05 :: Balas Dendam

1445 Kata
Suara dering ponsel Rizkan yang menggema kuat di dalam kamarnya membuat tidur pria itu terganggu. Telinganya memang sensitif sekali ketika mendengar suara sekecil apa pun. Berbeda dengan Rizki yang tak menunjukkan pergerakan sama sekali walaupun suara tersebut terdengar begitu keras. Kalau kata ibu mereka, jika terjadi tsunami di saat mereka sedang tidur, Rizki yang akan mati terlebih dahulu karena terlambat menyelamatkan diri. Rizkan mengangkat tangannya ke atas, meraba nakas untuk mencari ponselnya yang sejak tadi masih terus berdering, mengalunkan lagu milik  Rhoma Irama yang berjudul Judi yang menandakan bahwa seseorang tengah meneleponnya saat ini. Jangan tanya kenapa ia memakai lagu tersebut sebagai nada dering ponselnya karena semua itu merupakan ulah Rizki. Kembarannya itu memang suka sekali mengotak-atik ponselnya. Mengubah apa pun sesuka hatinya. Rizkan melihat layar ponselnya dan menemukan nama adiknya muncul di sana. Ia lalu menekan tombol hijau sebelum menempelkan benda persegi panjang tersebut di telinganya. "Apa, dek?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. "Bang, nanti tolong ambilin bunga mawar yang Dara pesen waktu itu, ya? Yang untuk ulang tahun temen Dara. Kata Ayah, kami pulangnya nanti sore, pasti nyampenya malem. Tokonya entar keburu tutup. Tolong, ambilin ya, bang? Nanti Dara kirim alamatnya." "Hm." "Bang!" "Iya, dek, iya. Nanti abang ambilin." "Ya, udah itu aja. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," Rizkan langsung mematikan sambungannya lantas kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia kemudian mengusap wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih menggantung di kedua matanya lantas melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Beginilah kalau akhir pekan, ia selalu tidur lagi setelah salat subuh. Kalau Dara tidak menelepon, mungkin ia bisa bangun pukul dua belas siang nanti. Apalagi saat ini, kedua orang tuanya beserta Dara sedang pergi ke Medan untuk menghadiri acara pernikahan salah satu sepupunya. Suara gigi yang beradu yang terdengar di telinganya membuat Rizkan sadar bahwa tadi malam ia tidak tidur sendirian. Rizki juga tidur di kamarnya setelah mereka begadang sampai jam tiga pagi hanya untuk bermain game. Bukan mereka sebenarnya, karena Rizki baru tidur subuh tadi. Pria itu melanjutkan dengan menonton video p***o. Kembarannya itu memang aneh. Sudah setua itu masih saja suka melihat video-video seperti itu. Katanya sih, lebih baik nonton daripada buat video p***o sendiri. Rizkan bangkit dari tidurnya, memilih untuk menyudahi mimpi-mimpi indahnya yang menjadi bunga tidurnya semalaman ini. Kakinya kemudian melangkah menuju kamar mandi. Dan decakan pelan terdengar dari mulutnya saat ia melihat baju dan celana Rizki yang berserak di atas lantai kamarnya. Kembarannya itu memang memiliki kebiasaan yang unik. Dia tanpa sadar selalu membuka seluruh pakaiannya saat tidur sampai menyisakan celana dalamnya saja. Sebenarnya Rizkan juga unik, sih. Pria itu suka berjalan saat tidur walaupun saat ini kebiasaannya itu sudah hilang dari dirinya. Sekian menit Rizkan menghabiskan waktunya di kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia keluar dengan handuk yang melilit pinggang sampai lututnya. "Gue kalo tidur sama lo, berasa jadi pasangan homo." Rizkan yang baru ingin mengambil pakaiannya di dalam lemari, segera menoleh ke arah ranjang dan menemukan Rizki yang sudah bangun dengan rambut yang terlihat acak-acakkan dan wajah yang tampak mengantuk. "Yang nyuruh lo tidur sama gue siapa?" sahut Rizkan sambil memilih baju yang akan ia gunakan hari ini. "Riz, ambilin celana gue, dong. Mau balik ke kamar, nih," pinta Rizki yang tak menanggapi omongan Rizkan sebelumnya. "Ambil sendiri." "Gue cuma pake sempak doang. Nanti lo selera liat p****t gue yang seksi." "Najis!" balas Rizkan seraya masuk ke kamar mandi lantas menutup pintunya dengan sedikit keras. Sekembalinya Rizkan dari kamar mandi, ia masih melihat Rizki di sana, tetapi kini sudah lengkap dengan pakaiannya dan sedang sibuk dengan ponselnya. Entah apa lagi yang kembarannya itu lakukan terhadap ponselnya. Ia sudah bosan memarahi Rizki yang sangat menyebalkan. Punya kembaran seperti dia benar-benar menguji kesabaran. "Minggir lo! Gue mau beresin tempat tidur," usir Rizkan seraya melempar bantal ke arah Rizki yang berhasil mengenai kepala pria itu. "Gue mau cari sarapan. Lo mau apa?" tanya Rizki yang sudah bangkit berdiri. Rizkan sudah ingin menjawab, tetapi niatnya batal saat melihat seprai hitamnya basah di bagian yang tadi ditiduri oleh Rizki. "Lo ngompol, ya?" tanyanya kemudian. Rizki meletakkan ponsel Rizkan di atas nakas lantas menunjukkan cengiran lebarnya sambil mengusap tengkuknya. "Itu s****a gue." "Anjing! Lo mimpi basah?!" teriak Rizkan sambil melemparkan selimut yang tadi berada di tangannya ke lantai. Rizki cengengesan tak jelas, tak merasa berdosa sama sekali. "Tadi malem kan gue abis nonton bokep. Wajarlah kalo gue mimpi basah. Lagian, udah lama juga gue nggak masturbasi." "t*i lo! Babi! Lo cuci seprai gue!" Rizkan kembali berteriak, wajahnya tampak memerah karena kesal. Memiliki kembaran seperti Rizki benar-benar sebuah kutukan. "Iya-iya. Santai kenapa, sih. Lagian, cuma dikit, kok," gerutu Rizki dengan wajahnya yang menekuk sebal sembari mengambil seprai dan selimut Rizkan, membawa benda tersebut keluar dari kamar Rizkan sebelum kembarannya itu semakin mengamuk. Rizkan mengambil duduk di pinggir ranjang setelah Rizki keluar. Ia lantas memijat kepalanya yang terasa sedikit sakit. Ternyata benar apa yang orang katakan jika sudah mengenal mereka berdua. Mereka memang kembar dan memiliki paras yang hampir tak bisa dibedakan jika tidak dilihat dengan jeli, tetapi sifat keduanya benar-benar tak memiliki kemiripan sama sekali. Rizkan adalah tipe orang yang lebih serius. Berbeda dengan Rizki yang selalu bercanda di mana pun dan kapan pun. Mungkin hal itu terjadi karena pekerjaan mereka yang berbanding terbalik. Helaan napas berat keluar dari bibir Rizkan seiring dengan dirinya yang mengganti celana pendeknya dengan celana panjang lantas mengambil jaket, ponsel, dan dompet serta kunci mobil. Ia memutuskan untuk mencari sarapan sendiri saja pagi ini. Sekalian mengambil bunga milik Dara. Dan sekitar satu jam kemudian, Rizkan sudah berada di depan toko bunga yang diberitahu oleh Dara. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah dengan dua gerbang yang terbuka di sisi kanan dan kiri. Toko bunga itu sendiri terletak di bagian kanan rumah tersebut. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera masuk ke dalam. Dan betapa terkejutnya ia ketika matanya menangkap sesosok gadis yang telah membuatnya malu di kafe beberapa hari yang lalu. Gadis yang pernah datang ke rumahnya. Gadis yang ia ketahui bernama Geulis karena waktu itu Rizki memberitahunya saat bertanya kepadanya kenapa gadis itu mencarinya. "Cari apa ya, mas?" tanya Geulis dengan wajah datarnya. Geulis bukannya tak terkejut melihat Rizkan tiba-tiba muncul di toko bunga miliknya. Dan kenapa ia harus kembali bertemu dengannya? Karena setiap kali melihat wajah pria itu, ia kembali diingatkan dengan kejadian memalukan beberapa hari yang lalu—saat Rizkan mengatakan ada cabai di giginya. Ia benar-benar malu sekali. Ia sudah berharap bahwa pria itu hanya bercanda, tetapi saat ia berkaca, memang ada cabai di giginya. Sialan. "Ternyata kamu jualan bunga. Saya pikir kamu beneran jualan cabe," ucap Rizkan dengan senyum geli yang terkulum di bibirnya. Entah kenapa, melihat Geulis yang sekarang berubah jutek kepadanya membuat dirinya senang. Ia yakin gadis itu masih merasa malu akibat kejadian di rumahnya waktu itu. Dan ia tentu saja tidak akan melupakan hal itu begitu saja. Setidaknya, ia merasa impas karena telah berhasil membuat gadis itu malu. "Nggak usah sok akrab, deh," sahut Geulis seraya melirik Rizkan dengan sinis. "Jutek banget sih, mbak. Entar pelanggannya pada kabur, lho." Geulis memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Buruan deh, mas. Mas ke sini mau ngapain? Mau beli bunga atau nggak?" "Saya mau beli cabe," goda Rizkan, sambil memainkan alisnya. Entah apa yang terjadi dengannya sampai berani menggoda gadis itu. Ia memang suka menggoda sepupunya dengan memberi nama panggilan yang aneh-aneh, tetapi untuk menggoda orang yang bahkan dekat dengannya pun tidak, ia tidak berani. Namun, gadis ini berhasil memancing sisi jahilnya untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Rasanya lucu saja melihat gadis ini malu. Mungkin itu efek karena Geulis pernah membuatnya malu di depan banyak orang. Ia merasa puas karena dendamnya telah terbalaskan. "Pulang aja sana! Tokonya udah tutup!" balas Geulis dengan sengit yang lantas berbalik sebelum melangkah meninggalkan Rizkan yang sudah terbahak di tempatnya. "Maaf, ya. Anak saya lagi PMS kayaknya," ucap seorang pria paruh baya yang menghampiri Rizkan setelah Geulis masuk. Rizkan mengangguk dengan sisa-sisa tawa yang masih menghiasi bibirnya. Ia kemudian menunjukkan tagihan pembelian bunga milik Dara yang baru dibayar setengah. Setelahnya, ia mengambil beberapa tangkai mawar asli yang dibeli adiknya setelah melunasi semua bunga tersebut. "Terima kasih ya, Pak," ucap Rizkan yang lantas bergegas pergi dari toko tersebut. Selagi berjalan menuju mobilnya, ia sempat melirik ke belakang, dan matanya langsung menemukan Geulis yang saat itu tengah mengintipnya lewat jendela. Geulis yang merasa tertangkap basah oleh Rizkan, langsung menjulurkan lidahnya untuk meledek pria itu sebelum menutup gorden dengan kasar. Hal itu tanpa sadar membuat bibir Rizkan kembali membentuk senyum geli seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, takjub melihat tingkah Geulis yang menurutnya unik. Dan saat ini, rasa kesalnya yang tadi masih ia rasakan akibat polah Rizki, sekarang sudah berganti dengan kebahagiaan yang menyusup ke dalam hatinya. Ia juga bingung kenapa menggoda Geulis bisa semenyenangkan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN