Hari-hari Nayla di Sekolah sungguh sangat sepi dan Rindu yg dalam...
Setelah pengakuan tulus Raka di malam perpisahan SMA, hari-hari Nayla di sekolah terasa berbeda.
Ia masih belajar seperti biasa, bercanda dengan teman sekelas, mengerjakan tugas akhir, tapi ada sesuatu yang hangat di hatinya.
Setiap kali ia membuka buku catatan, ia teringat pada kata-kata Raka: “Aku nggak akan ninggalin kamu.”
Ia menulis di buku hariannya:
> “Entah kenapa, aku lebih bersemangat akhir-akhir ini. Mungkin karena aku tahu, ada seseorang yang benar-benar percaya sama aku dan seseorang yang sedang berjuang dengan mimpi dan cita-cita nya.”
Meski begitu, Nayla tidak langsung terbuka pada semua orang. Perasaannya pada Raka ia simpan rapat-rapat, seolah menjadi rahasia manis yang hanya ia dan Raka tahu.
dan sekarang di sekolah nayla berjuang bersama sahabatnya Alya untuk memperoleh nilai yang tinggi agar bisa masuk universitas yg diimpikan.
dan hari harinya nayla dihabiskan dengan belajar dan belajar tapi tidak lupa sesekali nayla juga jalan ke mall bersama Alya sahabatnya hanya sekedar nongkrong di Cafe.
Nayla duduk di kelas sambil menatap jendela, senyum kecil menghiasi wajahnya. Ia merasa hari-harinya lebih ringan sejak tahu ada Raka yang tulus
---
Di sisi lain, Raka menjalani hari-hari pertamanya di pusat pendidikan militer.
Bangun jam 4 pagi, baris di lapangan dengan teriakan instruktur, berlari membawa ransel berat, hingga latihan fisik tanpa henti.
Tubuhnya lelah, kakinya sering memar, tangannya kapalan, tapi setiap kali hampir menyerah, ia teringat wajah Nayla.
“Kalau aku kuat, aku bisa jaga dia. Aku nggak boleh nyerah.”
Raka berlari di lapangan latihan militer, peluh membasahi wajahnya, tapi ada keyakinan baru di langkahnya
Sesekali, saat malam menjelang, Raka duduk sendirian di barak, menatap bintang. Ia tersenyum kecil membayangkan Nayla yang mungkin juga sedang belajar untuk ujian.
> “Kita lagi di jalan masing-masing sekarang, Nay. Tapi aku janji, jalan ini bakal ketemu lagi nanti.”
---
Sementara itu, Alya mulai merasakan sepinya bangku kelas tanpa Dimas.
Sejak kelulusan, Dimas sudah sibuk dengan awal kuliah di universitas teknik ternama di luar kota. Mereka tak lagi bertemu setiap hari, tak ada lagi candaan khas Dimas yang selalu bikin ramai.
Alya sering menatap layar ponselnya, menunggu pesan Dimas. Sesekali mereka bertukar kabar, tapi ritme obrolan sudah tidak seintens dulu.
Di buku catatannya, Alya menulis:
> “Dulu aku pikir aku bisa biasa aja kalau nggak ketemu dia. Ternyata aku salah. Aku kangen.”
Meski ia belum berani menyebut perasaan itu dengan jelas, hatinya mulai gelisah.
Alya: di kamarnya, menatap ponsel dengan layar kosong, berbisik pelan, “Dimas… kapan kamu pulang?”
Apakah kangennya pada Dimas)?