alya, menahan tawa. Mereka berdua cepat-cepat kabur sebelum ketahuan. --- Malam itu, saat menulis di buku catatannya, Nayla menuliskan sebuah kalimat kecil: Hari ini, aku sadar… belajar sama Kak Raka nggak cuma bikin ngerti pelajaran, tapi juga bikin jantung aku deg-degan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN