Tak terasa waktu cepat berlalu, kemaren sepertinya pertemuan pertama aku dengan ka raka ,tapi sekarang waktunya aku berpisah dengannya di sekolah... dan aku ga bisa jumpa dengannya setiap hari...hufttt hidup ini terus berjalan.
Hari itu aula sekolah penuh hiasan balon biru-putih dan rangkaian bunga kertas buatan adik kelas. Spanduk besar bertuliskan “Selamat Jalan Kelas XII – Terbangkan Mimpi Tinggi!” tergantung di dinding. Musik ceria sesekali terdengar, tapi hati banyak orang justru berat.
Semua siswa mengenakan seragam yang sudah penuh tanda tangan, coretan kenangan dari teman-teman. Suasana ramai tapi juga haru.
“Aduh Nay, aku nggak kuat! Rasanya baru kemarin kita masuk sekolah, sekarang udah perpisahan aja…” Alya mengelap air mata dengan tisu sambil heboh.
Nayla tersenyum tipis. “Al, kita kan masih kelas XI. Yang lulus mereka, bukan kita deh jangan lebay dah.”
“Ya aku tahu, tapi rasanya kayak ditinggal juga. Apalagi Kak Raka lulus! Kamu nggak sedih, Nay?!”
Nayla buru-buru menunduk, pura-pura sibuk menulis pesan di seragam Alya.
“Sedih, tapi kan… mereka harus lanjut hidupnya.”
Dari jauh, Dimas menatap Alya dengan senyum geli. Ia mendekat sambil bawa botol air.
“Nih, minum. Nanti kebanyakan nangis, dehidrasi.”
Alya merengut. “Aku tuh lagi sedih, Kak! Jangan bercanda.”
“Justru biar nggak kebawa suasana. Kalau kamu nangis terus, nanti yang lain ikut-ikutan.”
Alya menghela napas, tapi akhirnya menerima botol itu. “Yaudah deh… makasih.”
Sementara itu, Raka masih sibuk menandatangani seragam adik kelas yang minta kenang-kenangan. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia melucu. Tapi begitu melihat Nayla, wajahnya sedikit berubah. Ada sesuatu yang ia tahan.
“Nayla.” Ia mendekat, menyerahkan spidol. “Tolong tulisin sesuatu di bajuku.”
Nayla menatapnya canggung. “Tulisan apa ka ?”
“Yang penting dari kamu. Nanti kalau aku lagi capek, aku bisa baca.”
Tangan Nayla bergetar kecil saat menulis di punggung seragam Raka:
“Jaga dirimu baik-baik. Aku percaya kamu bisa wujudkan mimpi.”
Saat ia selesai, Raka menoleh. “Aku juga ada buat kamu.” Ia menulis di bagian lengan seragam Nayla:
“Jangan lupa janji kita.”
Nayla tercekat membaca itu. Seakan seluruh aula mendadak hening.
Di taman belakang setelah acara, mereka berempat berkumpul: Raka, Nayla, Alya, dan Dimas.
“Jadi, Kak Raka beneran mau daftar akademi militer?” tanya Alya dengan mata membesar.
“Iya. Doakan aja lancar.”
“Waaah! Nanti kalau ketemu kamu, panggilnya harus apa? Komandan Raka?” Dimas bercanda.
Raka melempar kertas ke arahnya. “Kocak lo, Dim.”
Lalu ia menatap Nayla serius. “Kamu juga, Nay. Jangan lupa fokus belajar. Masuk kedokteran itu nggak gampang.”
Nayla mengangguk, menahan senyum. “Pasti ka Aku ku bakal usaha.”
Alya tiba-tiba mendesah dramatis. “Duh, kita masih di sini, ya Dim. Kayak tersisa sendirian.”
“Ya bagus dong. Berarti kamu masih punya aku.”
Alya terdiam, menoleh ke Dimas. “Maksudnya?”
Dimas tersenyum santai. “Ya kan kita seangkatan. Siapa lagi yang bakal nemenin kamu kalau bukan aku?”
Alya mengerjap. Wajahnya merah, tapi buru-buru pura-pura marah. “Ih, Kak Dimas ngomongnya aneh!”
Mereka semua tertawa, meski hati masing-masing menyimpan rasa
Saat sore menjelang, semua siswa kelas XII mulai pamit. Beberapa saling berpelukan, beberapa menangis keras.
Raka berdiri di gerbang, menatap sekolah untuk terakhir kalinya sebagai siswa. Nayla menghampirinya pelan.
“Kak…”
Raka menoleh, tersenyum. “Aku pergi dulu, Nay. Tapi janji itu masih berlaku.”
Nayla menahan napas. “Aku tunggu.”
jaga diri baik- baik ka semoga berjalan lancar.
Mereka saling menatap sejenak. Tidak ada pelukan, tidak ada genggaman tangan. Hanya tatapan—cukup dalam untuk menyalakan api kecil di hati masing-masing.
Raka berbalik, melangkah pergi. Punggungnya tegak, langkahnya mantap.
---
Malamnya, Nayla menulis di buku hariannya:
Hari ini aku melihat Kak Raka melangkah pergi, mengejar mimpinya. Aku sedih, tapi juga bangga. Aku harus kuat. Karena suatu hari, aku ingin berdiri sejajar dengannya—dokter dan tentara, sesuai janji kami.
semoga mimpi dan cita-cita kita terwujud.
Sementara di tempat lain, Alya menulis di notanya:
Dimas itu nyebelin. Tapi entah kenapa, aku nggak bisa berhenti kepikiran omongannya tadi… “kamu masih punya aku.” Apa maksudnya tadi? Aneh ga sih dia hmmm..
Dan begitu masa SMA berakhir, cerita mereka pun baru saja dimulai.