bc

Nyonya Dari Ranjang Dosa

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
dark
contract marriage
one-night stand
family
HE
escape while being pregnant
fated
friends to lovers
badboy
blue collar
drama
tragedy
serious
city
office/work place
disappearance
addiction
actor
like
intro-logo
Uraian

Jelita Putri Caniago, seorang wanita penghibur, yang bekerja menjadi pemuas nafsu seorang pria-pria kesepian. Setiap malam selalu ada yang menggunakan jasanya.

Malam adalah tempat ia menjual tubuh dan mematikan perasaan.

Di ranjang-ranjang berbayar, ia belajar satu hal, tak ada cinta, dan yang ada hanya transaksi. Hingga seorang pria miskin bernama Snow datang dengan tatapan dingin dan menatapnya bukan seperti pelanggan lain.

Tatapannya terlalu dalam, seolah ingin memilikinya, bukan untuk membayarnya. Pria itu tak menawar tubuhnya dan menawar hidupnya dengan pernikahan.

Ia mengira itu hanya jalan keluar dari dunia gelap. Namun setelah menjadi istri, sentuhan sang suami berubah menjadi klaim. Cara pria itu memeluknya bukan seperti lelaki lain, melainkan seperti seseorang yang terbiasa menguasai segalanya.

Rahasia demi rahasia terbongkar, kekayaan, kekuasaan, dan obsesi yang disembunyikan rapi di balik pakaian sederhana.

Dari ranjang bayaran ke tahta pernikahan, ia terjebak dalam hubungan yang panas, berbahaya, dan tak memberi ruang untuk kabur.

Karena pria itu tak hanya menikahinya, ia juga memilikinya.

"Malam membawaku padanya, pernikahan mengurungku selamanya."

chap-preview
Pratinjau gratis
part 1. pelanggan pertama
The Rusty Anchor adalah sebuah bar tua dan minim yang ada di Zurich. Di dalam bar dan beberapa kamar memiliki masing-masing tamu. Semua wanita berdandan sebaik mungkin karena tugasnya memang menggoda. Di dalam bar tersebut, bau cerutu murah dan alkohol murahan memenuhi udara. Tapi, tidak dengan wanitanya. Wanita didalam sana mahal dan cantik-cantik meskipun mereka tinggal di tempat kumuh. "Melodi!" Suara Mami Rosa yang tajam menusuk gendang telingaku. Wanita itu menghampiri aku, matanya berkilat penuh rencana. “Iya, Mi?” "Ada tamu di Kamar 7. Dia baru, terlihat asing, tapi wajahnya ... ah, kau akan menyukainya. Cepat naik!” Aku menarik napas panjang. Ini adalah malam pertamaku setelah masa pelatihan yang mengerikan di bawah pengawasan Mami Rosa. Jelita adalah nama asliku dan namaku yang dikenal di dunia malam ini adalah Melodi. Mami Rosa memberikan nama Melodi padaku, setiap wanita penghibur juga mendapatkan nama samaran dari Mami Rosa. "Ingat aturannya, jangan seperti waktu itu," bisik Rosa sambil mendorongku menuju tangga kayu yang berderit. Aku terdiam, aku mengenakan pakaian yang begitu seksi, namun ya tetap saja aku terlihat tak nyaman. "Begitu masuk, lepaskan semua pakaianmu. Duduk di tepi ranjang. Jangan biarkan dia menunggumu bersiap. Jadilah suguhan yang siap santap. Mengerti?" Aku hanya mengangguk lemah. Kakiku terasa dingin saat aku menaiki anak tangga satu per satu. Di dalam Kamar 7 yang hanya diterangi lampu meja berwarna jingga redup, aku melakukan apa yang diperintahkan. Satu per satu helai kain jatuh ke lantai kayu yang dingin. Aku duduk di tepi ranjang, menyembunyikan tanganku yang gemetar di balik pahaku yang merapat. Tubuhku terasa asing di bawah paparan udara dingin, kulitku yang kecokelatan tampak eksotis di tengah ruangan yang kusam. Lalu tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang pria masuk. Ia tidak seperti pria-pria tua yang biasa berkeliaran di bar Mami Rosa. Ia mengenakan jaket parka gelap yang masih basah oleh sisa salju. Namun, saat ia melepas tudung kepalanya, aku menganga dan tertegun. Pria itu memiliki rahang yang tegas, rambut yang sedikit berantakan karena angin dan mata yang warnanya sedingin es di puncak Matterhorn. Pria itu berhenti tepat di ambang pintu. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada sosokku yang duduk tanpa helai benang di tepi ranjang. Bukannya langsung menerjang dengan nafsu, pria itu justru mematung. Ada kilat kemarahan atau mungkin rasa jijik yang melintas cepat di matanya. Karena pria itu kemari karena terpaksa, mungkin ya. "Pakai pakaianmu," ucap pria itu. Suaranya rendah, berat, dan memiliki otoritas yang tidak sinkron dengan pakaiannya yang sederhana. Aku mengerjap, bingung. "Mami bilang ... tamu ingin aku seperti ini." Pria itu melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan suara klik yang tegas. Ia mendekat, aroma dingin salju dan maskulin yang samar mulai memenuhi indera penciumanku. "Jangan berharap banyak padaku, Gadis Kecil. Aku di sini bukan untuk menerkammu dan aku tidak suka melihat wanita yang menyerah pada nasibnya sendiri." Aku merasa harga diriku tersengat. Aku mendongak, menantang mata baja itu. "Aku tidak butuh diselamatkan. Aku punya hutang yang harus dibayar. Jika kau tidak ingin melakukan apa pun, pergilah. Biarkan Mami mengirim orang lain." Pria itu menyipitkan mata. Tantanganku seolah menyulut sesuatu yang sudah lama aku tekan di dalam diriku. Pria itu bergerak cepat, dalam sekejap sudah berada di depanku. Tangan kasarnya yang dingin memegang daguky, memaksaku menatap lebih dalam. "Kau berani, tapi kau tidak tahu apa yang kau undang ke dalam ranjangmu malam ini," bisik pria itu. Napasnya hangat menerpa bibirku. Keangkuhan pria itu justru menjadi bensin bagi gairah yang terpendam. Aku tidak mundur, karena aku bekerja. Sebaliknya, aku menarik kerah jaket pria itu, membawa pria itu lebih dekat. Rasa takutku menguap, digantikan oleh dorongan aneh untuk membuktikan bahwa aku bukan sekadar barang rongsokan yang bisa diremehkan. Saat bibir kami bertemu, itu bukan sebuah ciuman yang lembut. Itu adalah sebuah ledakan. Pria itu balas menciumku dengan rasa lapar yang liar, seolah-olah ia telah berpuasa selama berabad-abad. “Kau nakal juga, Gadis Kecil,” ucapnya disela pagutannya. Tangannya yang besar mulai menjelajahi setiap inci kulitku, memberikan sensasi terbakar di tengah dinginnya Zurich. “Ahh, ouhh,” desahku. Di atas ranjang tua yang berderit itu, pertempuran dimulai. Pria itu sangat dominan, setiap sentuhannya adalah klaim, setiap gerakannya adalah perintah. Aku yang awalnya hanya ingin menyelesaikan tugas, justru menemukan diriku tenggelam dalam pusaran gairah yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Pria ini yang tampak miskin dan kusam memiliki kekuatan yang sanggup meruntuhkan seluruh pertahananku. Malam itu, di kamar kecil yang tersembunyi, pria itu tidak hanya memiliki tubuhku. Ia menanamkan sebuah obsesi yang mulai tumbuh di bawah kulitnya. Sementara bagiku, sentuhan Pria itu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup di tengah dunia yang sudah menganggapku mati. Pria itu yang tidak ku tahu namanya adalah pelanggan pertamaku setelah kemarin aku hampir di pulangkan ke Indonesia, karena tak mau melakukannya, namun aku harus melakukan semua ini demi hidup yang sulit dan nasibku yang tak bisa aku ceritakan kepada siapa pun. Aku di sini bekerja, walau harus melihat tubuhku di nikmati pria yang bukan suamiku. Aku harus melakukan tugasku, setelah tugas selesai aku akan mendapatkan fee dari Mami Rosa, dan ada bonus setiap bulannya. Hal itu membuatku mau melakukan semua ini. Napasku tersengal, dadaku naik turun dengan cepat di bawah cahaya lampu jingga yang temaram. Keringat tipis menyelimuti kulitku yang kecokelatan, berkilau seperti porselen mahal di tengah kusamnya kamar nomor tujuh. Di sampingku, Pria itu bangkit dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melepaskan badai gairah yang begitu liar. Pria itu juga melihat ada darah perawan milikku di ranjang itu. Ya aku memang masih perawan tingting. Pria itu duduk di tepi ranjang, membelakangiku. Otot punggungnya yang kokoh tampak menegang di bawah cahaya redup. Namun ternyata pria itu impoten. Keluar sebelum aku mencapai klimaks. Keheningan yang mengikuti kami bukan lagi keheningan yang kaku, melainkan sesuatu yang berat, penuh dengan tanya yang tak terucap. Pria itu menoleh sedikit, matanya yang sedingin es menyapu sosokku yang masih berusaha menata napas di balik selimut tipis. “Siapa namamu?” “Melodi,” jawabku. “Aku … Snow. Usiamu?” “24 tahun.” *** Flashback. Tiga bulan yang lalu, udara Jakarta terasa menyesakkan, tapi tidak sesesak dadaku saat aku melihat Ibu tiriku itu duduk di ruang tamu yang pengap bersama seorang wanita asing yang mengenakan mantel merah menyala. Kata Ibu, namanya Mami Rosa. "Jelita, ini kesempatanmu!" seru Ibu dengan binar mata yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, binar keserakahan. Aku memilih diam dan menunggu. "Rosa butuh staf administrasi di sebuah hotel besar di Zurich. Gajinya dalam Franc, Jelita! Bayangkan berapa banyak uang yang bisa kau kirim untuk pengobatan Ayahmu dan sekolah adik-adikmu." Aku menatap tangan Mami Rosa yang dihiasi cincin-cincin emas besar. "Tapi Bu, bagaimana dengan kuliahku S1-ku? Aku baru saja diterima." "Kuliah tidak akan memberi kita makan besok! Lagian kamu udah D3!" bentak Ibu, suaranya melengking tinggi, memecah keheningan rumah kami yang reyot. “Tapi—” "Jangan jadi anak egois. Kamu cantik, Jelita. Gunakan kecantikanmu untuk menyelamatkan keluarga ini. Rosa sudah mengurus semua dokumenmu. Kau berangkat minggu depan." Aku melihat amplop cokelat tebal berpindah tangan dari tas Mami Rosa ke tangan Ibu. Di saat itulah, jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu aku baru saja dijual. Namun, harapan palsu tentang bekerja di hotel tetap aku genggam erat sebagai satu-satunya pelampung di tengah badai kemiskinan. Perjalanan ke Swiss terasa seperti mimpi yang indah pada awalnya. Di dalam pesawat yang megah, Mami Rosa bersikap sangat manis. Mami Rosa memberikanku pakaian-pakaian hangat dan bercerita tentang keindahan danau-danau di Swiss. Namun, begitu kakiku menginjakkan kaki di Bandara Zurich, atmosfer berubah. Langit kelabu dan udara yang menggigit seolah memberi peringatan. Mami Rosa tidak membawaku ke sebuah hotel mewah, melainkan ke sebuah gedung tua di pinggiran kota yang suram, di atas sebuah bar yang berbau alkohol basi. "Mana hotelnya, Mami?" tanyaku, suaraku bergetar karena dingin. Mami Rosa berbalik, senyum manisnya hilang, digantikan oleh seringai tajam yang mengerikan. Ia menyambar tas pasporku dari tangannya. "Ini hotelmu, Jelita. Kamarmu di atas. Dan, pekerjaanmu? Pekerjaanmu bukan mengetik di depan komputer. Pekerjaanmu adalah membuat pria-pria di bawah ini merasa seperti raja." Duniaku runtuh seketika. "Nggak, Mami bilang administrasi—" "Administrasi tubuhmu sendiri!" Mami Rosa mendorongku hingga jatuh ke lantai kayu yang kotor. “Mami,” lirihku. "Kau tahu berapa banyak uang yang sudah kuhabiskan untuk membawamu ke sini? Kau milikku sekarang sampai hutang-hutang itu lunas. Jika kau berani kabur, polisi akan menangkapmu karena kau tidak punya dokumen. Paspormu? Dokumenmu? Ini milikku sekarang." “Jadi, Mami bersekongkol dengan Ibu?” “Ya. Ibumu butuh uang dan aku menyediakan uang itu, tentu saja harus ada jaminannya. Ada uang ada barang, bukankah begitu?” “Ini namanya penipuan.” “Tak ada penipuan, Sayang. Kamu salah besar, ibumu sudah menandatangani surat penyerahanmu padaku.” Aku pasrah, aku seolah kehilangan duniaku sendiri. Aku tertipu oleh tipu daya ibuku sendiri. “Oh iya, namamu di sini bukan Jelita. Tapi … Melodi. Setiap wanita penghibur dibawahku, akan ku beri nama samaran, itu yang bisa ku lakukan untuk kalian, agar nama kalian tidak ternoda.” Malam pertamaku adalah mimpi buruk yang nyata. Mami Rosa menyeret seorang pria berkumis tebal ke dalam kamarku. Pria itu tampak tidak sabar, tangannya sudah mulai meraba-raba bahuku. Aku mundur ke sudut ruangan, tubuhku gemetar hebat. Aku tidak bisa bergerak, aku juga tidak bisa melawan. Begitu pria itu mendekat dan mencoba merobek kancing kemejaku, aku meledak dalam tangisan yang begitu memilukan. Aku meraung, memohon, dan menyebut nama mendiang Ibu di tengah isak tangis yang menyesakkan d**a. Pria itu berhenti. Ia menatapku dengan perasaan campur aduk, antara kesal dan iba. "Sialan. Rosa bilang dia sudah siap. Aku tidak membayar untuk melihat pemakaman!" umpat pria itu dalam bahasa yang tidak aku ketahui. Tapi satu hal yang pasti raut wajah pria tua itu kecewa. Pria itu keluar dengan marah, membanting pintu, meninggalkanku yang meringkuk di lantai, menangis hingga mataku bengkak. Itulah malam di mana Mami Rosa menyiksaku dengan kata-kata, mengatakan bahwa aku adalah barang cacat yang tidak berguna. Flashback Off Ingatan itu membuatku tanpa sadar terisak kecil di atas ranjang. Di sampingku, Snow—pelanggan pertamaku yang akhirnya benar-benar menyentuhku dengan cara yang begitu intens—masih diam. Snow berbalik, melihat air mata yang mengalir di pipiku. Tidak ada rasa iba yang lembut, tapi ada kemarahan yang tertahan di matanya. Snow mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar menghapus air mataku dengan gerakan yang hampir terasa seperti sebuah ancaman sekaligus kepemilikan. "Jangan menangis untuk pria lain di depanku. Terutama bukan untuk masa lalu yang sudah membuangmu." Aku menatap Snow yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang dengan raut wajah yang tak bisa aku tebak. “Kamu sudah kehilangan semuanya setelah kamu menginjakkan kaki ke negeri ini, itu yang harus kamu bayar.” Snow berbicara dalam Bahasa Inggris. Untungnya aku adalah mahasiswi yang pintar, aku bukan hanya belajar Bahasa Inggris tapi juga empat Bahasa lainnya, termaksud China, Korea dan Jepang, karena impianku adalah bekerja menjadi pemandu wisata. Agar aku bisa ke luar negeri dengan orang lain yang aku pandu. Sekalian di gaji dan aku bisa jalan-jalan. Tapi lihat lah, aku ada di sini, impianku semuanya sirna.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
219.0K
bc

TERNODA

read
200.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
77.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook