Bab 4 – UKS, Rahasia Kecil Kita

455 Kata
Sejak sesi belajar itu, UKS tak lagi sekadar ruang putih dengan ranjang sederhana. Bagi Nayla dan Raka, UKS jadi tempat aman — jauh dari tatapan guru, bisikan gosip teman, dan keramaian kelas. Sore-sore sepulang sekolah, Nayla akan muncul dengan buku catatan, sementara Raka sudah lebih dulu duduk di ranjang, kadang sambil ngemil biskuit sisa dari kantin. “Kalau ketahuan Bu Rini kita sering nongkrong di sini, bisa-bisa dikira bolos loh, Kak,” bisik Nayla sambil menata buku. Raka tersenyum miring. “Makanya, jangan bilang siapa-siapa ya. Ini rahasia kita. ingat ini rahasia kita ok." Kalimat itu sederhana, tapi jantung Nayla langsung berdegup lebih cepat. Mereka memang belajar, tapi selalu diiringi canda kecil. “Coba kerjain soal nomor tiga, Kak,” kata Nayla. Raka menulis, lalu mengangkat kertasnya. “Jawabannya 21.” “Ini integral, bukan perkalian 7 kali 3!” Nayla menahan tawa. Raka menggaruk kepala. “Makanya aku butuh kamu.” Kadang mereka serius, kadang malah bercanda sampai lupa waktu. Tapi yang pasti, setiap pertemuan membuat jarak di antara mereka semakin tipis. --- Suatu hari, Alya tak tahan lagi. Ia menghampiri Nayla di kelas. “Nay, jujur deh. Kamu sama Kak Raka itu sebenarnya belajar atau… belajar hati?” “Apaan sih, Al. Serius kok.” “Ah bohong! Aku sering lihat tatapan Kak Raka ke kamu. Itu tatapan orang suka, tau nggak?” Nayla terdiam, wajahnya panas. Ia tak berani mengaku, tapi dalam hati tak bisa menyangkal kalau ka Raka emang ada rasa dengannya. --- Lain waktu, Dimas sengaja masuk UKS tanpa mengetuk. “Eh, lagi belajar ya? Atau aku ganggu kencan nih?” Raka langsung melempar bantal kecil ke arahnya. “Keluar lo, Dim!” Dimas ngakak. “Santai, santai. Cuma mau ambil kotak P3K. Tapi serius, kalian cocok banget. Jangan lama-lama pura-pura nggak ada apa-apa, deh.” Nayla hampir menutup wajahnya dengan buku. Raka hanya geleng-geleng, tapi diam-diam merasa kalimat itu benar dan tersenyum miring. Suatu sore, hujan turun deras. Listrik di sekolah sempat padam, UKS jadi remang-remang. Raka dan Nayla duduk berdekatan, mendengarkan suara hujan menetes di atap seng. “Kamu nggak takut gelap, Nay?” Nayla menggeleng. “Enggak. Ada Kak Raka juga, kan.” Raka menoleh, menatapnya lekat-lekat. Ada sesuatu yang hampir terucap, tapi terhenti oleh suara pintu terbuka. “Eh, kok gelap banget?” Bu Rini masuk sambil menyalakan lampu emergency. “Kalian berdua ngapain di sini?” “Belajar, Bu,” jawab Nayla cepat. Raka tersenyum sopan. “Iya, Bu. Lagi bimbingan privat.” Bu Rini hanya mengangguk sambil tersenyum samar. Entah benar-benar percaya, atau pura-pura tidak ingin tahu. Malamnya, Nayla menulis lagi di buku hariannya: UKS jadi tempat favoritku. Bukan karena nyaman, tapi karena ada Kak Raka di sana. Rahasia kecil ini hanya milik kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN