Setiap malam, saat lampu-lampu kota Zurich mulai berpendar di balik jendela kaca raksasa, dunia luar seolah menghilang. Bagi Snow, kamar tidur kami adalah tempat perlindungan sekaligus tempat pembuktian yang paling rapuh. Ia tidak lagi menuntut dirinya untuk menjadi mesin yang sempurna, namun hasratnya untuk memilikiku secara utuh tidak pernah padam. Malam itu, Snow baru saja pulang dari kantor. Ia melepaskan dasinya dengan gerakan yang sedikit lelah, namun matanya langsung mencari keberadaanku di atas ranjang. Aku sedang membaca laporan bulanan yayasan saat ia duduk di tepi tempat tidur, menarik napas dalam-dalam seolah aroma tubuhku adalah penenang sarafnya. "Kau masih bekerja, Jelita?" bisiknya, tangannya merayap lembut ke pinggangku. "Sedikit lagi, Snow. Progres gedung baru sanga

