06 :: Kenalan

1478 Kata
Geulis kembali ke ruangannya setelah membantu anak yang baru berusia enam belas tahun melahirkan anak pertamanya. Ia benar-benar tak mengerti dengan pergaulan anak zaman sekarang yang begitu bebas. Ingin menyalahkan sang pria, tetapi ia tahu kalau gadis itu melakukan hal tersebut dengan alasan suka sama suka. Dan sekarang, lihat hasil dari apa yang telah dilakukannya. Seorang anak lahir tanpa seorang ayah. Gadis yang seharusnya masih menikmati masa mudanya dengan belajar dan bermain bersama temannya, kini harus merawat bayinya seorang diri karena sang kekasih sudah melarikan diri. Masa depannya benar-benar telah hancur. Ia memang sudah sering berjumpa dengan remaja yang hamil di luar nikah, tetapi ia tetap saja tak bisa menahan rasa kesalnya saat melihat generasi penerus bangsa yang sekarang sudah hancur akibat pergaulan bebas. Kesal bercampur sedih lebih tepatnya. Dulu, saat ia masih seumuran gadis-gadis itu, jangankan making love, berdekatan dengan seorang pria dalam waktu yang cukup lama saja ia sudah merasa risi. Entah apa yang ada di dalam otak para gadis itu. Mau enaknya saja, tak memikirkan ke depannya akan jadi seperti apa. "Kantin yuk, mbak?" ajak Desy, salah satu rekan bidannya di rumah sakit tempatnya bekerja. "Ayo! Gue memang butuh makan biar rasa kesel gue ilang," jawab Geulis yang lantas mengajak Desy berjalan bersamanya menuju kantin. "Abis bantuin dedek-dedek gemes lahiran ya, mbak?" Geulis mengangguk cepat. "Iya. Sumpah ya, Des, pas bantuin lahiran tadi, rasanya gue pengen banget marahin itu anak. Masalahnya, dia buat bayi karena suka sama suka. Sebel banget gue." "Mungkin dia penasaran kali, mbak, sama pelajaran reproduksi di sekolahnya. Dia pengen praktek langsung." Geulis menghela napas panjang, berusaha meredakan amarah yang belum juga pergi dari dirinya. "Nggak ngerti lagi, deh, gue. Kayaknya otaknya udah pindah ke selangkangan." Desy hanya terkekeh pelan seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Merasa miris juga sebenarnya melihat para remaja yang tidak memasang gembok di k*********a. "Geulis!" Geulis yang merasa namanya dipanggil langsung menghentikan langkahnya lantas menoleh ke sumber suara, dan ia menemukan seorang wanita paruh baya yang tengah berjalan menghampirinya dengan senyum yang tampak begitu lebar. Kalau kata Desy, senyum Pepsodent. Sejenak, ia berusaha untuk mengingat-ingat siapa sebenarnya wanita itu. Dan setelah ia ingat, ia langsung berjalan mendekatinya. "Ibu, apa kabar?" tanya Geulis seraya mencium punggung tangan wanita itu. "Alhamdulillah, baik. Udah lama kita nggak ketemu, ya?" Geulis mengangguk dengan senyum yang bertengger di bibirnya. Wanita yang ia ketahui bernama Meli ini merupakan kenalannya saat wanita itu membawa istri dari keponakannya melahirkan di rumah sakit ini. Dan ia yang menjadi bidannya saat itu. Mereka menjadi dekat seperti ini karena Meli mempunyai usaha di bidang wedding organizer. Saat itu, banyak sekali teman Geulis yang meminta bantuannya untuk mencari jasa wedding organizer. Hal itulah yang pada akhirnya mempertemukan mereka kembali sampai membuat keduanya bisa menjadi dekat layaknya ibu dan anak. Apalagi Meli pernah meminta dirinya untuk menjadi bidan bagi menantu dan anaknya suatu saat nanti. "Ibu ngapain di sini?" tanya Geulis sembari menyuruh Desy untuk ke kantin terlebih dahulu. "Mau periksa. Telinga Ibu belakangan ini sering sakit." Geulis mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalo yang kayak gitu memang harus langsung diperiksa, Bu. Takutnya radang." "Bun, itu giliran Bunda periksa. Kalo udah tahu mau periksa jangan keluyuran ke mana-mana kenapa, sih." Satu suara yang menginterupsi pembicaraan antara Geulis dan Meli langsung membuat dua perempuan yang berbeda generasi tersebut menoleh ke sumber suara. Berbeda dengan Meli yang memasang wajah kesalnya, Geulis malah memasang wajah terkejutnya. Bagaimana tidak, orang yang menginterupsi mereka adalah Rizkan. Iya, Rizkan. Pria yang membuatnya malu. Astaga! Entah apa salahnya sehingga harus kembali dipertemukan dengan pria itu setelah berminggu-minggu lamanya ia mulai kembali hidup dengan tenang. Dan sekarang, ingatannya langsung berlari ke kejadian saat ia berkunjung ke rumah Rizkan. Sialan. Dan tadi Rizkan memanggil Meli dengan sebutan apa? Bunda? Ya Tuhan! Dunia ini memang sempit. Dan foto seorang wanita yang ia lihat di rumah Rizkan waktu itu adalah foto Meli. Pantas saja terasa tak asing di matanya. Ternyata ia memang mengenal wanita itu walaupun sudah lama mereka tak bertemu. Sama seperti Geulis yang begitu terkejut, Rizkan juga menunjukkan mimik wajah yang sama. Ia bahkan mengerjapkan matanya berulang kali untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa gadis yang tadi sedang berbicara dengan bundanya adalah Geulis. "Ini, kenalin dulu, Riz. Geulis, bidan yang waktu itu bantu Namira lahiran," ucap Meli saat melihat anaknya menatap Geulis dengan kedua matanya yang hampir keluar dari tempatnya. Rizkan menoleh ke arah bundanya. "Iya-iya, Bun. Udah sana masuk, itu udah giliran Bunda." Meli kembali memasang wajah kesalnya. "Punya anak kok galak banget," gerutunya yang lantas pamit kepada Geulis sebelum masuk ke ruang pemeriksaan. Geulis berdehem pelan sebelum bergegas untuk menyusul Desy yang sudah lebih dulu pergi ke kantin. Namun, belum ada selangkah kakinya bergerak, Rizkan sudah mencekal lengannya terlebih dahulu yang membuat dirinya mau tak mau berbalik untuk menatap pria itu. "Siapa, ya? Maaf, saya nggak kenal sama Anda," ucap Geulis dengan wajah datarnya seraya menarik lepas tangannya yang dicekal oleh Rizkan. Rizkan mendengus geli. "Kamu ngapain di sini? Jualan cabe?" Geulis menautkan alisnya, menatap Rizkan dengan api kekesalan yang berkobar di matanya. Tatapannya begitu tajam dan sengit sampai membuat Rizkan menaikkan sebelah alisnya. "Mulai detik ini, anggap aja kalo kita nggak pernah ketemu dan nggak pernah punya urusan apa pun," ucap Geulis dengan nada sinis yang tak ditutupinya sama sekali. Rizkan terkekeh pelan lantas memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sejak kejadian di kafe beberapa minggu yang lalu, seharusnya ia yang bersikap galak kepada Geulis saat ini. Namun, setelah kejadian di rumahnya waktu itu, semuanya seolah berputar arah. Tetapi entah kenapa, ia tak bisa berbohong kalau ia suka ketika melihat Geulis selalu marah-marah dengannya. Itu menjadi hiburan tersendiri untuknya. Ia tahu hal itu tak ada sangkut pautnya dengan hatinya. Ia yakin dirinya yang menyukai kemarahan Geulis karena ia bisa kembali melampiaskan sifat jahilnya kepada seseorang setelah dua tahun terakhir ini ia tak pernah mengusili siapa pun. Tepatnya sejak ia memergoki abang sepupunya yang selalu menjadi tempat penyaluran hasrat keisengannya berselingkuh dengan kekasihnya. Walaupun saat ini hubungan mereka perlahan mulai membaik sejak ia tahu bahwa abang sepupunya itu sudah berubah dan sudah berkeluarga, tetapi tetap saja, jarak di antara mereka tak akan pernah terkikis sampai habis yang pada akhirnya membuat keduanya menjadi canggung setiap kali bertemu. Itu sebabnya ia begitu senang saat menemukan mangsa baru untuk menerima semua kejahilan yang selama dua tahun ini terkubur di dalam dirinya. Sejujurnya, ia masih bisa mengusili sepupunya yang lain atau bahkan adiknya sendiri. Namun, ia yakin, sebelum menjahili mereka, ia sudah lebih dulu menjadi korban keusilan mereka. Karena ia merupakan anggota keluarga dengan sifat terlurus kedua setelah abang sepupunya itu yang membuat semua saudaranya senang mengganggunya. Ck! Ia memang dilahirkan dengan nasib yang kurang beruntung. "Kalo saya mau kenalan sama kamu gimana?" tanya Rizkan kemudian. "Kenalan sama saya bayarnya pake dolar," jawab Geulis dengan ketus. Terkekeh, Rizkan pun maju selangkah untuk memperpendek jarak di antara mereka. "Oke, saya minta maaf atas kejadian waktu itu. Dan sekarang, bisa nggak kita kenalan seperti orang pada umumnya?" Geulis sedikit memiringkan kepalanya seraya menatap Rizkan lamat-lamat, dan ia menemukan kesungguhan di sana. Tidak ada mimik wajah yang tampak sedang bercanda atau berusaha untuk menggodanya seperti yang lalu-lalu. "Kamu kenapa tiba-tiba jadi pengen kenalan gini?" tanya Geulis yang sekarang sudah memasang wajah curiganya. Rizkan mengedikkan kedua bahunya. "Cuma mau memperbaiki pertemuan pertama dan kedua kita yang ... yah, penuh dengan emosi," ia terkekeh pelan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Tapi kamu jangan geer dulu lho, ya. Saya ngajak kamu kenalan bukan karena saya tertarik sama kamu. Saya cuma nggak pengen ada dendam di antara kita setelah kejadian waktu itu." Geulis sempat mencibir sebelum diam selama beberapa saat untuk berpikir apakah ia harus menerima perkenalan yang ditawarkan oleh Rizkan atau tidak. Niat pria itu memang baik—untuk memperbaiki hubungan mereka agar hidup keduanya kembali aman dan damai. Dan pada akhirnya, ia pun menganggukkan kepalanya, setuju untuk berkenalan dengan Rizkan layaknya orang pada umumnya. "Saya Rizkan," ucap Rizkan dengan senyum lebarnya seraya mengajak Geulis berjabat tangan dengannya. Melihat senyum Rizkan, sudut-sudut bibir Geulis tanpa sadar juga ikut terangkat, membentuk senyum yang sama lebarnya dengan Rizkan. Ia kemudian membalas uluran tangan pria itu. "Saya Geulis." "Jangan lebar-lebar senyumnya, mbak. Nanti takutnya saya nemuin cabe lagi," ledek Rizkan yang lantas menarik tangannya, menyudahi acara jabat tangannya dengan Geulis. Di bibirnya, tampak senyum geli yang berusaha untuk ditahannya. Geulis mencibir Rizkan. "Udah kan, mas? Saya pergi dulu ya," pamitnya kemudian sebelum berderap meninggalkan Rizkan. Dan untuk kedua kalinya setelah Rizkan bertemu dengan Geulis, ia kembali merasakan perasaan bahagia yang menyusup ke dalam dirinya, menyalurkan perasaan hangat yang menenangkan jiwa. Kalau dihitung-hitung, sepertinya sudah tiga kali mereka bertemu tanpa disengaja. Ia tak mau menganggap pertemuan itu sebagai suatu pertanda apa pun karena ia sudah sering mengalami hal yang seperti itu walaupun baru Geulis yang diajaknya berkenalan. Ya, itu hanya kebetulan yang tak berarti apa pun. Mungkin setelah ini, mereka akan lupa karena tak ada lagi dendam yang bersarang di hati mereka akibat pertemuan awal mereka yang kurang menyenangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN