Lapangan basket sore itu ramai. Matahari condong ke barat, sinarnya keemasan menyoroti para pemain yang sibuk berlari. Suara sepatu berdecit di lantai kayu, bola memantul keras, dan teriakan semangat terdengar dari tepi lapangan.
Alya menarik tangan Nayla.
“Ayo, Nay! Duduk di tribun. Kamu harus lihat langsung, Kak Raka kalau main serius itu keren banget.”
“Aku cuma nonton sebentar ya, Al. karena aq lagi Banyak PR ini.”
“Sebentar-sebentar, nanti juga lupa waktu!” kata alya.
Mereka naik ke tribun, duduk di barisan tengah. Tak lama, Dimas datang dengan kaos futsal, keringat masih menetes.
“Heh, kalian nonton latihan basket juga? Pas banget. Aku mau jadi komentator aja deh.”
Alya memutar bola mata. “Kak Dimas kan futsal, ngapain ikut-ikutan?”
“Lah, kalau nonton nggak boleh beda jurusan olahraga gitu?” Dimas terkekeh.
---
Sorakan di Tribun menggema semua cewe cewe pada heboh sambil teriak teriak Ayo raka Ayo raka raka raka...
Sedangkan pertandingan latihan berlangsung sangat sengit. Raka tampak berbeda: matanya fokus, gerakannya cepat, suaranya tegas memberi arahan. Ia bukan sekadar kakak kelas jahil, tapi seorang kapten Basket yang disegani teman temannya.
“GOAL! Maksudku, point masuk!” Dimas bersorak berlebihan hehehehe.
Alya menyikut lengannya. “Itu basket, bukan futsal. Bahasa aja salah!”
“Yang penting semangatnya!”
Alya tak mau kalah. “KAK RAKA SEMANGAT!!” teriaknya kencang.
Nayla menunduk cepat, wajahnya panas.
“Alya, jangan keras-keras…”
“Biar dia tahu ada fansnya!”
Raka sempat melirik ke tribun, senyumnya muncul sekilas. Tatapan itu membuat jantung Nayla berdebar tak karuan.
---
Matahari sudah tenggelam ketika latihan selesai. Para pemain bubar, tribun mulai sepi. Alya dan Dimas masih ribut kecil soal siapa pemain terbaik.
“Kak Raka jelas paling jago!” kata Alya mantap.
“Lah, kalau nggak ada aku yang kasih semangat, Raka juga nggak maksimal!”
“Kak Dimas ini halu banget.”
Mereka saling sindir sampai akhirnya berjalan pulang bersama.
Nayla masih duduk, membereskan buku catatan yang tak jadi ia buka. Tiba-tiba, Raka mendekat dengan handuk di lehernya. Nafasnya masih berat, keringat mengalir di pelipis.
“Kamu nonton dari awal?” tanyanya sambil duduk di samping Nayla.
“Hmm… iya.”
“Terus, gimana mainku?”
Nayla menoleh, sedikit gugup. “Serius banget… beda sama biasanya.”
Raka tertawa kecil. “Ya iya, kalau di lapangan aku harus tanggung jawab sama tim.”
Hening sebentar. Hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar.
“Kamu mau jadi dokter, kan?” tanya Raka tiba-tiba.
“Iya. Dari kecil pengen nolong orang sakit.”
Raka menatap langit-langit tribun. “Aku pengen jadi tentara. Sejak SMP udah kepikiran.”
Nayla menoleh cepat. “Tentara? Serius, Kak?”
“Iya. Capek latihan, jatuh, luka, itu biasa. Tapi aku pengen bisa jaga orang banyak, Nay.”
Nayla terdiam. Ada rasa kagum, tapi juga takut.
“Kalau tentara itu… berbahaya. Bisa aja Kak Raka—”
“Kenapa? Ketembak? Hilang?” Raka tersenyum tipis. “Itu risiko. Sama kayak dokter juga punya risiko. Tapi kan cita-cita kita bukan soal gampang atau nggak, tapi soal berani atau nggak.”
Nayla menggenggam catatannya erat. Kata-kata itu menusuk sekaligus menguatkan.
Janji Diam-Diam
Raka menoleh, menatap mata Nayla lekat.
“Kalau nanti aku berhasil jadi tentara, dan kamu jadi dokter… kita ketemu lagi, ya.”
Nayla terdiam. Dunia seakan berhenti. Hanya suara angin yang berdesir di telinga.
“Aku… iya, Kak.” suaranya nyaris berbisik.
Raka tersenyum puas, lalu berdiri. “Sip. Itu janji kita.”
Ia mengulurkan tangan. Ragu-ragu, Nayla menyambutnya. Hangat. Tegas. Seolah janji itu bukan sekadar kata, tapi pondasi untuk masa depan.
Dari kejauhan, ternyata Alya dan Dimas belum benar-benar pulang. Mereka bersembunyi di bawah tribun.
“AL!! Mereka janjian! Aku dengar jelas!” bisik Dimas, matanya berbinar.
“Ya ampun, akhirnyaaa!” Alya menepuk pipinya sendiri, setengah histeris.
“Kayaknya kita harus kasih mereka waktu, jangan ganggu dulu,” kata Dimas pelan.
Alya mengangguk. “Iya. Untuk sekali ini… biar mereka punya momen sendiri.”
Mereka berjalan menjauh, masih cekikikan.
“Eh, tapi serius, Al. Kalau Raka tentara dan Nayla dokter… kita jadi apa nanti?”
Alya menoleh, menatapnya heran. “Ya ampun, Kak Dimas. Kita fokusin sekolah dulu, kali!” udah ahh yukss balik.
Malam itu, Nayla menulis lagi di buku hariannya:
Hari ini aku lihat sisi lain Kak Raka. Bukan hanya kakak kelas jahil, tapi seseorang dengan mimpi besar. Dan aku janji… aku akan menepati kata-kataku.
Aku akan jadi dokter dan akan bertemu kembali di versi lebih baik semoga kita mimpi kita terwujud.
---