07 :: Tertarik

1946 Kata
Untuk kesekian kalinya mata bulat Geulis menatap pantulan dirinya di depan cermin kamarnya, meneliti sekali lagi tampilannya malam ini yang dirasa terlalu berlebihan. Dengan terusan semata kaki yang lebih cocok untuk dipakai di acara-acara besar, seperti pesta pernikahan misalnya. Namun, untuk kencan buta yang akan dilakukannya malam ini, pakaian seperti ini sangat tidak cocok. Apalagi, ia juga belum tahu seperti apa rupa teman kencannya nanti. Menghela napas panjang, Geulis memilih untuk mengganti pakaiannya saja. Ia berdiri di depan lemari, mencari baju yang lebih sederhana, tetapi tetap terlihat mewah. Dan pilihannya jatuh pada celana kulot hitam selutut yang dipadukan dengan crop tee berwarna cokelat muda. Senyum tampak mengembang lebar di bibirnya saat ia meneliti tampilannya saat ini, terasa begitu pas. Setelah memakai sepatu bertumit rendahnya, ia mengambil clutch-nya sebelum beranjak keluar kamar, menemui papanya yang sudah menunggunya sedari tadi. Ia memang akan melakukan kencan buta, tetapi tentu saja tidak sendirian karena ia akan ditemani papanya. Pasalnya, yang membuat acara kencan buta seperti ini adalah papanya sendiri. Papanya memang sering menjodohkan dirinya dengan mahasiswanya dulu yang sekarang sudah meraih kesusksesan. Apalagi alasannya kalau bukan karena Geulis yang sekarang sudah berumur dua puluh tujuh tahun. Umur yang sudah lebih dari cukup untuk menikah. Namun sayangnya, beberapa kali ia melakukan kencan, tak pernah ada satu pun pria yang membuatnya tertarik untuk meneruskan kencan mereka menjadi sebuah hubungan yang serius. Hal itu terjadi bukan karena ia penyuka sesama jenis atau apa pun itu. Ia hanya tidak ingin pergi dari papanya, meninggalkan pria yang telah mengurusnya selama ini seorang diri. Karena semenjak kedua orang tuanya bercerai, ia berjanji untuk terus hidup bersama papanya. Entahlah, ia hanya tidak ingin jauh dari papanya. Membagi rasa sayang dan cintanya kepada pria lain selain papanya. Itu sebabnya selama ini ia memilih untuk tak pernah menjalin kasih dengan pria mana pun, karena cintanya hanya untuk papanya seorang. "Lho, kenapa diganti bajunya?" tanya Husen-papa Geulis saat melihat putrinya yang keluar tidak dengan pakaian yang sudah dipilihnya tadi. "Ini cuma kencan, Pa. Bukan mau kondangan," jawab Geulis yang langsung menggandeng tangan sang papa lantas berjalan menuju mobil. "Tapi baju yang tadi bagus, lho. Kamu jadi tambah cantik." "Maksud Papa, Geulis nggak cantik gitu kalo pake baju ini?" "Enggak. Jelek kamu," ejek Husen seraya melajukan mobilnya menuju jalan raya. "Nyebelin," balas Geulis yang sudah menatap papanya dengan sengit yang membuat pria paruh baya itu tertawa. "Kalo kali ini kamu nggak cocok lagi sama laki-laki yang Papa pilih ini, udah deh, Papa angkat tangan aja." "Lagian, Papa kenapa ngebet banget sih pengen Geulis cepet-cepet nikah?" "Kamu udah dua puluh tujuh. Hidup udah enak, karir udah bagus. Apalagi memangnya yang mau kamu cari kalau bukan suami?" Geulis cemberut. "Geulis belum pengen nikah, Pa. Nanti kalo Geulis nikah, otomatis bakalan pindah rumah, ikut suami. Terus, nanti Papa sendirian dong? Siapa yang jagain Papa kalo Geulis pergi?" Husen tersenyum, sudah hafal dengan alasan anaknya yang tak ingin segera menikah. "Coba bilang sama Papa, kamu belum mau nikah karena apa?" "Ya, itu tadi. Geulis nggak mau ninggalin Papa sendirian." "Sepertinya kamu salah, nak. Kamu belum mau menikah bukan karena itu. Toh, setelah menikah pun, kamu tetap bisa tinggal sama Papa. Ajak suami kamu, Papa nggak keberatan. Papa tahu kamu belum mau menikah karena kamu takut jadi seperti Mama kamu, bukan?" Geulis terdiam, merasa telak dengan perkataan papanya barusan. Hal itu memang turut menjadi salah satu alasan kenapa ia belum mau menikah sampai saat ini. Dan bagaimana papanya bisa tahu? Selama ini, ia tak pernah menceritakan tentang rasa takutnya itu kepada sang papa. Tentang betapa takutnya ia saat berumah tangga nanti. Ia takut akan mengkhianati suami dan anaknya seperti yang dilakukan mamanya. Ia takut tak bisa menjadi setia seperti mamanya. "Kamu nggak akan jadi seperti Mama kamu, nak. Papa yang merawat kamu sejak kecil. Dan Papa tahu kalau kamu nggak akan pernah melakukan hal sepicik itu. Kamu anak Papa, dan kamu akan menuruni semua sifat Papa." Geulis hanya diam karena sibuk meresapi apa yang papanya katakan. Perkataan papanya memang benar. Ia anak papanya dan hanya tinggal berdua dengan papanya sejak kecil, sudah pasti ia akan menuruni sifat papanya. Namun, darah mamanya juga mengalir di dalam dirinya, tak memungkiri kalau ia juga akan menjadi seperti mamanya. Tidak setia hanya pada satu lelaki saja. Menggelengkan kepalanya, Geulis memilih untuk melupakan obrolan barusan. Ia tak suka membicarakan soal mamanya. Rasa kecewa yang bercampur dengan kebencian selalu memenuhi relung hatinya setiap kali berbicara mengenai topik seputar mamanya. Tak berselang lama, perjalanan yang hanya diisi dengan keheningan itu akhirnya berakhir saat Husen memarkirkan mobilnya di halaman parkir sebuah restoran yang sudah dijanjikannya dengan salah satu mahasiswanya dulu. "Namanya Teguh, PNS Bea Cukai," ucap Husen seraya keluar dari dalam mobil, memberitahu sedikit informasi kepada Geulis mengenai teman kencan anaknya nanti. Geulis hanya menganggukkan kepalanya lantas berjalan bersisian dengan papanya. Orang-orang yang dijodohkan dengannya memang rata-rata memiliki pekerjaan seperti itu karena papanya merupakan dosen di STAN yang otomatis mahasiswanya akan bekerja di bawah naungan Kementerian Keuangan. "Yang mana, Pa?" tanya Geulis saat mereka sudah masuk ke dalam restoran tersebut. "Itu, yang di meja nomor sembilan," Husen langsung menggandeng tangan Geulis lantas mengajak putrinya menuju meja yang saat ini sudah diisi oleh dua orang pria. Untuk kesekian kalinya, Geulis benar-benar tak mengerti dengan takdir yang belakangan ini suka sekali mempertemukan dirinya dengan Rizkan. Pasalnya, salah satu dari pemuda yang ada di meja nomor sembilan tersebut adalah Rizkan. Matanya tak mungkin salah. Ia ingat dengan wajah pria itu walaupun mereka sudah tak bertemu selama seminggu. Dan ia yakin bahwa Rizkan pasti juga merupakan mahasiswa papanya. Ya Tuhan! Sekali lagi ia harus berkata kalau dunia ini memang sempit. Isinya hanya ada keluarganya dan keluarga Rizkan saja. "Pak," sapa kedua pemuda yang ada di sana saat Husen mengambil duduk di antara mereka. "Nggak lama kan nunggu Bapak?" tanya Husen yang lantas menyuruh Geulis untuk mengambil duduk di sampingnya. "Enggak kok, Pak," jawab Teguh dengan senyum lebarnya. Tetapi tidak dengan Rizkan yang saat ini malah menatap Geulis dengan wajahnya yang tampak terkejut. Mengerikan. Untuk kesekian kalinya, ia kembali bertemu dengan gadis itu tanpa disengaja. Geulis menghela napas panjang, berusaha untuk tak menanggapi tatapan Rizkan yang tampak begitu penasaran dan mencoba untuk berpura-pura tidak mengenal pria itu saja. Toh, ia ke sini untuk bertemu dengan Teguh, bukan Rizkan. "Ini anak Bapak yang mau dikenalin sama Teguh?" tanya Rizkan setelah mereka semua memesan makanan. "Kenapa? Nyesel ya kamu? Kemaren Bapak suruh kenalan sama anak Bapak kamu nggak mau. Cantik kan anak Bapak?" Husen balik bertanya, nada suaranya terdengar jenaka. Husen memang pernah menyuruh Rizkan menjadi teman kencan Geulis setelah dua orang mahasiswanya tak ada yang membuat putrinya itu tertarik, tetapi pria itu menolaknya. Dan sekarang, ia memilih Teguh sebagai pengganti Rizkan. Menjadi teman kencan yang ketiga kalinya untuk putrinya. Jangan heran kenapa Husen bisa melakukan itu. Karena saat menjadi dosen, ia memang dekat sekali dengan mahasiswanya, layaknya kakak dan adik. Rizkan terkekeh pelan. "Kayaknya saya memang nyesel deh, Pak. Anak Bapak cantik banget," ucapnya sembari melirik Geulis yang sedari tadi terus menundukkan kepalanya. Husen dan Teguh sama-sama tertawa setelah mendengar perkataan Rizkan. Berbeda dengan Geulis yang sudah memasang wajah cemberutnya. Ia yakin pujian Rizkan barusan hanya untuk menggodanya. Ck! Bagaimana mereka bisa benar-benar bedamai kalau pria itu terus saja memancing emosinya. "Lagian kamu ngapain ngikut si Teguh coba? Yang mau Bapak kenalin sama Geulis itu si Teguh. Kamu cari meja lain sana. Ganggu aja," ucap Husen bercanda. "Tega banget sih, Pak. Saya mau deh dijodohin sama anak Bapak. Si Teguh suruh pulang aja. Kan kemarin Bapak minta saya duluan daripada Teguh," sahut Rizkan dengan wajah melas yang dibuat-buat, membuat Husen dan Teguh lagi-lagi tertawa. "Ribet banget lo. Coba tanya sama si Geulis langsung, dia mau pilih gue atau elo," usul Teguh. Husen menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum geli yang masih setia bertengger di bibirnya. Ia lalu menoleh kepada Geulis lantas melontarkan pertanyaan kepada putrinya itu. "Kamu mau yang mana, Lis?" "Apaan sih, Pa," jawab Geulis dengan wajahnya yang ditekuk kesal. Suasana hatinya berubah buruk sejak bertemu dengan Rizkan. Sepertinya mereka memang tidak bisa berdamai. Karena saat ini, ia semakin dendam dengan pria itu. "Sebenernya, Pak, saya udah pernah ketemu anak Bapak, ketemu tanpa disengaja lebih tepatnya. Sama kayak malam ini. Itu artinya saya sama anak Bapak jodoh kan, ya? Udah empat kali lho, Pak," Rizkan kembali berucap sambil melirik Geulis yang sedang menatapnya dengan galak. Entahlah, rasanya menyenangkan sekali bisa menggoda gadis itu. Apalagi sudah satu minggu ini mereka tak bertemu. Jujur saja, awalnya ia berpikir kalau ia akan lupa dengan Geulis setelah mereka bertemu di rumah sakit dan mencoba untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun, nyatanya ia malah terus memikirkan gadis itu. Mungkin hal itu terjadi karena ia hanya takut kehilangan mangsa barunya. Ya, hanya karena itu. "Udah pernah ketemu? Empat kali?" tanya Husen yang tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Rizkan mengangguk. "Saya bener-bener nggak tahu kalo Geulis ini anak Bapak. Waktu itu saya pernah beli bunga di tokonya Geulis. Saya nggak tahu kalo itu rumah Bapak karena setahu saya Bapak nggak tinggal di situ. Dan waktu itu juga yang ngejualin ke saya bukan Bapak, tapi dia nyebut Geulis sebagai anaknya." "Oh, itu. Bapak memang udah pindah rumah sejak satu tahun yang lalu supaya Geulis nggak capek bolak-balik kalo mau ke tokonya. Dan yang waktu itu jualin kamu, itu Pamannya Geulis. Dia memang sering ke rumah Bapak. Dia nggak punya anak. Jadi, selalu nganggap Geulis sebagai anaknya," jelas Husen. "Jadi, gimana, Pak? Bapak tetep mau ngenalin Geulis ke saya atau ke Rizkan?" tanya Teguh yang sejak tadi banyak diam. Husen tertawa ringan. "Biar adil, Bapak kenalin Geulis ke kalian berdua aja. Nanti tinggal terserah Geulis-nya aja mau pilih siapa." "Ya udah deh, Pak, saya ngalah aja. Lagian, saya sebenernya udah punya pacar, sih," Teguh meringis pelan di akhir kalimatnya. "Pacar?!" tanya Husen yang hampir berteriak. "Saya jelasin ya, Pak," kata Rizkan seraya menahan tawanya. "Jadi, saya bisa ada di sini karena Teguh yang ngajak saya. Sebenernya dia udah mau nolak tawaran Bapak, tapi dia sungkan. Dan dengan adanya saya di sini, dia bisa nolak dan ngasih alasan kalau saya yang akan gantiin dia nanti." Husen mendengus pelan lantas menatap Teguh dengan wajah garangnya. "Kamu ya, Teguh, dari dulu nggak pernah berubah." Teguh mengusap tengkuknya lantas menatap dosennya itu dengan senyum malunya. "Maaf banget, Pak. Saya nggak berani nolak Bapak. Nggak enak." Husen mencebik lantas menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalo kamu masih jadi mahasiswa Bapak, langsung Bapak suruh ngulang mata kuliah Bapak kamu." Teguh hanya cengengesan saja, berbeda dengan Rizkan yang sudah terbahak di tempatnya. Sementara Geulis, gadis itu duduk berpangku tangan sambil menatap sekelilingnya dengan bosan. Kalau seperti ini bukan kencan namanya, tetapi reuni antara mahasiswa dan dosennya. Seharusnya ia berhenti saja menuruti permintaan papanya untuk berkenalan dengan beberapa mahasiswanya. "Saya minta maaf kalau perkataan-perkataan saya tadi menyinggung kamu. Tapi serius, saya nggak bohong waktu saya bilang kalau kamu itu cantik." Geulis menoleh ke arah Rizkan saat menyadari bahwa pria itu sedang berbicara dengannya. Namun, saat ia menoleh ke samping, ia sudah tak menemukan Teguh dan papanya di meja ini. Saat ini, hanya ada dirinya dan Rizkan saja. Sepertinya ia terlalu asyik melamun sampai tak menyadari kepergian mereka. "Teguh pulang duluan. Papa kamu lagi nerima telepon di luar," ucap Rizkan saat melihat raut Geulis yang tampak kebingungan. Geulis hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja lantas kembali menoleh ke arah Rizkan. "Kamu ngomong apa tadi?" "Saya cuma mau minta maaf kalau perkataan-perkataan saya tadi ada yang menyinggung kamu. Dan saat saya bilang kalau kamu itu cantik, saya nggak bohong. Kamu memang cantik," ulang Rizkan. Ia lalu melanjutkan, "Waktu itu saya pernah bilang kalau saya nggak tertarik sama kamu, tetapi sepertinya saya salah. Karena saya sadar kalau saya memang tertarik sama kamu." Dan Geulis tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar pengakuan Rizkan barusan yang sukses membuatnya tercengang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN